Ada Sumur Rahasia di SMPN 4 Pare, Ini Fungsinya saat Serangan Umum 1949

Anwar Bahar Basalamah • Dipublikasikan Rabu, 31 Mei 2023 | 16:41 WIB
(Foto: DOK. IKB Ex-TGP for JPRK)
(Foto: DOK. IKB Ex-TGP for JPRK)
Seksi fabrikage Tentara Genie Pelajar (TGP) di Pare memiliki cara unik dalam menyembunyikan logistik tempur. Terutama peledak maupun bahan ledaknya. Yaitu dengan menggunakan sumur-sumur rahasia.

Sekolah Teknik (ST) Pare merupakan cikal bakal SMPN 4 Pare sekarang ini. Namun, dulu bentuk maupun luas bangunannya tidak seperti sekarang. Ruangan kelasnya sangat terbatas. Lebih mirip dengan aula. Karena antara satu ruangan dengan ruangan lain langsung tersambung.

Guru sejarah SMPN 4 Pare Hendro Widjonarko mengatakan bahwa beberapa bangunan ST Pare sampai saat ini masih dipertahankan. Seperti ruang kelas yang berada di bagian depan. Yang masih dimanfaatkan untuk proses belajar-mengajar.

Kembali ke masa lalu, karena keterbatasan ruang, pasukan TGP tidak dapat menyimpan banyak peralatan maupun logistik tempur. “Dulu ruangannya tidak cukup kalau juga digunakan tempat menyimpan logistik yang ada,” terang Hendro.

Alhasil, barang jadi seperti body bomb peninggalan Jepang maupun buatan seksi fabrikage disimpan di tempat khusus. Setelah melalui diskusi panjang, akhirnya diputuskan untuk menyimpan logistik tersebut di beberapa sumur rahasia. Mereka menganggap menyimpan benda-benda itu di sumur-sumur yang tersembunyi sebagai upaya paling ideal.

Keberadaan sumur rahasia tidak hanya menyelesaikan permasalahan keterbatasan ruangan saja. Juga memiliki unsur aman. Sehingga apabila sewaktu-waktu ada serangan dari pihak lawan, logistik tersebut tetap tersimpan rapi.

“Kalau pasukan diserbu pas tidak siap, logistiknya tetap tidak ketahuan,” tuturnya.

Dia mengatakan, ada beberapa sumur yang digunakan pasukan TGP untuk menyimpan logistik tersebut. Namun, sumur yang diketahui dan masih tersisa hingga sekarang hanya satu. Yakni berada di badan monument TGP di kawasan SMPN 4 Pare.

Pria asal Desa Kedungmalang, Kecamatan Papar ini mengisahkan bahwa sumur tersebut banyak terdapat logistik tempur. Tidak hanya alat maupun bahan peledak saja. Namun juga senjata dan amunisi yang digunakan bertempur melawan tentara penjajah.

“Itu menjadi salah satu bukti sejarah yang ada,” tandas Hendro.

Untuk diketahui, ada beberapa sistem pengeboman yang diproduksi oleh seksi fabrikage kala itu. Antara lain model detonator tarik, listrik, sumbu api, dan diledakkan secara mekanis dengan perangkap. Penggunaan dari sistem tersebut disesuaikan dengan bahan dan model peledak.

Seksi fabrikage memiliki tugas yang relatif berat. Tidak hanya itu, mereka juga memiliki faktor risiko yang tinggi. Terlebih pada saat pemindahan atau transportasi. Dari lokasi pembuatan ke tempat penghadangan atau pertempuran yang telah ditentukan. Risiko besar itu dikarenakan peledak yang dipasang memiliki berat antara 25 kilogram (kg) hingga 50 kg. Bahkan, ada peledak atau bom yang memiliki berat sampai 200 kg.

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah
radar kediri berita viral berita terbaru berita hari ini serangan pare