Dalam video berdurasi sekitar dua menit yang beredar, Salami terlihat dibujuk oleh beberapa orang agar mau berangkat bersama jemaah lain. Tetapi, perempuan yang Senin lalu memakai kerudung hijau itu tetap bersikeras menolak.
dikelilingi beberapa petugas haji. “Nggak wani aku dewe, awakku kaya ngene. Aku tak muleh ae. (Aku tidak berani sendiri. Tubuhku seperti ini. Aku pulang saja, Red),” katanya.
Mendapat penjelasan Salami, beberapa petugas haji berusaha membujuknya. Mereka memastikan kondisi di Tanah Suci akan baik dan nyaman. Tetapi, dia tetap bersikeras menolak. “Wis ta, aku nggak berangkat. Duitku ya nggak tak jaluk (sudahlah, aku nggak berangkat. Uang biaya haji juga nggak tak minta, Red),” tegas Salami kepada sejumlah panitia haji yang mengelilinginya.
Dikonfirmasi terkait batalnya keberangkatan Salami, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Kediri Mohammad Qayyim melalui Kasi Penyelenggaraan Haji dan Umrah Tjitjik Rahmawati membenarkannya. Salami dinyatakan batal mengikuti ibadah haji tahun ini.
“Sebenarnya tidak semudah itu (untuk langsung minta pulang, Red). Harus melalui pemeriksaan dokter dulu. Dengan kejadian itu, terus dia diperiksa dokter,” kata Tjitjik.
Hasil pemeriksaan dokter, Salami memang direkomendasikan untuk melakukan perawatan lebih lanjut di Kota Kediri. Karenanya, dia diperbolehkan membatalkan keberangkatan dan melanjutkan pengobatan.
Apakah Salami masih bisa menunaikan ibadah haji? Tjitjik menyebut, status saat ini adalah menunda keberangkatan. Sehingga dia masih bisa berangkat haji tahun depan. “InsyaAllah pokoknya dia sudah sehat, ya boleh untuk maju lagi,” terang Tjitjik.
Selebihnya, menurut Tjitjik kemenag menyerahkan keputusan kepada keluarga Salami. “Kalau untuk penggantian, masih harus menunggu regulasi tahun depan,” urainya.
Untuk diketahui, jemaah kloter 32 yang berisikan jemaah asal Kota dan Kabupaten Kediri serta Kabupaten Blitar keluar dari Asrama Haji Sukolilo pukul 18.35, Senin (5/6) lalu. Dengan penolakan tersebut, Salami tetap tinggal di asrama haji. Tidak ikut rombongan menuju Bandara Juanda.
Terpisah, Pembimbing KBIH NU Kota Kediri Abu Bakar Abdul Jalil yang membimbing Salami menyebut, keputusan Salami untuk pulang ke Bandarkidul disinyalir karena lansia itu baru saja kehilangan anaknya. “Tiga hari sebelum berangkat (31/5), anaknya yang biasa menemani (Salami, Red) wafat saat mendampingi siswanya di kegiatan Porseni,” jelas pria yang akrab disapa Gus Ab tersebut sembari menyebut Salami juga sudah pikun.
Sementara itu, jika satu CJH Kota Kediri batal berangkat, ribuan CJH Kabupaten Kediri telah mendarat di Bandara Internasional Pangeran Mohammad bin Abdulaziz Madinah, Arab Saudi kemarin. “Alhamdulillah, seluruh jemaah dalam kondisi yang sehat,” ujar Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Kediri Achmad Faiz.
Kedatangan jemaah di Madinah berlangsung secara bertahap. Sesuai dengan urutan keberangkatan kelompok terbang (kloter) masing-masing. Jemaah di kloter 29 tiba Senin (5/6) sore pukul 18.00. Kemudian, kloter 30 mendarat sekitar pukul 03.00 dini hari. Disusul kloter 31 yang mendarat sekitar pukul 06.00 Waktu Arab Saudi (WAS).
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah