Hari itu, sehari sebelum Ramadan. Sekitar pukul 16.00. Terlihat puluhan santri memasuki halaman Pondok Pesantren Al Ihsan Jampes, di Desa Putih, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kedi. Sebagian lagi sudah berada di ruangan pengurus. Tak sedikit pula yang mendatangi ndalem pengasuh pondok tua itu.
Tak lain, tujuan mereka guna menembung (melobi) pengasuh ponpes-Munif Muhammad-untuk tabarokan. Atau mencari barokah keturunan mualif (pengarang) Kitab Sirojut Tholibin, yakni Syaikh Ihsan Jampes. Kitab Sirojut Tholibin merupakan kitab syarah (penjelasan) dari Minhajul Abidin karya Imam Bukhari.
“Itu termasuk syarah salah satu kitab keramat karena karangan terakhir (Imam Bukhari),” aku Ahmad Poleng, 21, salah seorang santri kilat dari pondok pesantren Mambaul Ulum, Pati, Jawa Tengah.
Santri Jampes sendiri hampir semuanya sudah pulang. Sekitar 130 sampai 150 santri yang belajar di pondok ini. Namun demikian, suasana pondok tak lantas sepi. Karena digantikan dengan kehadiran santri kilat.
“Ada sekitar 28 (santri kilat),” sebut Ahmad Yasin Mustofa, 25, pengurus yang sudah mengabdi selama lima tahunan itu.
Santri kilat datang dari berbagai pondok pesantren. Ada yang jauh ada pula yang dari luar daerah. Salah satunya seperti Ahmad Poleng yang dari Jawa Tengah itu.
Bahkan, Ahmad Poleng, jauh-jauh datang ke kota Tahu atas keinginannya sendiri. Dari Pati ke Kediri menumpangi bus. Ini juga perjalanan pertamanya ke Kediri. Semuanya dia lakukan karena untuk menyambung sanad Kitab Sirojut Tholibin.
“Di sana sebenarnya dipelajari. Tapi ke sini untuk memperjelas dan agar sanadnya nyambung,” akunya.
Selain itu, dia belum rampung mempelajari kitab itu di pondoknya. Karena itu dia datang ke Kediri untuk mengkhatamkan kitab karangan Kyai Ihsan Jampes.
Ada yang datang karena keinginan sendiri untuk menyambungkan sanad. Ada pula yang datang karena permintaan maupun perintah sang kiai.
“Ke sini tabarokan (mencari berkah, Red) karena memang pondok sepuh juga. Dulu masyayikh (guru,Red) pondok juga pernah jadi santri di Jampes,” aku Ahmad Irsadul Masalih, 20, santri kilat dari Pondok Pesantren Lirboyo.
Selain itu dia juga mengakui nyantri kilat ke Jampes karena dukungan dari sanak keluarga. Yang dulunya juga pernah jadi santri di tempat ini.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah