Jarum jam menunjukkan pukul 15.00. Pria yang tinggal di Desa Pehkulon, Kecamatan Papar itu menceritakan kisahnya yang memulai usaha dan memutuskan berhenti dari bantuan sosial program keluarga harapan (PKH). Usaha itu dimulai oleh pria yang akrab disapa Hadi itu setelah bercerai dengan sang istri pada 2017 silam.
Pertama kali buka jasa potong rambut, pria berusia 52 tahun itu harus menempati pos kamling. Bangunannya sangat sempit. Hanya berkuruan 1,5x1,5 meter. Ia memilih tempat itu karena posisinya strategis. Tepat berada di depan rumahnya.
Sadar menggunakan fasilitas desa, Hadi pun meminta izin ke perangkat dan kepala desa. Gayung bersambut, niatnya membuka usaha direstui pemerintah desa. Imbal baliknya, Hadi menjadi penjaga tetap pos kamling di desanya.
Bapak dua anak itu mengaku nekat ketika membuka usaha potong rambut. “Keahlian ini saya dapat ketika di pesantren,” tutur lulusan Pondok Pesantren Lirboyo itu. Ia nekat mengambil risiko dengan menggunakan uang dari bantuan program keluarga harapan (PKH) sebagai modalnya.
“Saya ingat, awalnya pakai uang Rp 1,2 juta. Semua saya gunakan untuk modal jasa potong rambut,” kenangnya. Berbekal dua mesin potong rambut, gunting, dan kaca dia memulai usahanya.
“Karena bisa memotong cepat, pelanggan yang datang ke sini tidak perlu lama-lama,” akunya. Untuk memaksimalkan pelayanan, dia tidak hanya mengandalkan kecepatan. Dia juga terus update dengan berbagai model gaya rambut terbaru. Mengikuti tren kekinian.
Salah satu caranya adalah dengan sering berdiskusi bersama para remaja di desanya. Satu lagi yang membuat usaha Hadi cepat terkenal. Yakni, dia memberi perlakuan khusus untuk anak yatim piatu dan orang jompo. “Khusus anak yatim dan jompo saya gratiskan,” bebernya.
Dari segi tarif, dia juga tak mematok harga mahal. Saat jasa potong rambut lain memasang harga Rp 10 ribu, dia hanya separonya. Yakni, Rp 5 ribu. Dengan harga murah itu, banyak pelanggan yang memintanya menaikkan tarif. Tetapi, selalu ditolak oleh Hadi.
Memulai usaha pada 2017, hasilnya terlihat pada 2019 lalu. Uang yang dia kumpulkan dari usaha potong rambut bisa dipakai untuk membangun tempat potong rambut baru.
Lokasinya berada tepat di samping rumahnya. Tempat kerja yang baru sekarang lebih luas. Peralatan di bangunan berukuran 4x4 meter itu juga lebih luas. Peralatan di sana pun bertambah. Khususnya untuk perawatan rambut.
Untuk menarik lebih banyak pelanggan, ia juga menyediakan peralatan gratis bagi yang membutuhkan. “Alhamdulillah semua (alat, Red) bisa bermanfaat,” bebernya.
Berkat pelayanannya yang berbeda dari jasa potong rambut lain, jumlah pelanggannya terus meningkat. Pada saat weekend atau hari libur, dalam sehari bisa mencapai seratus pelanggan. Buka pagi mulai pukul 08.00, dia baru tutup pada pukul 01.00 dini hari.
Pelanggannya tidak hanya warga Desa Pehkulon saja. Melainkan banyak juga yang berasal dari Nganjuk. Hingga saat ini Hadi punya banyak pelanggan tetap. Salah satunya Riko, 19. Warga Desa Pehkulon itu mengaku sudah potong rambut di sana sejak duduk di bangku SD.
Pemuda yang berstatus sebagai mahasiswa itu suka dengan jasa Hadi karena cepat dan murah. “Orangnya juga ramah. Hasilnya rapi,” kata mahasiswa Universitas Terbuka itu kepada Jawa Pos Radar Kediri.
Hadi terbilang orang yang tekun. Berkat kerja kerasnya, dia kini sudah membuka angkringan di Kampung Inggris Pare. Mantan Tenaga Kerja Indonesia itu pun memberdayakan anak-anak muda untuk menjalankan usahanya. “Saya percaya dengan mereka. Kalau tidak jujur itu urusan mereka dengan Tuhan,” urai pria yang sekarang punya total 14 pekerja di Pare itu.
Tanah yang awalnya disewa sekarang sudah menjadi miliknya. Bisnis yang dia jalankan itu berdasarkan kepercayaan. Ia bahkan senang bila ada orang sudah bekerja dengannya lalu sukses buka bisnis sendiri. Selain di Pare, kini Hadi juga membuka angkringan di rumah.
Sebagai lulusan pesantren, Hadi mengaku tidak pernah ketinggalan melafalkan syahadat sebanyak dua kali dan salawat sepuluh kali. Doa itu dia bacakan setiap hari sebelum melayani pelanggan. Hasilnya, usahanya berkembang pesat. Keberaniannya lepas dari bantuan program keluarga harapan (PKH) kala itu, benar-benar berbuah kesuksesan. Editor : Anwar Bahar Basalamah