Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Waspada! Ini Bahayanya Penyakit Anjing Gila

Anwar Bahar Basalamah • Selasa, 20 Juni 2023 | 17:38 WIB
(Ilustrasi: Afrizal/JPRK)
(Ilustrasi: Afrizal/JPRK)
Penyakit rabies atau anjing gila berbahaya. Penyakit hewan disebabkan virus itu tidak hanya menyerang anjing. Namun dapat menyerang hewan lainnya, juga manusia. Penyakit ini bisa menyebabkan kematian.

Rabies atau penyakit anjing gila adalah penyakit yang disebabkan virus. Virus tersebut ditemukan dengan jumlah yang banyak pada air liur. Nama virus tersebut adalah lyssavirus rabies.

Penyakit rabies ini merupakan penyakit zoonosa yang sangat berbahaya dan ditakuti karena bila menyerang manusia atau hewan akan berakhir kematian. Cara penularannya melalui gigitan. “Hewan akan menjadi agresif saat keracunan atau terkena rabies,” terang Dokter Hewan Asa Nadlarotunna’imma.

Hanya saja, saat hewan tersebut terkena rabies, selain bertindak agresif namun cederung bersembunyi ditempat yang gelap. Sebab jika terkena rabies, matanya akan sangat sensitif terhadap cahaya. Selain cahaya, hewan tersebut akan sangat sensitif terhadap air.

Photo
Photo
PEMERIKSAAN: Agar hewan peliharaan tidak terkena rabies, pemilik bisa melakukan suntik vaksin. (Foto: Habibah A. Muktiara/JPRK)

Nana menjelaskan, pada umumnya rabies secara alami terdapat pada bangsa anjing, kucing,monyet, kelelawar, dan karnivora liar. Masa inkubasi kurang lebih dau minggu sekitar 10 hingga 14 hari. Sedangkan pada manusia dua hingga tiga minggu dan paling lama satu tahun.

“Tahapan penyakit rabies pada anjing dan kucing dibagi dalam tiga fase,” imbuhnya. Dimulai dari faes prodromal. Pada fase ini hewan mencari tempat dingin dan menyendiri. Namun akan menjadi agresif dan nervus, bagian pupil mata akan meluas dan sikap tubuhnya kaku atau tegang.

Fase prodromal ini akan berlangsung selama satu hingga tiga hari. Setelah fase tersebut selesai, akan dilanjutkan fase selanjutnya yaitu eksitasi. Pada fase tersebut hewan menjadi ganas dan menyerang siapa saja yang ada di sekitarnya dan memakan barang yang aneh-aneh.

Selanjutnya mata menjadi keruh dan selalu terbuka dan tubuh “Kemudian  yang terakhir adalah fase paralisa, hewan mengalami kelumpuhan pada semua bagian tubuh dan berakhir dengan kematian,” kata perempuan alamuni Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Surabaya ini.

Agar tidak keliru, ada beberapa hal yang bisa menjadi tanda-tanda hewan terkena rabies. Pada hewan penyakit rabies ini dibedakan menjadi dua bentuk. Tanda-tanda bentuk diam, dan bentuk ganas.

Tanda-tanda bentuk diam adalah terjadi kelumpuhan pada seluruh bagian tubuh. Hewan tidak dapat mengunyah dan menelan makanan, rahang bawah tidak dapat dikatupkan dan air liur menetes berlebihan. Tidak ada keinginan menyerang atau mengigit. Hewan akan mati dalam beberapa jam.

Kemudian tanda - tanda Rabies bentuk ganas, hewan menjadi agresif dan tidak lagi mengenal pemiliknya. Menyerang orang, hewan, dan benda-benda yang bergerak. Bila berdiri sikapnya kaku, ekor dilipat diantara kedua paha belakangnya. Anak anjing menjadi lebih lincah dan suka bermain , tetapi akan menggigit bila dipegang dan akan menjadi ganas dalam beberapa jam.

“Sedangkan tanda rabies pada manusia, akan takut yang sangat pada air, dan peka terhadap cahaya, udara, dan suara,” terang Nana. Selain itu, air mata dan liur air liur akan keluar berlebihan, pupil mata membesar, bicara tidak karuan, selalu ingin bergerak dan nampak kesakitan. Selanjutnya ditandai dengan kejang-kejang lalu lumpuh dan akhirnya meninggal.

Photo
Photo
ANTISIPASI: Hingga saat ini belum ada obat untuk rabies. Yang bisa dilakukan oleh pemilik adalah melakukan pencegahan. (Foto: Habibah A. Muktiara/JPRK)

Usahakan Hewan Peliharaan Tak Kontak dengan Hewan Liar
Saat ini di Jawa Timur, kasus rabies di Kota Kediri termasuk yang bebas dari penyakit tersebut. Hingga kemarin belum ada laporan terkait penyakit anjing gila itu.  Meski begitu, bukan berarti membuat lengah. Sebab jika sudah terkena akan menyebabkan kematian. “Hingga saat ini masih belum ditemukan obat yang dapat mengobati penyakit rabies,” terang Dokter Hewan Asa Nadlarotunna’imma.

Karena belum ditemukan obatnya, yang bisa dilakukan saat ini adalah mencegahnya. Pencegahan tersebut dimulai dengan melakukan vaksinasi. Saat dilakukan vaksinasi rabies, diusahakan untuk mendapatkannya secara teratur. Dengan mengikuti jadwal yang ditentutkan oleh dokter.

Setelah dilakukan vaksin, usahakan hewan peliharaan ini tidak kontak dengan hewan liar. Sebab dari kasus yang saat ini sedang viral, anjing terkena rabies dimungkinkan tertular dari hewan di sekitarnya. “Biasanya penyebaran awalnya ini dari kelelawar, kemudian ke anjing, dan kucing,” imbuhnya.

Ketiga adalah melaporkan lembaga pengendalian hewan liar. Saat melihat peliharaan atau hewan bertindak agresif, jangan langsung melakukan kontak dengan hewan tersebut. Usahakan lapor kepada otoritas setempat, salah satunya petugas dinas kesehatan hewan.

Meski yang terkena rabies adalah hewan peliharaan namun tetap bisa menyerang pemiliknya. Sebab virus pada rabies dari golongan rhabdoviridae, jika masuk ke hewan akan menyerang ke sistem saraf pusat tepatnya dibagian otak. Dari otak tengah menyalur ke pernafasan, gerak dan sensitifnya.

“Lokasi tergigitnya ini menentukan berapa lama hewan mati saat terkena rabies,” kata perempuan asal Kecamatan Pare tersebut. Jika lokasinya dekat sistem saraf pusat, rata-rata dua bulan hingga satu tahun.

Pencegahan terakhir, segera mencari perawatan medis, saat digigit hewan yang belum diketahui status vaksinnya. Yang dilakukan adalah dengan mengobati luka dengan sabun, dan air mengalir selama 10 hingga 15 menit. Kemudian mencari perawatan media agar lebih tahu lebih lanjut.

Namun jika telah terpapar oleh hewan yang dicurigai terinfeksi rabies, segera hubungi penyedia layanan kesehatan untuk mendapatkan nasihat dan pengobatan yang tepat. Tindakan pencegahan setelah paparan meliputi pembersihan luka, pemberian vaksin rabies, dan sering kali pemberian imunoglobulin rabies (RIG) sebagai perlindungan tambahan.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah
#vaksin hewan #hewan peliharaan #satwa #kesehatan #rabies