Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Warga Dusun Batan, Berjuang Keras Mempertahankan Status Sentra Mente

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 24 April 2023 | 18:00 WIB
SUMBER EKONOMI: Warga di Dusun Bratan, Desa Blaru, Badas, Kabupaten Kediri menggantungkan pendapatan dari mengolah mente. (Foto: Emilia Susanti)
SUMBER EKONOMI: Warga di Dusun Bratan, Desa Blaru, Badas, Kabupaten Kediri menggantungkan pendapatan dari mengolah mente. (Foto: Emilia Susanti)
Pengolahan yang panjang dan bahan baku yang sulit, membuat harga kacang mente tergolong mahal. Dan, bagi warga Dusun Batan, ini kesempatan emas mendulang penghasilan. Meskipun, bahan baku tak semudah didapat seperti dulu.

EMILIA SUSANTI, Kabupaten, JP Radar Kediri

Photo
Photo
(Foto: Emilia Susanti)

Berkunjung ke Dusun Batan, Desa Blaru, Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri orang akan melihat pemandangan yang sangat khas. Di sebagian besar rumah, halaman depannya akan tersaji hamparan karung. Sebagai tempat menjemur mente-mente mentah.

Ada pula kios-kios milik warga. Yang secara khusus menjual aneka olahan kacang mente. Dikemas dalam wadah yang beraneka bentuk dan ukuran.

“Kalau Lebaran seperti ini peminat mente bertambah banyak. Harganya pun jadi melambung tinggi,” ucap Nurida. Warga dusun berusia 51 tahun adalah salah seorang, dari sekian banyak, pengepul kacang mente di tempat ini.

Photo
Photo
(Foto: Emilia Susanti)

Ya, dusun ini dikenal sebagai sentra mente. Mayoritas penduduknya bekerja sebagai pembuat kacang mente.

Titel sebagai sentra mente sudah melekat lama. Memang, tak ada catatan yang menyebut waktu pertama kali warga dusun jadi produsen mente. Namun, hal itu sudah terjadi turun-temurun. Sejak beberapa generasi silam.

“Ini sejak saya kecil (sudah ada). Punya ibu saya dulu,” kata Mualim, warga dusun yang jadi pembuat mente, menunjukkan salah satu peralatan yang dia miliki turun-temurun.

Yang ditunjuk Mualim itu berupa golok yang dimodifikasi dengan balok kayu panjang.  Bagian tajam dari golok yang berada dekat ujung, terdapat lubang menyerupai bentuk mente.

Puluhan tahun alat tersebut digunakan, terlihat bekas getah mente menempel. Warnanya hitam pekat. Apabila mengenai tangan bisa menyebabkan gatal. Sehingga, sebagian orang perlu memakai pelindung tangan untuk menghindarinya.

Namun, tidak dengan Mualim. Berpuluh tahun mengerjakan hal seperti itu membuatnya terbiasa. Tak perlu lagi pelindung tangan. Sementara, istrinya tampak menggunakan kaos kaki bekas di lengannya. Agar tak terciprat getah mente.

Photo
Photo
(Foto: Emilia Susanti)

Selain sulit, mengolah mente memerlukan proses panjang. Karena menggunakan pengolahan dan peralatan yang masih tradisional. Menggunakan kacip, cungkit, panggang atau oven, dan kupas kulit ari.

Tahap pertama adalah melepas cangkang mente. Setelah itu masuk proses cukit. Pada tahap ini, warga melilitkan plastik pada jari-jari. Biasanya di tangan kiri.  Agar tak terkena getah.

Sedangkan tangan kanan memegang obeng kecil untuk mengeluarkan mente dari cangkangnya.

Disukani gamping ben keset (diolesi gamping biar kesat, Red),” kata Umi Kasih, 46, warga yang terampil dalam tahap cukit mente.

Setelah didapat biji mete yang telah dipisahkan dengan cangkangnya, proses selanjutnya adalah memanggang. Ada dua metode, menggunakan oven atau langsung di atas kompor. Dua metode ini menghasilkan rasa yang berbeda.

“Kalau yang dipanggang di kompor itu lebih manis dan gurih,” ungkap Yuni Kartikawati, penjual mente mentah dan olahan.

Sayangnya, tak semua orang lihai menggoreng mente. Bila sembarangan, kacang mente bisa pecah. Yang akhirnya mengurangi nilai jual.

Iki bose wani jual mentah tok. Nggoreng ya risikone gede (ini bosnya bernai jual mentak saja. Menggoreng risikonya besar, Red),” bebernya.

Maka, jangan heran bila makanan ringan ini mahal harganya. Karena perlu proses panjang dan sulit.

Namun, kemahiran mengolah mente warga dusun membuat perekonomian mereka meningkat. Menjadi penghasilan utama atau tambahan. Jarang warga yang menganggur karena mengisi waktunya dengan mengolah mente. Terutama para perempuan dusun.

Alhamdulillah di sini kalau nggak ke sawah kan ada kerjaan kayak kacip. Itu bisa jadi sampingan. Kalau nggak ada itu ya nganggur,” terang Nurida.

Sayang, kondisi Dusun Batan beda dengan dulu. Tak banyak lagi pohon mente yang tumbuh. Pohon jamu mente di Desa Blaru banyak yang ditebang. Karena itu, berton-ton mente yang jadi kebutuhan produksi harus ‘diimpor’ dari luar desa. Bahkan, banyak yang mendatangkan dari Flores dan Sumbawa.

Yang mendatangkan mente dari luar Jawa itu kebanyakan adalah pengepul besar. Karena mendatangkan satu truk beratnya setara delapan ton mente. Modalnya pun harus besar.

Yang menarik, membeli dari Pulau Jawa dan luar Jawa berbeda cara. Bila beli dari kota-kota di Pulau Jawa, dihitung per biji. Harga per sepuluh mente antara Rp 1.200 hingga Rp 1.500. Sedangkan dari luar Jawa dihitung kiloan.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah
#kacang mente #ekonomi #mente #sentra mente #pekerjaan