Dalam larut sunyinya desa. Dalam ruang kamar tidurnya. Bangunlah sang pemimpin berdiri. Tegakkan kaki sempoyongan. Sang pemimpin berjanji, menggelar kehidupan di bentangnya alam.
Itu adalah lirik lagu berjudul Omnevivum yang dibawakan Samsul Wahab dan Anggi Dameria dari grup Gayung Bersambut. Dinyanyikandi acara Selasar Seni yang berlangsung di Taman Sekartaji, Mojoroto, Kota Kediri, Desember lalu.Hanya menggunakan alat musik pianika dan gitar akustik.
Penampilan dua warga Pare ini sukses membuat penonton terbuai dengan alunan musik dan liriknya. Lagu itusering dibawakan saat manggung. “Lagu ini menceritakan tentang kedaulatan pangan,” jelas Samsul yang merupakan vokalis serta gitaris saat ditemui wartawan Jawa Pos Radar Kediri.
Meski baru berusia satu tahun, grup ini telahmemiliki lima lagu. Selain Omnevivum, adajudul Terbentang Luas, Aku Ingin, Biasa dan Menjemput Rendeng. Setiap lagu memiliki temamakna berbeda.
Grup musik terbentuk Desember 2020. Bermula dari kolektif berkebun. Samsul dan Anggi saling mengenal pada Oktober 2020 di kegiatan perkebunan, salah satunya mengelola sampah. Kegiatan tersebut diikuti anak muda se-Kecamatan Pare.
Dari pertemuan itu, ternyata keduanya memiliki kesamaan. Selain sama-sama kelahiran 1994, merekasenang musikdanmenciptakan lagu.“Saat itu Samsul ngomong kalau punya lagu,” kenang Anggi.
Lagu tersebut berjudul Aku Ingin, yang ternyata sudah ada sejak 2014. Namun karena belum ada wadahnya, baru terealisasi setelah delapan tahun kemudian. Pembuatan musiknyabersamaan dengan pembuatan film pendek musikalisasi puisi kelompok sastra di Pare.
Dalam pembuatan lagu, Samsul dan Anggi biasanya mengumpulkan ide masing-masing. Saat itu sebenarnya musik keduanya tidak saling menyambung. Namun setelah dikumpulkan dan disatukan dapat ditemukan benang merahnya.
Dalam pembuatan lagu, banyak yang menjadi sumber inspirasi. Salah satunya berjudul Terbentang Luas. Lirik lagu ini dari keresahan melihat buku pelajaran muridSD. Temanya tentangwaktu matahari terbit membuat senang, keluar rumah main-main. Namun saat hujan sedih karena tidak bisa main.
“Hujan ini seperti didiskriminasi, kayak tidak membawa kebahagiaan,” imbuh gadis lulusan Fakultas Sastra Prancis Universitas Brawijayaitu. Dari ide tersebut muncul lagu Terbentang Luas tersebut. Lagu dibuat dengan tujuan mengajarkan bahwa cuaca hujan atau panas hak segala bangsa. Dan semua cuaca setara. Dengan cara pikir yang berbeda, jangan anggap hujan ini menjadi hal yang negatif. Karena hujan sendiri juga membawa berkah.
Dari lima lagu yang sering dibawakan, salah satunya menjadi soundtrack film pendek dari Sekartaji Film. Si’nom yang menampilkan tradisi tiban. Ituritual pemanggil hujan. Film tersebut cocok dengan lagunya berjudul Menjemput Rendeng.
Karena banyak ide Samsul dan Anggi yang punya benang merah akhirnya ide mereka banyak yang Gayung Bersambut. Tahun ini, keduanya memiliki rencana membuat album dari lima lagu tersebut. Selain itu, juga akan membuat lagu baru.“Lagu ini tentang konservasi alas Simpenan,” jelas Samsul.
Pemuda lulusan Sosiologi Universitas Negeri Yogyakarta itumembuat lagu tentang alas Simpenan dengan tujuan agar masyarakat tahu bahwa di Kabupaten Kediri ada hutan tersebut. Terutama konservasi tersebut menjadi pusat fikus terbesar.
Editor : Anwar Bahar Basalamah