Saat Serangan Umum 1949, SMPN 4 Pare Jadi Tempat Diskusi dan Atur Strategi

Anwar Bahar Basalamah • Dipublikasikan Senin, 5 Juni 2023 | 18:20 WIB
MASIH TERAWAT: Budi Hartoyo mengecek kondisi peralatan peninggalan ST Pare di SMPN 4 Pare. (Foto: Andhika Attar/JPRK)
MASIH TERAWAT: Budi Hartoyo mengecek kondisi peralatan peninggalan ST Pare di SMPN 4 Pare. (Foto: Andhika Attar/JPRK)
Sekolah Teknik (ST) Pare menjadi tempat vital dalam peristiwa serangan umum 22 Mei 1949. Sekolah ini tidak hanya menjadi markas pejuang saja. Melainkan juga menjadi tempat berdiskusi dan mengatur strategi.

ST Pare kini menjadi SMPN 4 Pare. Selayaknya lembaga pendidikan pada umumnya, sekolah ini memiliki fokus pada bidang keilmuan. Selain itu, pada masa pertahanan kemerdekaan, sekolah ini juga menjadi markas pasukan Tentara Genie Pelajar (TGP) di Pare.

Seperti diketahui, pemilihan ST Pare sebagai markas tidak lain karena tempat tersebut memiliki peralatan pembuatan logistik. Bahkan, di sana juga menjadi tempat untuk diskusi oleh pasukan bersama kelompok masyarakat lainnya. “Banyak hal yang dibahas atau didiskusikan,” ujar Hendro Widjonarko, guru sejarah SMPN 4 Pare.

Lebih jauh Hendro menuturkan, bahasan yang sering menjadi topik diskusi adalah tentang nasionalisme dan kebangsaan. Diskusi tersebut juga kerap didatangi oleh siswa-siswa ST lainnya. Selanjutnya, ST Pare juga sering menjadi tempat menyusun strategi untuk melancarkan operasi.

Dia menegaskan, untuk urusan strategi dan operasi tetap berada di bawah wewenang pasukan TNI. Yaitu Batalyon Merak. “Jadi di ST Pare ini dulu menjadi tempat membuat senjata dan menyusun strategi juga,” terang pria asal Desa Kedungmalang, Kecamatan Papar tersebut.

Beberapa peralatan yang digunakan untuk membuat amunisi dan senjata juga masih tersimpan di SMPN 4 Pare hingga kini. Seperti generator dan mesin bubut. Tak hanya itu, sekolah ini juga menjadi tempat pelatihan pembuatan bahan peledak atau mesiu. “Pelatihan ini tidak saja untuk pasukan TGP, tapi juga TNI dari detasemen zeni,” tutur Kangko Bambang Prasetyo, putra dari ex-TGP di bukunya, Serangan Oemoem 22 Mei 1948 Kota Pare.

Kongko menyebut ada beberapa tokoh di balik pelatihan dan pembuatan logistik pertempuran itu. Antara lain Ir Nowo Djoyo Sentono, Kaswadi, dan Supomo Aslar. Di bawah kepemimpinan mereka, ST Pare menjadi markas pertahanan di bagian timur Sungai Brantas.

Di ST Pare pasukan diajarkan berbagai keterampilan membuat logistik pertempuran. Hal tersebut semakin mudah karena mereka juga memiliki dasar sebagai siswa teknik. Sehingga sudah tidak asing lagi saat mengoperasikan peralatan-peralatan tersebut.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah
serial serangan Atur Strategi diskusi sejarah