Kepadatan arus lalu lintas di Kabupaten Kediri salah satunya terjadi di simpang tiga Mengkreng. Sekitar pukul 14.00 kemarin, total ada 150 kendaraan roda dua yang melintas. Sedangkan kendaraan roda empat lebih dari 50 unit. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding hari-hari biasa.
“Pagi tadi (kemarin, Red) masih sepi, siang mulai ramai,” kata Komandan Regu (Danru) Pospam Mengkreng Aiptu Antuk Sampurno. Dilihat dari plat nomor kendaraan, mayoritas yang melintas adalah warga luar kota. Yakni, didominasi plat L.
Pria yang akrab disapa Antuk ini memprediksi jumlah kendaraan akan kembali meningkat pada malam hari. Selain penambahan kendaraan yang melintas, menurut Antuk kepadatan di simpang tiga Mengkreng kemarin terjadi karena adanya perlintasan kereta api. “Hanya beberapa menit (kepadatannya, Red) berhasil kita urai,” lanjut Antuk.
Pantauan koran ini, kepadatan arus di Mengkreng berdampak pada antrean kendaraan di Desa Minggiran, Papar. Kemarin siang, antrean mengular hingga sekitar tiga kilometer. Selain karena laju kendaraan yang melambat, kemacetan juga terjadi karena di Desa Minggiran ada bus yang mogok dan memakan sedikit badan jalan.
Tak hanya di Kabupaten Kediri, kemacetan juga terjadi di Kota Kediri. Sekitar pukul 13.00 kemarin, arus lalu lintas di sejumlah perempatan dalam kota tersendat. Di antaranya, di perempatan Jl Airlangga, perempatan Jl Hayam Wuruk, hingga ke perempatan Jl Brawijaya.
Traffic light tak cukup untuk mengurai kemacetan karena kendaraan yang melintas terlalu banyak. Kemacetan baru terurai setelah ada petugas polisi turun untuk melakukan pengaturan manual.
Kasatlantas Polres Kediri Kota AKP Prastya Yana melalui Kanit Keamanan dan Keselamatan Iptu Isdiyat yang dikonfirmasi tentang kemacetan di beberapa ruas jalan Kota Kediri membenarkan adanya peningkatan volume kendaraan yang signifikan. Baik dari kendaraan angkutan maupun mobil pribadi.
Untuk mencegah kemacetan, Isdiyat mengaku menyiapkan rekayasa lalu lintas. Yakni, dengan menerapkan buka tutup secara situasional. “Dari arah Jl PB Sudirman menuju Jl Pattimura kami lakukan penutupan, kendaraan langsung diarahkan menuju ke Jl Yos Sudarso,” paparnya tentang upaya mengurai kepadatan.
Lebih jauh perwira dengan pangkat dua balok di pundak ini menegaskan, kepadatan lalu lintas terutama juga terjadi di dekat pusat perbelanjaan. Mulai di
Jl Panglima Sudirman dekat Ramayana. Kemudian, di pusat pertokoan Jl Dhoho, hingga di Jl Hasanudin menuju Kediri Town Square (Ketos).
Isdiyat menegaskan, kemacetan hanya terjadi di jam-jam tertentu saja. Biasanya mulai pukul 10.00-13.30. Selain itu pada sore hari mulai jam 16.00 – 17.00 Selebihnya, masih dalam kategori wajar alias padat merayap.
Terpisah, Staf Manajemen Lalu Lintas Dinas Perhubungan Kota Kediri Imam Sugianto juga membenarkan tentang kemacetan yang mulai terjadi di Kota Kediri kemarin. Volume kendaraan menurutnya naik sekitar 50 persen.
Selain di dalam kota, kepadatan arus juga terlihat di daerah perbatasan. Mulai di simpang empat Semampir atau dari arah Surabaya, simpang empat Mrican dari arah Nganjuk. Hingga, simpang alun-alun dari arah Tosaren, dan simpang empat Jetis dari arah Ngadiluwih.
Sementara itu, meski diwarnai kemacetan dan hujan deras, kebaktian natal di sejumlah gereja tetap berjalan lancar. Termasuk ibadah di Gereja Puhsarang. Umat yang berkumpul di depan Gua Maria Lourdes Puhsarang tak beranjak meski hujan mengguyur di tengah prosesi ibadah.
Dimulai pukul 10.00, sedikitnya ada 500 umat Katolik yang beribadah di sana. Berlindung di bawah tenda, umat tetap berdoa dengan khusyuk.
“Natal tahun ini berlangung meriah karena dua tahun pandemi hanya digelar umat warga Puhsarang saja,” aku Sujarwo, 75, warga Desa Puhsarang, Kecamatan Semen. Misa kemarin pagi yang dipimpin Romo Damar diikuti ratusan umat. Sebelas tenda yang ada di depan gua semua terisi penuh.
Selesai berdoa, umat mendengarkan lantunan gamelan dari Orang Muda Katolik (OMK) yang melantunkan puji-pujian. Melihat perayaan dalam suasana suka cita kemarin, Sujarwo menganggap hal itu merupakan momentum kebahagiaan setelah dua tahun dilakukan terbatas karena pandemi. Editor : Anwar Bahar Basalamah