Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Zolanda Margareta, Enjoy Tekuni Dua Bisnis Sembari Kuliah

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 14 November 2022 | 17:10 WIB
PROFESIONAL: Zolanda Margareta menunjukkan beberapa busana koleksinya. Selain membuka usaha wedding organizer, dia juga mengelola angkringan. (Foto: Khalqinus Taaddin)
PROFESIONAL: Zolanda Margareta menunjukkan beberapa busana koleksinya. Selain membuka usaha wedding organizer, dia juga mengelola angkringan. (Foto: Khalqinus Taaddin)
Menyandang status sebagai mahasiswa tak membuat Zolanda Margareta bersantai. Tuntutan orang tua agar dia bisa mencari uang sejak muda membuatnya nekat terjun ke dunia usaha. Dia semakin termotivasi berbisnis setelah gagal menjadi polisi selepas SMA.

“Semuanya sebenarnya dimulai secara tidak sengaja,” kata mahasiswa jurusan keperawatan, Stikes Karya Husada Kediri itu mengawali kiprahnya menjalankan wedding organizer (WO) dan angkringan miliknya.

Dengan dua usaha itu, mahasiswa semester tujuh itu memang tidak bisa bersantai seperti remaja kebanyakan. Seperti saat ditemui Jawa Pos Radar Kediri pada Jumat (4/11) lalu. Sekitar pukul 23.00 dia terlihat melayani pembeli angkringan di Desa Klampisan, Kandangan.

Seolah tak mau membuang waktu, saat tak ada pelanggan yang menghampirinya, dia sibuk dengan laptop yang ada di depannya. “Saya mengerjakan skripsi. Ini masih bab 2,” lanjutnya sambil tersenyum.

Angkringan dengan menu utama nasi kucing lengkap dengan aneka lauk-pauk goreng dan bakar itu bukan satu-satunya bisnis Wanda. Selain usaha yang dibuka tiga bulan lalu itu, gadis berusia 20 tahun itu sudah memiliki bisnis wedding organizer (WO) yang dibuka sejak 2018 lalu.

Jika pembukaan angkringan dilakukan setelah dia melihat tren remaja yang suka cangkruk, WO miliknya sengaja jadi tempat untuk penyaluran hobi. Kebetulan, Wanda sudah belajar make up secara otodidak sejak SMP. “Awalnya hanya membantu bisnis WO milik Ibu,” bebernya.

Dari sekadar mengamati, dia lantas belajar merias secara otodidak dengan praktik langsung. Sebagai ajang ‘praktik’, sulung dari tiga bersaudara ini merias anak-anak yang mengikuti pawai didesanya. Sukses dengan tugas pertamanya, dia ganti merias siswa-siswi yang mengikuti acara di sekolah. Seiring berjalannya waktu, Wanda berani merias pengantin.  “Alhamdulillah. Sekarang, kalau ada acara pernikahan, saya dicari untuk merias,” paparnya.

Dengan semakin berkembangnya usahanya, Wanda tak bisa menangani bisnisnya sendiri. Melainkan menjalankan usaha bersama empat temannya. Mereka menggarap acara pesta pernikahan bersama-sama. Tak sekadar merias saja. Melainkan mengonsepkan acara lengkap dengan dekorasinya.

Wanda bersyukur, empat tahun berdiri mereka sudah mendapat job beberapa pernikahan besar. Di saat yang sama, gadis yang memang antusias bekerja ini masih bisa menggarap order make up wisuda, dan rias skala kecil lainnya.

Dia mencontohkan, saat wisuda di kampus, Wanda mendapat job merias 15 peserta paduan suara. Selain itu, dia juga di-order untuk merias dua wisudawati. “Untuk make up wisuda, setiap orang dipatok Rp 350 ribu. Kalau paduan suara murah karena mereka mahasiswa. Per orang hanya Rp 50 ribu,” bebernya.

Bagaimana dengan rias pengantin? Wanda mematok tarif yang lebih mahal meski tetap terhitung ramah di kantong. Khusus untuk make up pengantin dia mematok Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta. Tergantung jenis skin care yang dipakai. Jika pengantin meminta paket fotografer plus videografer, dia mematok tarif Rp 1,3 juta.

Mengapa Wanda yang masih berstatus mahasiswa justru menyibukkan diri dengan dua bisnis yang waktunya tak menentu itu? Ditanya tren anak muda yang lebih suka hang out dan cangkruk, gadis berambut lurus itu mengaku juga masih bisa berkumpul dengan teman-temannya.

Meski demikian, dia termotivasi berbisnis karena didikan orang tuanya. “Saya diharuskan untuk bekerja keras oleh orang tua. Saya dituntut untuk belajar cari uang,” tandasnya.

Tekadnya untuk berbisnis juga semakin terlecut setelah dia gagal masuk seleksi polisi setelah lulus SMA. Wanda yang sempat bercita-cita menjadi polisi itu harus memendam sedalam-dalamnya cita-cita menjadi abdi negara.

“Batal jadi polisi karena satu dua hal. Akhirnya banting setir belajar bisnis,” kenangnya. Meski orang tua bisa saja memfasilitasinya, Wanda tetap memulai dari tangga paling bawah. Tidak ujuk-ujuk mendapatkan modal untuk memulai bisnis.

Untuk membuka usaha angkringan tiga bulan lalu, dia harus menabung. “Ini (angkringan, Red) murni dari hasil make up yang saya kerjakan,” imbuhnya bangga.

Selain sibuk berbisnis, Wanda juga berusaha menerapkan ilmu yang didapatnya di jurusan keperawatan. Misalnya, dengan membantu memeriksa warga yang sedang dalam kondisi kurang sehat.

“Kalau ada keluarga yang panas atau warga sekitar ada yang sakit, saya bantu cek tensi darah atau periksa kolesterol,” urainya sembari memastikan melakukannya sesuai pengetahuan dan kode etik keperawatan.

“Kalau menyarankan meminum jenis obat, saya tidak berani. Karena yang berhak menentukan itu dokter. Kalau saya hanya memeriksa kesehatan saja,” pungkasnya. Editor : Anwar Bahar Basalamah
#berita terkini #seputar kediri #wedding organizer kediri #kediri #kabar kediri terkini #info terbaru kediri #make up #info kediri #viral kediri #berita terbaru #berita kediri terbaru #berita kediri terkini #wo kediri #kediri lagi #edding organizer #berita viral kediri #kabar kediri #kediri news