“Kenapa masyarakat masih percaya perdukunan, sebenarnya secara psikologis mereka itu saat mengambil keputusan ada beberapa pertimbangan,” terang Psikolog Klinis Imadatus Saadah.
Pertimbangan tersebut didapat dari pengetahuan mereka selama bertumbuh dan berkembang. Dalam kasus ini, seseorang yang memutuskan pergi ke dukun berarti sebelumnya sudah mencari informasi terkait hal tersebut. “Dan belief (kepercayaan) yang didapatkan dari kecil ini tidak cukup meng-counter keputusan yang akan diambil,” paparnya.
Contohnya seperti ketika seseorang pergi ke dukun, selain sudah mendapat informasi tetapi value atau belief yang didapatkan dari kecil ini tidak mampu untuk meng-counter keputusan yang diambilnya. Secara spiritualitas berpikir bahwa pergi ke dukun adalah salah satu ikhtiar. Sehingga menganggapnya tidak apa-apa.
Hanya saja jika seseorang memiliki agama dan pemahaman spiritualitas lebih baik. Nantinya dia akan memilah dan memilih terlebih dahulu saat ada input atau saran yang masuk untuk pergi ke dukun. Dengan menimbangkan perbuatan yang dilakukan tersebut menyalahi aturan di agama, atau berdosa atau tidak.
Sehingga beberapa orang dengan modal pemikiran atau pemahaman agama yang baik, dan bisa memilih atau memilah. Saat disarankan pergi ke dukun, maka tidak akan dilakukan. “Secara psikologis, orang akan memutuskan sesuatu dipengaruhi oleh keyakinan yang dianut sejak kecil. Seberapa banyak yang dia mampu cerna dan terapkan hingga masukan dikatakan oleh orang lain yang masuk di otak mereka,” kata dosen Psikologi Klinis IAIN Kediri ini.
Menurut Ima, dari kedua hal tersebut kalau seseorang tersebut lebih mengutamakan belief atau keyakinannya tentang agama. Maka dapat memilah mana yang baik dan benar, rasional dan tidak rasional, hingga suatu hal yang mungkin dan tidak mungkin. Namun apabila seseorang terjebak emosi yang menginginkan sesuatu secara instan, dan tidak mau berusaha lebih kuat. Membuat pergi ke dukun adalah salah satu jalan keluar cukup menjanjikan bagi mereka yang percaya. “Apakah benar hanya orang pendidikan atau menengah kebawah yang mengalami hal tersebut ? Ini tidak benar, karena dalam kondisi tertentu seseorang akan kehilangan rasionalitasnya,” ungkapnya.
Saat seseorang dalam kondisi terdesak, tertekan, atau situasi tertentu dapat membuat kehilangan pemikiran irasional. Karena dalam kondisi menginginkan sesuatu secara cepat, membuat orang tersebut tidak dapat memilah dan memilih jalur yang tepat, benar, rasional, dan benar. Sehingga mereka cenderung melakukan hal tersebut tanpa berpikir panjang. Meskipun pendidikannya tinggi.
Karena seseorang yang memiliki pendidikan tinggi hanya pada ilmu tertentu yang didapatkan. Namun stres yang diberikan dalam keseharian, mereka tidak cukup mampu membuat strategi penyelesaian. Di saat orang tertekan dan tidak punya tempat berkonsultasi, atau kekuatan spiritual tinggi orang tersebut akan mencari cara lain yang cepat dan instan. Dengan pemikiran tersebut, dapat mudah dimasuki rayuan dukun atau rayuan siapa saja yang ingin memanfaatkan situasi sulit tersebut.
“Sehingga tidak semua orang berpendidikan rendah ini tidak rasional,” ungkap perempuan asal Kecamatan Banyakan ini. Sebba, yang spiritualnya bagus selalu menyertakan Allah dalam menyelesaikan masalah. Sehingga tidak terkecoh rayuan yang bisa merugikan.
Menyerang Alam Bawah Sadar dengan Rayuan dan Kata-Kata
Ada proses seseorang terjebak atau terkena gendam atau dipengaruhi orang-orang tertentu. Dalam kasus ini seseorang diserang melalui kata-kata hingga rayuan. “Memang ini menyerangnya di alam bawah sadar, mereka ini dipermainkan oleh kata-kata dan rayuan sehingga tidak sempat berpikir panjang,” terang Psikolog Klinis Imadatus Saadah.
Dengan kondisi tidak dapat berpikir panjang membuatnya langsung memutuskan menggunakan jalan tersebut. Untuk orang-orang tersebut memang tidak bisa langsung menyuruhnya langsung sadar. Sebagai orang terdekat tidak bisa memerintah untuk seseorang tersebut untuk membuka mata, telinga, dan hati dengan apa yang sedang terjadi. “Karena proses mereka mencerna informasi tersebut sangat kuat, sehingga untuk meruntuhkannya tidak bisa dilakukan secara tiba-tiba,” imbuh Ima.
Hal yang perlu dilakukan sebagai orang terdekat adalah mendampinginya. Salah satunya membuat orang tersebut tidak berinteraksi dengan dukun tersebut. Sambil mendampingi juga dapat melaporkannya ke polisi cyber, jika dalam kasus ini memang terdapat unsur penipuannya. “Kalau pergi ke dukun ini keluarga dapat mencegah saat orang tersebut akan berangkat, dan memberi tahu sebisa mungkin,” kata Imadatus.
Edukasi ini perlu diberikan, namun tidak dengan cara konfrontasi. Karena mereka akan lebih tinggi. Selain keluarga, juga dapat dilakukan orang-orang sekitarnya. “Dampak psikologisnya ini banyak, mulai dari kehilangan, kekecewaan karena dibohongi dan trauma,” kata Imadatus. Kehilangan uang dan harta ini dapat menjadi kenangan traumatis, jika seseorang tersebut belum bisa memaknai bahwa ada yang salah dalam mengambil keputusan. Jika dalam tahap tersebut, seseorang tersebut akan mengalami trauma dan kesedihan.
Dalam kasus tersebut, self konsep akan bisa terkana. Di mana orang tersebut akan menyalahkan diri sendiri. Pada tahap tersebut, karena merasa bersalah akan melukai diri sendiri atau bahkan meluakai orang yang membuatnya disituasi tersebut. “Dan dampak terakhir, bagi mereka yang pernah merasa kecewa dengan situasi tersebut menjadikan sebuah pengalaman,” ungkap Imadatus.
Karena menjadi sebuah pengalaman, membuat sesorang tersebut menjadi lebih waspada. Dimana akan lebih peka, dan tidak terjebak lagi.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah