Jangan heran bila di jalanan Kediri kita melihat kendaraan listrik mulai berseliweran. Karena dibanding tahun lalu, peminat kendaraan listrik di Kediri tahun ini mengalami peningkatan. Baik mobil, sepeda motor, maupun sepeda listrik.
Salah satu pemicunya adalah harga bahan bakar minyak (BBM) yang kian mahal. Membuat sebagian orang memilih bermigrasi ke kendaraan listrik.
Denyut kenaikan penjualan yang paling terasa adalah sepeda listrik. Wajar, karena harga kendaraan ini masih ‘ramah’ di kantong. Setidaknya bila dibanding sepeda motor dan mobil.
“Dalam seminggu bisa terjual lima unit,” aku Edy Susilo, marketing CV Surya Mas Citra Niaga, distributor sepeda listrik merek Viar.
Berbeda dengan yang sepeda motor. Dalam sebulan, paling hanya bertambah lima unit.
Meningkatnya peminat dua jenis kendaraan listrik itu dipengaruhi oleh kemudahan dalam operasional. Khususnya terkait pengisian baterai. “Kalau ngecas bisa daya (listrik) berapa saja,” terangnya.
Lama pengecasan juga ‘hanya’ lima jam. Itu untuk jarak tempuh 60 kilometer. Karena jarak tempuh yang belum jauh itulah peminat kebanyakan menggunakan untuk kota-kota. Belum digunakan perjalanan jarak jauh. Karena daya yang dimiliki hanya 2 KWh.
Beda dengan mobil listrik yang masih sedikit peminatnya. Harga dan pengisian baterai yang butuh daya listrik besar menjadi faktornya. “Tahun ini kami bisa menjual lima unit mobil listrik,” aku Rikko, kepala cabang Wuling Perdana Kediri.
Dalam sekali charge, mobil listrik ini bisa menempuh jarak 200 kilometer. Permasalahannya, masa pengisian bisa sampai 11 jam. Kalaupun fast charger, waktu pengisian bisa terpangkas menjadi empat jam.
Yang membuat mobil listrik belum begitu banyak peminatnya adalah kebutuhan daya listrik. Idealnya, rumah yang bisa mengisi baterai mobil listrik harus punya daya sebesar 2.200 volt amper. “Kalau 1.300 VA sebenarnya tetap bisa tapi waktunya lama, bisa 11 jam,” lanjutnya.
Sementara, stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU)-semacam SPBU untuk kendaraan listrik-belum ada. Ini yang membuat pergerakan mobil listrik masih lamban.
Pihak PLN mengakui memang belum menyediakan tempat khusus untuk mengisi baterai kendaraan listrik itu. Karena saat ini masih dalam proses pengadaan. “Proses mencari lokasi yang tepat,” aku Humas PLN UP3 Kediri Muhammad Noor.
Namun, Noor menyebut, pihaknya memiliki puluhan stasiun penyedia listrik umum (SPLU). SPLU ini punya daya yang lebih kecil dibanding SPKLU. Namun, peruntukannya juga lebih bermacam-macam. Di Kediri, jumlah SPLU mencapai 66 tempat.
Soal suplai listrik, Noor mengatakan PLN mampu memenuhi kebutuhan kendaraan listrik. Untuk saat ini, total daya di wilayah kerja UP3 Kediri mencapai 592 mega volt amper (MVA).
“Kita surplus 233,55 MVA karena beban saat ini hanya 358,45 MVA,” katanya. Kelebihan daya ini menjadi modal persiapan Kediri nanti menghadapi serbuan mobil listrik atau kendaraan masa depan. Editor : Anwar Bahar Basalamah