Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Hasan Bawazer, Disabilitas yang Piawai Mengukir Kayu

Anwar Bahar Basalamah • Jumat, 10 Februari 2023 | 16:53 WIB
DI BENGKEL KERJA: Hasan Bawazer berada di teras rumahnya yang dia sulap menjadi lokasi workshop. (Foto: Rekian)
DI BENGKEL KERJA: Hasan Bawazer berada di teras rumahnya yang dia sulap menjadi lokasi workshop. (Foto: Rekian)
Kaki kanannya harus diamputasi ketika remaja. Buah dari terpeleset ketika naik kereta api. Namun, hal itu tak membuatnya hidup ‘manja’. Justru membuatnya kian mandiri.

Teras rumah di Desa Kedak, Kecamatan Semen itu penuh dengan kayu. Saling menumpuk. Tak hanya yang gelondongan, sebagian kayu itu sudah terpahat ukiran. Mulai yang berbentuk wajah Presiden Soekarno hingga ornamen penghias pintu rumah.

“Saya baru menekuni lagi (seni) ukiran ini sekitar enam tahun lalu,” ucap lelaki yang juga pemilik rumah.

Lelaki itu adalah Hasan Bawazer. Lelaki 42 tahun yang penyandang disabilitas. Salah satu kakinya harus diamputasi karena kecelakan ketika usia remaja.

Meskipun cacat, Hasan punya kepiawaian di seni ukir. Teras rumahnya yang berukuran 4x3 meter bisa menjadi bukti. Tempat yang dia sulap jadi workshop itu penuh dengan hasil karyanya. Selain tumpukan kayu mentah yang akan dia gunakan sebagai media ukirnya.

Siang yang gerimis itu, Hasan tengah beristirahat. Memulihkan tenaga setelah pulang dari Jakarta. Membawa pulang kayu-kayu mentah, bahan baku ukiran.

Selama menjual jasa ukir kayu, Hasan tidak pernah mempromosikan karyanya lewat media sosial. Lulusan sekolah dasar itu hanya mengandalkan kepuasan pelanggan. Yang nanti menyebar dari mulut ke mulut.

Konsumennya sempat membeludak ketika ia membuka gerai di Kelurahan Bandarlor, Kecamatan Mojoroto. “Wali Kota (Abdullah Abu Bakar, Red) juga  pesan untuk papan nama ruangannya,” kenangnya.

Sayang, saat pandemi permintaan ukir menurun drastis. Kiosnya yang di Bandarlor menjadi sepi. Dia pun memutuskan pindah ke tempatnya saat ini.

Di sini, ruangan yang dia gunakan lebih luas. Mampu  menampung tumpukan bahan-bahan hingga mesin pemotong. Di bagian depan juga ada tulisan sentra ukir.

Hasan adalah spesialis ukir kembang. Ilmu yang dia dapat setelah menimba ilmu di Jepara, Jawa Tengah. Usai dia menamatkan SD-nya pada 1994.

Sebenarnya, Hasan sudah lekat dengan dunia ukir sejak kecil. Berawal ketika dia ikut kerabatnya di Jogjakarta. Di sana dia sudah diminta membantu membuat ukiran.

Setelah mulai menemukan pola mengukir, ia diminta untuk mengerjakan ukiran patung. Hasan yang ketika itu masih remaja menolak. Ia meyakini dirinya adalah spesialis ukir kembang. Untuk mengasah, kemampuan ukiranya dia nekat berangkat ke Jepara. Modal pergaulan di Jogja telah mengantarkannya sampai ke Bumi Kartini.

Di Jepara, Hasan benar-benar menekuni dunia ukir.  Sebelum reformasi pecah, Hasan memutuskan ke Jakarta. Dengan kemahirannya, ia memberanikan diri merantau ke Ibu Kota. Di sana ia bekerja pada perusahaan kayu ekspor.

“Waktu itu, hasil ukir sehari bisa untuk biaya hidup saya satu Minggu. Banyak sekali pesanannya,” kenang Hasan.

Setelah menikmati hasil kerja kerasnya, Hasan lalu banting setir membuat angin-angin untuk rumah. Dia keluar dari perusahaan ekspor tersebut. Sejak saat itu, ekonominya mulai melorot. Penghasilan dari pekerjaannya itu tidak sebanding ketika ia bekerja di perusahaan ekspor kayu. Padahal dia sudah punya tanggungan dua anak. Hasan harus bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhkan keluarga.

Meski saat ini pemasarannya masih tradisional, karyanya sudah mulai dikirim ke luar pulau. Sudah ada yang ke Kalimantan.

Saat ini Hasan lebih sering membuat ukiran kayu dan pintu. “Yang paling banyak sekarang bikin ukiran pintu masjid,” akunya.

Biasanya, pekerjaan itu dilakukan borongan. Satu meternya dibanderol Rp 1,5 juta. Sedangkan untuk ukiran nama, paling murah dibanderol dengan harga Rp 200 ribu.

Dalam satu bulan, Hasan bisa mendapatkan orderan minimal sepuluh produk. Seperti siang itu, ia menunjukkan beberapa hasil ukirannya. Paling banyak, mengukir kursi kayu.

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #berita terkini #berita viral #pengukir #pengukir kayu