Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Penetasannya Sulit tapi Harganya Selangit

Anwar Bahar Basalamah • Kamis, 2 Februari 2023 | 17:22 WIB
TELATEN : Mahendra menunggui kura-kura sulcata piaraannya yang sedang berjemur di samping rumahnya kemarin. (Foto: Habibah A. Muktiara)
TELATEN : Mahendra menunggui kura-kura sulcata piaraannya yang sedang berjemur di samping rumahnya kemarin. (Foto: Habibah A. Muktiara)
Mahendra hanya sekadar hobi ketika memelihara kura-kura air Brazil. Setelah menambah koleksi dengan jenis sulcata, peluang bisnis pun dia manfaatkan. Yang hasilnya sangat menjanjikan.

Beberapa ekor kura-kura terlihat di samping rumah Mahendra Nova Ryandika. Ukurannya beragam. Ada yang besar, ada juga yang hanya sebesar kepalan tangan.

Satu kura-kura, yang panjang cangkangnya mencapai 37 sentimeter, terlihat berjalan-jalan. Empat kaki dan kepalanya menjulur dari dalam ‘rumah’ warna kuning dan coklat dengan motif kotak-kotak itu. Jalannya cepat, tidak seperti ungkapan selama ini bahwa kura-kura jalannya lambat. Saking cepatnya, sang pemilik pun tak berani melepaskan pandangan dari kura-kura itu.

“Kalau di usia seperti ini memang lagi suka jalan-jalan,” terang Mahendra, warga Jalan Raya Balekambang, Kelurahan Blabak, Kecamatan Pesantren ini.

Sesaat kemudian, si kura-kura itu berhenti. Menyantap bunga terompet yang dipetik Mahendra dari samping rumah. Tak hanya itu, mulut kecil sang kura-kura sulcata itu mengunyah buah murbei dan daun sawi.

Ada lima ekor kura-kura yang sedang berjemur di tempat itu. Namun, piaraan lelaki 32 tahun itu mencapai ratusan ekor. Yang ditempatkan di kotak-kotak plastik di dalam rumah. Tersebar hampir di semua ruangan. Di ruang tamu hingga ruangan khusus di bagian belakang. Jumlahnya mencapai 300 ekor, yang ukuran baby.

Koleksi pria ini tak hanya jenis sulcata. Ada yang kura-kura air Brazil. Jumlahnya juga tidak sedikit. Sebagian, yang berukuran besar, berada di dekat kolam air di halaman rumah Mahendra.

Mahendra mulai tertarik dengan kura-kura sejak 2004 silam. Saat usianya 15 tahun. Yang dia pelihara adalah kura-kura air Brazil. Kemudian, hobinya itu beranjak menjadi bisnis. Dia mengembang-biakkan reptilia ini hingga berjumlah banyak.

“Sebelum ternak kura-kura, saya hanya berjualan kura-kura impor,” cerita Mahendra.

Setelah tahu sulcata punya pasar bagus, dia kian intens memelihara hewan ini. Apalagi, di Kediri yang banyak adalah kura-kura air, dibandingkan darat.

Saat memulai laki-laki kelahiran 1989 ini mendatangkan sepuluh pejantan dan sepuluh betina. Tak langsung berhasil, karena diaharus belajar tentang jenis kura-kura itu. Terutama cara perawatan dan pengembang-biakan.

Indukan pertama milik Mahendra bisa bertelur hingga 25 butir. Namun, dalam percobaan pertama, yang menetas hanya 50 persen saja.

“Ternyata tingkat nutrisi makanannya harus cukup,” ujarnya.

Awalnya, dia diberitahu bahwa induk tak boleh diberi pelet, makanan pabrikan. Ternyata, tingkat nutrisi pelet justru lebih banyak dibanding diberi makan sayuran saja.

Yang perlu diperhatikan lagi adalah penetasan. Perlu menggunakan inkubator yang diatur suhu dan kelembabannya. Sebab, bila di negeri asalnya, di Afrika, penetasan berlangsung di pasir yang terpapar terik matahari langsung.

Namun, di sini, bila ditetaskan di pasir, justru lebih lama. Selain juga tingkat fertilitasnya rendah. Karenajenis pasir yang berbeda.

“Di sana panasnya stabil. Sedangkan di Indonesia diselingi musim hujan,” terangnya.

Di musim hujan seperti saat ini, menjadi kendala peternak kura-kura sulcata. Piaraan mereka kekurangan asupan sinar matahari. Yang membuat hwan tersebut mudah terkena flu dan bermasalah di pencernaan.

Karena perawatan yang sulit itu, wajar bila harganya juga mahal. Sebulan, bisa menghabiskan Rp 1 juta. Yang digunakan untuk beli pelet, nutrisi, dan sayuran.

Kemudian, bila dipanaskan dengan lampu, maka beban biaya listrik pun naik. Dalam seminggu bisa menghabiskan hingga Rp 200 ribu.

Namun, semua itu terbayar dengan harga jual. Paling kecil, kura-kura sulcata umur 2 bulan, harganya Rp 1 juta. Dalam seminggu, Mahendra bisa melepas antara 20 hingga 50 ekor.

“Laba bersih per minggu antara Rp 3 juta hingga Rp 12 juta,” akunya.

Penjualan kura-kura sulcata ini sampai keluar pulau. Karena Mahendra tidak ingin melakukan hal yang ilegal, setiap pengiriman melalui izin dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Selain agar pengiriman aman, juga tak bermasalah dengan hukum.

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #peternak kura kura sulcata #berita terbaru kediri #berita kediri hari ini #sulcata