Maraknya kecelakaan yang melibatkan anak di bawah umur menjadi perhatian masyarakat. Karena selain merugikan orang lain, juga diri sendiri. “Seharusnya orang tua tidak memberikan kelonggaran izin kepada anak untuk mengendarai sepeda motor sebelum batas usia yang sudah ditentukan, yakni 17 tahun,” terang Psikolog Vivi Rosdiana.
Dia menjelaskan bahwa secara aspek psikologis, anak tidak bisa disalahkan. Jika terjadi pelanggaran berlalu lintas apa yang dilakukan anak, orang tua sebagai penyedia fasilitas tetap menjadi penanggungjawab.
Saat ini, banyak orang tua yang dinilai inkonsisten dan cenderung memberi kelonggaran izin untuk mengendarai sepeda motor kepada anaknya, dengan alasan pergi keluar rumah yang jaraknya dekat. Namun, inkonsistensi itulah yang akan membentuk mindset anak bahwa mengendarai sepeda motor sebelum waktunya bukan suatu pelanggaran.
“Pemberian fasilitas yang belum tepat pada waktunya bukan menjadi simbol sayang orang tua pada anak,” imbuhnya. Karena tujuan diberikannya batas usia untuk berkendara sebenarnya sudah sesuai dengan kondisi psikologi seseorang. Sebelum usia 17 tahun, seorang anak belum bisa mengelola regulasi emosi. Sedangkan di jalan raya, akan bersinggungan dengan orang banyak. Jika emosi masih mendominasi saat berada di jalan, maka akan rentan terjadi kecelakaan yang tidak hanya merugikan diri sendiri, namun juga orang lain.
“Faktor fisik, kognitif, emosi dan sosial yang menyebabkan anak belum memungkinkan anak mengemudi dengan aman di jalan raya,” kata ibu dari dua anak tersebut. Dalam segi fisik, kendaraan sepeda motor ini didesain untuk orang dewasa. Akibatnya hal tersebut tidak sesuai dengan kondisi fisik anak.
Sedangkan dalam segi kognitif sesuai dengan perkembangannya, remaja memiliki kemampuan terbatas untuk melihat, menganalisis, dan menyimpulkan kondisi lalu lintas. Keterbatasan ini menyebabkan anak tidak bisa berstrategi saat berlalu-lintas. Kondisi ini dapat dilihat dari kecenderungan anak dan remaja yang asal menyalip saat berkendara di jalan raya. Dari cara nyelipnya bisa dilihat, anak dan remaja tidak banyak berpikir saat berkendara. Hal ini tentu berbahaya bagi dia dan pengendara lainnya.
Sedangkan dalam perkembangan emosi yang belum diimbangi dengan kemampuan kognitif, akibatnya, anak dan remaja cenderung bertindak berdasarkan emosional. Kelabilan ini juga dipengaruhi hormon, yang menyebabkan anak dan remaja cenderung meledak-ledak.
Kondisi ini menyebabkan anak dan remaja kerap tersulut emosinya, bila ada yang menyalip. “Remaja biasanya akan langsung menyalip tanpa berpikir kondisi kendaraan lain, bahaya sekali kalau mereka sampai kebut-kebutan di jalan,” terang Vivi.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah