SRI UTAMI, Kabupaten, JP Radar Kediri
“Ini saya sedang membuat landscape di rooftop,” cerita Imam Jami’in kepada Jawa Pos Radar Kediri kemarin. Tinggal di Desa Kalirong, Tarokan, pria yang akrab disapa Jami’in itu memang tidak lagi menerima order pembuatan taman dalam skala besar. Meski demikian, dia tidak bisa sepenuhnya meninggalkan aktivitas yang sudah digelutinya sejak puluhan tahun silam itu.
Meski kini disibukkan dengan aktivitas pemerintahan desa, pria yang juga ketua Paguyuban Kepala Desa Kabupaten Kediri itu tetap memiliki waktu luang untuk membuat taman. “Bagi saya landscape itu bukan pekerjaan. Tapi hobi. Ya bagaimana, itu passion. Saya bahagia melakukannya,” lanjutnya.
Bagaimana dia bisa menguasai seni membuat taman itu? Rupanya, bapak dua anak itu tidak memiliki pendidikan formal dalam bidang landscape. Alumnus MAN 1 Kabupaten Kediri itu mengenal landscape dari sang kakak.
Hal tersebut dilakoni sejak 1992 lalu. Selepas dari MAN 1, Jamiin muda langsung bertolak ke Surabaya untuk belajar kepada kakaknya yang menjadi kontraktor landscape. “Benar-benar mulai dari nol. Mulai membuat reliefe, membuat tebing, dan penataan tanaman,” tuturnya.
Belakangan, dia juga belajar merencanakan taman, hingga menggambar desain. Mengerjakan sesuatu atas dasar rasa suka membuat hasil karya Jami’in mendapat pujian. Dalam waktu yang tak lama dia langsung mendapat proyek sendiri.
Tahun 1995 silam dia memutuskan untuk hijrah ke Jakarta. Di ibu kota dia beberapa kali mendapat proyek dari Dinas Pertamanan DKI Jakarta. Tidak hanya itu, dia juga mendapat kontrak dari Supermarket Makro di Serpong, Tangerang, dan beberapa pekerjaan besar di Bandung, Jawa Barat, hingga di Kalimantan juga dilakoninya.
Keasyikannya mengerjakan landscape sempat terhenti 1998 lalu. Saat itu, dia ditelepon, diminta pulang untuk mencalonkan diri menjadi kepala desa. Meski tak memiliki banyak persiapan, pria berusia 54 tahun itu langsung terpilih. “Satu periode menjadi kades, saya kembali menekuni landscape. Setelah itu 2013 kemarin maju lagi dalam pilkades dan terpilih lagi sampai sekarang,” urainya.
Selayaknya hobi, Jami’in yang kesibukannya memimpin organisasi dan desa sudah menumpuk itu, tetap tidak bisa melepaskannya. Hanya saja, sekarang dia memilih pembuatan taman yang tidak terlalu menguras tenaga.
Misalnya membuat landscape di warung makan, rumah pribadi, dan beberapa landscape yang relatif tak terlalu luas. Jami’in juga tidak mematok tarif secara khusus. “Biasanya saya hanya menghitung material, biaya tenaga, selebihnya saya serahkan ke mereka (total biaya, Red) berapa jumlahnya,” paparnya sembari tertawa.
Selain membuat landscape, Jami’in juga hobi mengoleksi pohon-pohon raksasa. Pohon dengan lingkar 4-5 meter jenis pule hingga kaki gajah ditanam di rumahnya. Hanya dengan melihat berbagai jenis tanaman dan bunga koleksinya, menurut Jami’in sudah menjadi sarana Hanya dengan melihat berbagai jenis tanaman dan bunga koleksinya, menurut Jami’in sudah menjadi sarana refreshing.
Hal serupa juga dia rasakan saat membuat landscape. Mulai saat dia harus menata bunga dan tanaman. Menata bebatuan, hingga menambah beberapa hiasan. Semuanya merupakan aktivitas yang menyenangkan bagi Jami’in.
Karenanya, jika harus memilih salah satu pekerjaan yang harus dilakoni, dia mantap mengaku masih terlalu mencintai landscape. “Saya tidak tahu, yang jadi pekerjaan sampingan saya itu kepala desa atau landscape,” kelakarnya.
Jami’in bersyukur, keluarganya bisa memahami kesibukannya. Mereka tidak pernah protes karena sang kepala keluarga memiliki banyak kesibukan. “Yang terpenting bagaimana membagi waktu untuk mereka. Keluarga tetap yang utama,” tegasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah