“Menawi wonten kepareng paduka sinuwun, Anoman sagah dados duta paduka prapteng nigari Ngalengka.” Suara tinggi melengking itu dikeluarkan bukan oleh dalang dewasa. Melainkan dari mulut bocah berusia 14 tahun. Muhamad Faqih Nur Habibillah dengan bagus menirukan suara Anoman, tokoh pewayangan dalam epik Ramayana.
Faqih biasanya bersuara berat. Namun, ketika menyuarakan Anoman suaranya mendadak jadi tinggi. Menirukan gambaran Anoman, tokoh sakti berujud kera putih, putra Dewi Anjani dengan Batara Guru.
Mengubah karakter suara menjadi satu hal yang harus dia kuasai. Sebab, pelajar yang tinggal di Desa Manyaran, Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri ini telah menggeluti dunia pewayangan. Menjadi seorang dalang. Tentu saja, menirukan suara tokoh adalah kemampuan yang harus dikuasai.
“Yang paling sulit itu kalau harus mengeluarkan suara tinggi. Kalau untuk tokoh raja dan buta itu kadang besar dan berat suaranya,” jelas pelajar kelas sembilan ini, kala diwawancarai koran ini di sanggar Dwija Laras milik SMPN 6 Kota Kediri.
Faqih, demikian panggilan akrabnya, memang masih belia. Namun kepiawaiannya sebagai dalang sudah tidak diragukan lagi. Sudah terbiasai mengikuti perlombaan seni dalang. Tahun lalu misalnya, dia meraih penghargaan dalam lomba dalang tingkat Jatim.
“Dapat juara favorit seni dalang di tingkat provinsi. Yang ikut anak-anak SMP se-Jawa Timur,” ucapnya.
Menjadi seorang dalang bukanlah hal mudah. Apalagi di usianya yang masih belasan tahun ini. Putra pasangan Agus Sudarmanto dan Zainur Maya ini dituntut menghafal banyak cerita wayang. Tidak hanya itu, alumnus SDN Mrican 3 ini harus menghafal tokoh wayang berikut karakternya. Padahal jumlahnya sangat banyak.
Yang lebih penting, Faqih juga harus menguasai seni dalam pewayangan. Termasuk cara menyabet atau memainkan wayang. Yang paling berat adalah olah suara. Faqih dituntut bisa menirukan suara banyak karakter wayang yang berbeda-beda. Di saat yang sama dia juga harus menghafalkannya.
“Saya bisa menirukan karakter suara tokoh perempuan juga. Setidaknya lebih dari delapan karakter suara yang berbeda,” lanjutnya sambil tersenyum.
Agar bisa menguasai karakter-karakter suara tokoh pewayangan, bungsu dari dua bersaudara ini belajar setiap Rabu, usai jam sekolah. Di sanggar milik SMPN 6 Kota Kediri. “Kalau mendalang kita harus menggunakan suara perut. Kalau memakai tenggorokan tidak kuat. Nanti bisa sakit,” ujarnya menerangkan.
Apakah kemampuannya itu menurun dari orang tuanya? Ditanya demikian, dia terlihat kebingungan menjawab. Pasalnya kedua orang tuanya bukan seniman. Namun darah seni yang ia miliki itu didapat dari sang kakek yang merupakan seniman ketoprak dan ludruk.
Meskipun demikian, bocah yang juga hobi bermain gamelan ini memang sudah akrab dengan kesenian wayang sejak kecil. Sejak usia empat tahun dia sudah siajak nonton pagelaran wayang kulit oleh ayahnya. Saat itulah dia langsung jatuh hati.
“Akhirnya saya minta dibelikan wayang-wayangan terus. Mulai dari kertas sampai kulit,” kenangnya, seraya mengatakan orang tuanya sangat mendukung apa yang disukainya itu.
Dia mulai serius belajar mendalang sejak duduk di bangku SMP. Selanjutnya, setahun belajar sudah mulai berani pentas. Bahkan terbaru ia juga didapuk untuk mendalang saat dies natalis sekolah tahun lalu. “Ya rasanya senang. Bisa menghibur banyak orang,” kenangnya.
Apakah Faqih memang bercita-cita menjadi dalang? Faqih mengaku bercita-cita menjadi guru kesenian. Ia juga ingin melanjutkan sekolah SMA di Surakarta, yakni di SMKN 8 Surakarta yang khusus kesenian. Begitupun saat kuliah nanti ia berkeinginan untuk menempuh pendidikan di ISI Surakarta.
“Ingin jadi sarjana seni, selain mendalang ingin jadi guru seni dan budaya,” urainya.
Faqih pun berharap pemerintah memberi dukungan terhadap para dalang cilik di Kediri. Caranya, dengan memberi kesempatan yang sama kepada mereka untuk pentas secara bergilir. Sehingga, para dalang cilik bisa berkembang bersamaan. “Agar kesenian di Kota Kediri semakin berkembang di era teknologi yang semakin canggih saat ini dan semua seniman mendapat kesempatan sama,” harapnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah