Seperti saat wartawan Jawa Pos Radar Kediri ini sedang mengunjungi lokasi. Begitu sepeda motor diparkirkan, tanpa segan-segan hewan berbulu abu-abu ini keluar dari hutan. Kemudian bergegas menghampiri. Mukanya terlihat memelas tanda ingin meminta makan.
Yang biasa berkunjung ke Alas Simpenan pasti hafal. Mereka akan menyiapkan makanan untuk si monyet.
“Biasanya warga kesini untuk memberi makan monyet ekor panjang,” jelas Suprihadi.
Di cagar alam ini, jumlah monyet ekor panjang mencapai ratusan ekor. Baik yang masih kecil atau sudah berukuran besar. Mereka terlihat bergelantungan di dahan-dahan pohon pagi itu. Sebagian lagi berseliweran di tanah. Menghampiri pengunjung untuk meminta makanan.
Supreh, panggilan Supriyadi, hafal betul dengan perkembangan monyet ekor panjang. Yang awalnya satu kelompok kini jadi enam. Bertambahnya populasi monyet ini terjadi sekitar tiga tahun terakhir.
Setiap lima bulan sekali monyet betina akan beranak. “Dalam satu tahun monyet betina ini dapat melahirkan dua kali,” imbuh pria yang bertugas sejak 2006 ini.
Monyet ekor panjang betina lebih cepat dewasa. Usia setahun sudah bisa melahirkan anak. Karena itulah jumlah monyet ekor panjang cepat bertambah.
Enam kelompok monyet ini terpisah di enam lokasi berbeda. Mereka biasanya terlihat di pal satu, pal empat, pal tujuh, pal delapan, sekitar pal 11 dan 12. Pal adalah sebutan untuk batas tugu antara cagar alam dan hutan produksi.
Dari enam kelompok ini, paling banyak berada di pal satu dan pal 12. Anggotanya ada 90 hingga 100 ekor. Sedangkan untuk kelompok lainnya, anggotanya kurang dari 50 ekor. Uniknya monyet ini hanya tinggal di wilayah masing-masing.
Selain itu hanya monyet ekor panjang di pal satu yang sering menunjukan diri. Karena lokasi pal satu ini dekat dengan warung, dan sering dikunjungi. Sehingga mereka banyak yang tidak takut saat didekati.
“Kalau total ini hingga ratusan monyet, jika menyerang semua ini membuat petani kewalahan,” kata laki-laki kelahiran tahun 1970.
Untuk mengusir monyet, petani biasa memasang anjing penjaga. Namun ternyata tidak semua monyet ekor panjang ini takut dengan anjing tersebut. Terutama monyet yang memiliki ukuran yang besar. Karena monyet ekor panjang ini tahu kalau anjing petani ini diikat.
Selama petugas patroli, Supreh pernah melihat monyet saat sedang mengambil singkong milik petani. Untuk mendapatkan singkong, monyet tersebut pertama berusaha mencabutnya. Namun karena gagal, akhirnya menggali tanah disekitarnya hingga berkurang.
“Petani disini jengkel, namun monyet ini lebih dahulu hidup di sana terlebih dahulu,” kata Supreh.
Yang menarik, elama 16 tahun bekerja sebagai penjaga, laki-laki asal Dusun/Desa Manggis, Kecamatan Puncu ini tidak pernah melihat bangkai monyet yang mati. Editor : Anwar Bahar Basalamah