Minggu pagi itu, suasana heboh terasa di salah satu sudut area GOR Jayabaya. Suara teriakan pemberi semangat keluar dari beberapa orang tua. Dengan menggebu beberapa pasangan suami istri itu memberi semangat pada anak-anak mereka yang beradu cepat di lintasan.
“Ayo semangat, lari sampai finish!” terisak seorang ibu di pinggir lintasan.
Di tengah teriakan-teriakan itu, seorang bocah justru menghentikan laju sepeda yang sama-sama mungil dengan dirinya itu. Tak memedulikan teman-temannya yang terus melaju menuju garis akhir. Sontak, bocah berpakaian hijau ini dihampiri oleh pria yang kentara sekali merupakan ayah si anak.
Setelah itu si anak seperti hendak kembali melaju. Mendorong sepeda mungilnya dengan hentakan kaki. Tapi, ketika melewati tikungan, bocah bernama Arthur itu kembali berhenti. Keluar lintasan dan menghampiri seorang anak yang tengah bermain dedaunan. Tak ayal, polah Arthur tersebut menyulut gelak tawa.
"Usia saat itu masih lucu-lucunya, suka seenaknya sendiri," ujar seorang wanita, mengomentari tingkah Arthur.
Wanita itu adalah Novita Saraswati. Dia adalah founder Jayabaya Push Bike, komunitas penggemar push bike di Kediri.
Push bike adalah sepeda yang tanpa dilengkapi pedal dan rem tangan. Untuk melajukan, pengendara harus dengan menghentakkan kaki. Demikian pula bila mengerem, juga menggunakan kedua kakinya untuk menahan laju sepeda berukuran kecil ini.
Penggunanya, tentu saja para bocah. Seperti anggota Jayabaya Push Bike, yang didominasi balita. Paling kecil usia dua tahun. Paling besar, usia sembilan tahun.
Mereka berkumpul seminggu tiga kali. Seperti di Minggu pagi itu, mereka berlatih di area GOR Jayabaya. Menggunakan salah satu ruas jalan di depan GOR. Mengisi jalanan dengan cone-cone aneka warna dan ukuran. Membentuknya berkelak-kelok, menjadi lintasan berpacu para push biker.
Para push biker yang berlatih itu dilengkapi perlengkapan safety. Ada pelindung kepala, siku, dan lutut. Sebagian bahkan mengenakan helm bermoncong, yang biasa disebut helm cakil. Mirip seperti yang dikenakan pengendara sepeda motor trail.
Para orang tua pun selalu hadir meramaikan pertemuan itu. Terutama di Minggu pagi, ketika anggota yang datang lebih banyak dibanding hari lain.
"Meski ada pelatih, namun tetap perlu pendampingan orang tua," kata perempuan asal Katang, Kabupaten Kediri tersebut.
Komunitas ini mulai berdiri September 2018. Yang mengawali adalah Novita, dengan dua anaknya, Gilang dan Rayyan. Awalnya hanya punya tujuh member. Kini, anggotanya sudah 70 rider. Mereka berasal dari banyak daerah. Tak hanya Kota dan Kabupaten Kediri saja. Juga dari Nganjuk, Jombang, dan Tulungagung.
Pandemi sempat mem-vakumkan komunitas ini. Memang, masih terus berhubungan tapi sebatas online. Latihan dilakukan di rumah masing-masing. Baaru setelah pandemi usai, mereka kembali bergerak. Mencari anggota baru. Apalagi, beberapa member sudah melebihi usia.
“Senang sekali, di sini banyak teman,” ucap Ahmad Gilang Nawaz Abdillah. Bocah ini siswa kelas tiga di sakag satu SD Islam. Adiknya yang bernama Muhammad Rayyan Atharrazka, enam tahun, juga ikut.
"Banyak sekali manfaat mengikuti komunitas ini," ungkap Sofyan Ariyanto. Pria ini ayah dari Arsy Amalia Zahra dan Shiha Amalia Zahra, 7 tahun. Sebelum mengikuti komunitas tersebut, anak kembarnya mudah menangis. Juga gampang takut bila bertemu orang.
Ketika ikut push bike, keduanya suka. Namun memang perlu proses untuk membiasakan diri. Seperti ketika awal mengikuti perlombaan, anak perempuannya menangis di garis start. Seiring berjalannya waktu sang anak punya percaya diri. Ketika terjatuh maupun disoraki orang, dia tak pernah menangis.
Keuntungan lain, para push biker ini juga jauh dari sifat handphone addict. Dengan berlatih sepeda semua energi mereka dihabiskan untuk latihan. Bahkan saat istirahat latihan mereka sibuk bermain dengan sepedanya. Tak sempat menggunakan gadgetnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah