Seperti diungkapkan oleh Agus Suharno, 65. Pria asal Kelurahan/Kecamatan Pesantren itu dahulunya sangat lihai memainkan ethek-ethek. Karenanya, begitu melihat anak-anak sekarang memainkan permainannya dulu, membuatnya kembali ke masa anak-anak. “Sekarang sudah tidak bisa seperti dulu. Tapi ya seperti nostalgia,” katanya sambil tersenyum.
Hal serupa diungkapkan oleh Pemerhati Sosial Suko Susilo. Pria yang tinggal di Kecamatan Mojoroto itu dulunya juga sering bermain latto-latto atau ethek-ethek. “Pada masa itu (1970-an, Red) saya juga memainkannya,” aku Suko.
Dari tinjauan sosiologi, kembali populernya ethek-ethek menurut Suko merupakan mode yang berlangsung dalam durasi waktu tertentu. Cenderung berulang di masa depan.
Hal tersebut tidak hanya terjadi pada permainan. Melainkan juga fashion. Misalnya, tren celana cutbray atau style rambut gondrong, hingga munculnya genk anak-anak muda. Tren yang mengulang kejadian masa lalu itu menjadi hal lumrah. Bisa saja, kebiasaan masyarakat sekarang akan kembali meledak 40 tahun yang akan datang.
Pengulangan permainan atau fashion pada masa lalu menurut Suko bisa terjadi karena banyak sebab. Di antaranya, bisa karena jenuh atau hanya ingin romantisme. Seperti Suko, saat melihat anak-anak bermain ethek-ethek, ia merasa kembali ke masa silam. Permainan yang dulu pernah ia kuasai dengan baik.
Meski merupakan permainan lawas, Suko tidak punya refrensi asal-usul mainan yang punya banyak nama itu. Informasi yang dihimpun koran ini, mainan yang kini lebih dikenal dengan nama latto-latto (dari bahasa Sulawesi Selatan), rupanya sudah populer di Amerika pada era 60-an. Mainan ini mirip dengan permainan tradisional Eskimo Yo Yo atau Alaska Yo Yo. Hanya saja, di sana menggunakan bahan kulit anjing laut yang dibentuk menjadi dua bola. Sedangkan tali atau senarnya dari otot rusa kutub (karibu).
Bedanya, permainan tradisonal Alaska itu tidak bertumbukan. Hanya dua bola yang diayunkan secara ritmis dengan mempertahankan orbitnya. Sedangkan ethek-ethek, juga mempertahankan orbitnya tetapi dua bola saling beradu sehingga mengeluarkan bunyi. Di Amerika sendiri, permainan ini punya banyak sekali nama. Di antaranya, bonkers, clackers, click clacks. Ada juga yang menyebutnya crackers, k-nokkers, dan ker-knockers, dan belasan nama lainnya.
Semua orang bisa menamakannya sesuai dengan kebiasaan masyarakatnya. Bisa diambil dari bunyi hingga bentuk permainannya. Apalagi, model bola yang kini dipasarkan juga berbeda-beda. Ada yang ukuran besar, kecil, hingga bahan baku dari fosfor. Seperti yang diungkapkan Zaenal, 39, pedagang ethek-ethek di Simpang Lima Gumul (SLG).
Menurut pria asal Desa Doko, Ngasem itu, ethek-ethek dijual sesuai ukuran dan jenis bolanya. “Di tempat saya harganya dari Rp 6 ribu sampai Rp 25 ribu,” ucapnya.
Harga yang paling mahal adalah untuk jenis fosfor. Jika berada di tempat yang gelap, bola yang dimainkan itu akan menyala. Tapi yang paling banyak peminatnya adalah ethek-ethek dengan harga Rp 10 ribu.
Selama tahun baru lalu, dia bisa menjual 700 pasang dalam sehari. “Kalau kondisi normal saat wekeend seperti sekarang pagi aja bisa laku 50 pasang,” bebernya bersyukur hingga sekarang latto-latto masih banyak diminati. Modelnya juga terus berubah.
Editor : Anwar Bahar Basalamah