Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Clarissa, Balita Gizi Buruk yang ‘Dikepung’ Penyakit sejak Lahir

Anwar Bahar Basalamah • Rabu, 9 November 2022 | 18:25 WIB
BANGGA: Muh Ali Shodiqin menunjukkan trofi yang didapat usai mengangkat cerita KH Muslim Manan dari Ngreco, Kandat di lomba esai Kiaiku. (Foto: Ilmidza Amalia Nadzira)
BANGGA: Muh Ali Shodiqin menunjukkan trofi yang didapat usai mengangkat cerita KH Muslim Manan dari Ngreco, Kandat di lomba esai Kiaiku. (Foto: Ilmidza Amalia Nadzira)
Bila bisa mengeluh, balita 28 bulan ini mungkin akan melakukannya. Deraan penyakit yang dia rasakan sejak lahir. Membuatnya hanya bisa tergeletak lemas di tempat tidur.

Tubuh balita itu kurus. Sangat terlihat tidak normal. Berat badannya tak sampai lima kilogram. Hanya 4,7 kilogram saja! Padahal usianya sudah 28 bulan. Seharusnya, dalam usia seperti itu bobotnya tujuh hingga sebelas kilogram.

Belum lagi, secara fisik juga tidak seperti balita-balita lain. Tangannya bengkok di bagian pergelangan. Kondisi yang diperoleh sejak lahir.

Dalam keadaan seperti itu, sang balita hanya bisa terbaring lemas di tempat tidur. Wajahnya terlihat gelisah. Seperti menahan rasa sakit.

“Ini memang lagi sakit.  Sudah seminggu ini, makanya agak rewel,” ucap Nevita Yoana. Wanita 28 tahun ini adalah ibu sang balita yang bernama Clarissa Vibiola Putri Yoana.

Di kamar ukuran 3x3 meter itu, Nevita terus mengipasi sang buah hati dengan selembar kertas. Sambil menyelonjorkan kakinya ke kasur tanpa dipan. Sedangkan punggungnya bersandar pada dinding kamar yang terlihat kusam. Berjamur di beberapa bagian.

Nevita mencoba membuat anaknya merasa nyaman. Meskipun, upayanya itu tak mampu sepenuhnya menghentikan tangis sang balita. Beberapa kali suara tangis sang anak pecah.

Sejak dalam kandungan, perjalanan hidup Clarissa diwarnai dengan ketidakwajaran. Di awal kehamilan, sang ibu masih terus mengalami menstruasi. “Ini menstruasinya sangat lama, hampir dua bulan. Akhirnya kami periksa ke dokter,” kenang Dimas Nyoman Prasetyo, sang ayah.

Ketika dilakukan pemeriksaan dengan ultrasonografi (USG), ternyata ada janin di perut Nebita. Yang sudah terdengar detak jantungnya. Artinya, saat itu dia sudah hamil tiga bulan.

Saat itu dokter mendiagnosa Nevita keguguran, karena mengalami pendarahan hebat. Karena itu, bila bayinya dipertahankan akan berisiko.

“Tapi kami memilih mempertahankan karena tidak tega sudah mendengar bunyi detak jantung anak kami. Kami ikhlas apapun yang terjadi akan kami rawat dengan sepenuh hati,” terang pria yang beralamat di Kelurahan , sambil mengatakan saat itu dokter menyarankan untuk kiret.

Ketika menginjak usia kandungan lima bulan, Nevita kembali USG. Hasilnya, kondisinya terlihat normal. Demikian pula dengan detak jantung. Hingga bulan ke tujuh juga tidak menunjukkan tanda-tanda kelainan.

Namun, saat melahirkan, Nevita kaget. Kedua tangan anaknya tak bisa lurus seperti bayi umumnya. Bengkok di kedua ujungnya.

Dokter mendiagnosa sang bayi menderita jantung bocor. Langit-langit mulutnya juga tidak normal. Ada lubang kecil yang tembus hingga hidung. Kondisi itu membuat Clarissa tak mampu berbicara hingga saat ini.

“Ini mau kami ikutkan program operasi langit-langit di RS Pare,” imbuh laki-laki 25 tahun ini.

Meskipun mendapati anak dengan berbagai keterbatasan kondisi, keluarga yang tinggal di Jl Sriwijaya, RT 1 RW 2 Kelurahan Kemasan, Kecamatan Kota ini tetap menganggap Clarissa sumber kebahagiaan. Melihat senyum sang buah hati sudah membuat mereka bahagia. Apalagi, ketika mendapati fakta kedua mata putri keduanya ini normal.

“Setidaknya dia bisa melihat.  Kami sangat berharap juga nanti dia bisa berbicara,” harap pria yang bekerja sebagai kuli bangunan ini.

Segala upaya sudah dilakukan pasangan yang menikah sejak 2019 ini agar sang bayi menjadi sehat dan normal. Mengobatkan rutin ke RSUD Gambiran hingga dirujuk ke RS Dr Soetomo Surabaya. Di rumah sakit milik Pemprov Jatim itu Clarissa menjalani operasi.

“Operasi jantung menunggu usia anak 5 tahun dan berat badannya minimal 10 kilogram,” terang Dimas.

Kondisi Clarissa ini juga menjadi perhatian pemkot. Kemarin kediaman Clarissa didatangi oleh istri Wali Kota Kediri Feri Silviana Abdullah Abubakar, yang karib disapa Bunda Fey. Dia didampingi oleh Kepala Dinas Kesehatan  Kota Kediri dr Fauzan Adima.

Bunda Fey mengatakan, kondisi Clarissa sudah dipantau oleh Puskesmas Kemasan. Karena berat badannya di bawah garis merah akibat kelainan bawaan. “Kondisinya tidak bisa disamakan dengan bayi lain. Ada kelainan jantung dan konginetal di mulutnya itu susah untuk naik. Kami juga lakukan evaluasi terhadap Clarissa,” tuturnya.

Pemkot akan memantau terus kondisi Clarissa hingga usia 5 tahun. Agar bisa menjalani operasi untuk berbagai kelainan bawaannya itu. Editor : Anwar Bahar Basalamah
#berita terkini #seputar kediri #kediri #kabar kediri terkini #bayi #info terbaru kediri #info kediri #viral kediri #berita terbaru #berita kediri terbaru #berita kediri terkini #balita #kediri lagi #Balita Gizi Buruk #berita viral kediri #kabar kediri #kediri news