Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ini Kisah Kakak Beradik Asal Janti yang Jadi Pawang Buaya Dadakan

Anwar Bahar Basalamah • Kamis, 27 April 2023 | 17:15 WIB
(Foto: Asad)
(Foto: Asad)
Niatnya memancing ikan untuk santapan sekeluarga. Siapa sangka yang mereka dapatkan adalah buaya, yang selama ini diburu warga desa.

Mulik dan adiknya, Sugito, nyaris tiap sore pergi ke sungai yang ada di desanya, Desa Janti, Kecamatan Wates. Memuaskan hobi memancing ikan. Sembari mencari bulus (labi-labi) atau nyambek (biawak). Kegiatan yang rutin dia lakukan selepas selesai bekerja sebagai kuli bangunan.

Tak terkecuali sore itu, Rabu (12/4). Ketika matahari akan terbenam di ufuk, dua pemuda bersaudara ini pergi ke tepi sungai. Berbekal pancing dan perkakas tambahan. Perkakas tambahan ini biasa digunakan untuk menangkap hewan selain ikan yang mereka temui. Terutama bila bertemu bulus atau nyambek.

“Ada tang, karet, senar, brutu (pantat ayam, Red), dan jaring. Semua ada di tas,” kata Mulik.

Ketika tengah mengamati permukaan sungai, sekelebatan Sugito melihat ada hewan bergerak di bantaran. Tubuhnya panjang, mirip biawak. Merangkak di temaram senja itu.

“Nyambek...nyambek....,” teriaknya.

Bergegas dua bersaudara itu mendatangi tempat hewan itu merayap. Namun, sudah tidak terlihat lagi. Keduanya pun berusaha mencari.

Photo
Photo
(Foto: Asad)

Kuwi lho rong-rongan, paling ndelik neng kono (itu ada liang, mungkin bersembunyi di situ, Red),” ucap Sugito, yang diceritakan lagi oleh kakaknya.

Sugito pun nyogok lubang itu dengan bambu yang dia temukan di tepi sungai. Seketika munculah moncong panjang, khas milik reptilia yang dikenal buas, buaya.

Baya...baya...baya...,” teriak pemuda itu terkaget-kaget.

Sadar yang muncul adalah hewan buas, Sugito spontan menyabetkan celurit. Dua kali, namun yang kedua mental karena menghantam kulit keras hewan melata ini.

Kedua pria ini tergolong berani. Karena begitu sang buaya keluar lubang mereka segera melempar celurit yang dipegang. Kemudian melompat ke punggung buaya. Yang satu mendekap bagian moncong. Yang lain memegangi ekornya.

“Tak sempat berpikir panjang. Sebenarnya takut tapi mau bagaimana karena jaraknya dekat. Tak sampai dua meter,” aku Mulik yang kebagian mendekap bagian moncong sang buaya.

Sugito, yang segera melakukan hal serupa seperti kakaknya, sigap mengambil tali karet yang ada di tas punggung. Dengan perasaan panik dia mengibas-kibaskan tali karet itu. Berusaha mengikat moncongnya terlebih dulu. Setelah berhasil dia memutar tubuh. Ganti mengikat bagian ekor. Saat bergumul itu, keduanya berada di air yang tak dalam. Hanya 20 sentimeter.

“Kalau di depan liang (air) hampir sepaha. Lebih sulit bila buaya ada di tempat itu,” terangnya.

Keduanya tidak manyangka bila buaya yang mereka tangkap sebesar itu, nyaris dua meter panjangnya. Awalnya mereka mengira lebih kecil. “Waktu diseret baru kaget lihat ukurannya. Ternyata besar. Kalau di air terlihat kecil,” ucapnya.

Buaya yang mereka tangkap itu satu dari empat ekor buaya yang terlihat di sungai itu. Diperkirakan, buaya-buaya tersebut merupakan piaraan orang yang entah sengaja atau tidak lepas ke sungai. Yang ditangkap dua bersaudara ini bukanlah yang terbesar. Masih ada dua ekor lagi yang salah satunya bertubuh paling besar. Sedangkan yang lain berukuran paling kecil. Satu ekor lagi sudah tertangkap tahun lalu.

Mulik mengatakan tak bisa membayangkan bila yang mereka temukan itu buaya dengan ukuran paling besar. Apakah dia berhasil menangkap dengan mudah atau justru mereka yang celaka.

“Cara baya sing gedi nubruk awake dewe, menghindar wis ora sempat (seandainya saja buaya yang besar menabrak kami, menghindari sudah tak sempat, Red),” ucap Mulik.

Penangkapan buaya itu sejatinya tak mulus.  Mulik mengatakan jarinya sempat tersangkut gigi sang buaya. Ketika dia berusaha menali. Untungnya, pengalaman puluhan kali menangkap biawak membuat mereka sedikit punya trik menjinakkan.

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #berita viral #berita terbaru #berita hari ini #berita viral kediri