Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Sebelum Bumi Hangus, Tentara Genie Pelajar Ikut Mendata Aset Vital

Anwar Bahar Basalamah • Selasa, 6 Juni 2023 | 16:49 WIB
PENANDA SEJARAH: Monumen TGP dibuat di pojok SMPN 4 Pare. (Foto: Andhika Attar)
PENANDA SEJARAH: Monumen TGP dibuat di pojok SMPN 4 Pare. (Foto: Andhika Attar)
Perjanjian Renville yang menguntungkan Belanda, diantisipasi oleh TNI. Salah satunya dengan strategi bumi hangus.

Pasukan TNI berusaha mempersiapkan diri dengan baik untuk menghadapi agresi militer Belanda. Berbagai kekuatan dikumpulkan. Lini-lini pertahanan diperkuat. Terlebih setelah ‘kemenangan’ Belanda dalam perjanjian Renville, 17 Januari 1948.

Pasalnya, ada kekhawatiran pasukan Belanda bertindak semena-mena di Tanah Air. Oleh karena itu, Panglima Besar Jenderal Soedirman mengeluarkan maklumat yang terdiri dari beberapa poin. Antara lain tidak melaksanakan pertahanan linear, membangun kantong perlawanan gerilya, dan memperlambat pergerakan musuh.

“Memperlambat pergerakan musuh ini termasuk dengan melakukan bumi hangus,” ujar Kangko Bambang Prasetyo, anggota Ikatan Keluarga Besar (IKB) eks Tentara Genie Pelajar (TGP).

Kangko menyebut, maklumat tersebut langsung diterjemahkan oleh jajaran TNI. Termasuk jajaran TGP Brigade XVII sebagai pengemban tanggung jawab untuk melakukan upaya menghambat lawan. Dengan cara melakukan bumi hangus di Pare dan sekitarnya.

Kala itu, pasukan TNI Batalyon Merak memerintahkan pasukan TGP turut serta melakukan pendataan aset-aset vital yang ada di Pare dan sekitarnya. Pendataan tersebut dilakukan untuk mengetahui letak wilayah yang menjadi target operasi tentara penjajah.

Tidak hanya itu, pendataan ini juga dilakukan untuk mengetahui aset mana saja yang perlu dihancurkan jika terpaksa melakukan strategi bumi hangus. Dalam pendataan tersebut, pasukan TGP mengumpulkan informasi secara detail. Mulai dari bentuk, ukuran, kekuatan, hingga bahan dari bangunan tersebut.

Hal ini dilakukan untuk memudahkan pasukan dalam menentukan jenis dan jumlah alat ledak yang digunakan. “Dengan informasi dan data yang jelas, pasukan jadi mudah menentukan pergerakan,” tutur Kangko.

Berdasarkan buku ‘Serangan Oemoem 22 Mei 1949 Kota Pare’, Kangko menyebut ada beberapa aset vital yang masuk dalam pendataan tersebut. Antara lain stasiun KA, Pos PETA, pertokoan, dan gudang pangan yang ada di Pare. Selain itu, ada beberapa jembatan yang juga didata. Yakni jembatan Pare-Wates, Pare-Kandangan, dan Pare-Jombang. “Ada juga pabrik gula dan kopi,” tandas Kangko.

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #berita viral #cerita sejarah indonesia #berita hari ini #serangan pare 1949 #sejarah