Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Dhiya’ Ulhaq, Siswa MAN 2 Kota Kediri Raih Emas di OSN dan KSM Integrasi

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 24 Oktober 2022 | 18:00 WIB
MEMBANGGAKAN: Dari kiri Dr. H Ahmad Zuhri (Kakenmenag Kediri), Dr. H. Husnul Maram, MHI (Kakanwil Kemenag Jatim) M. Dhiya’ Ulhaq dan Drs. Nursalim, M.Pd.I (Kepala MAN 2 Kota Kediri). (Foto: MAN @ KOTA KEDIRI FOR JPRK)
MEMBANGGAKAN: Dari kiri Dr. H Ahmad Zuhri (Kakenmenag Kediri), Dr. H. Husnul Maram, MHI (Kakanwil Kemenag Jatim) M. Dhiya’ Ulhaq dan Drs. Nursalim, M.Pd.I (Kepala MAN 2 Kota Kediri). (Foto: MAN @ KOTA KEDIRI FOR JPRK)
Kecintaan Muhamad Dhiya’ Ulhaq pada Biologi mengantarkannya meraih prestasi membanggakan di ajang bergengsi. Yakni di Olimpiade Sains Nasional (OSN) yang digelar Kemdikbud Ristek Dikti. Satu lagi di ajang Kompetisi Sains Madrasah (KSM) yang diselenggarakan Kemenag RI.

Muhamad Dhiya’ Ulhaq tak bisa menutupi keceriaannya ketika hadir di ruang Kepala MAN 2 Kota Kediri Drs. H. Nursalim M,Pd.I siang itu. Sengaja dia dihadirkan siang itu untuk bercerita atas sukses besar yang diraihnya dalam ajang OSN maupun KSM-Integrasi bidang Bilogi.

“Ini seperti mimpi,” katanya sembari mengusap kedua tangan ke muka mengawali perbincangannya dengan Jawa Pos Radar Kediri.

Dhiya-M. Dhiya’ Ulhaq akrab disapa, mengaku sering mengikuti olimpiade biologi. Puluhan lomba diikuti baik tingkat daerah atau nasional. Beruntung atau tidak baginya urusan belakang. Terpenting baginya adalah terus mencoba segala peluang.

Di ajang KSM Dhiya’ merasa perjuangannya berat. Tak lain karena pesaingnya adalah siswa terbaik daerah yang sebagian dia juga kenal. Bahkan Dhiya mengaku sulit mengalahkan mereka. “Saya kenal dan terus memantau. Mereka berpengalaman baik kompetisi di kampus-kampus ataupun lomba tahunan. Mereka konsisten sedangkan saya naik turun,” ungkap pemuda kutu buku asal Tuban tersebut.

Sialnya, menjelang babak final Kompetisi Sains Madrasah (KSM) yang digelar di Asrama Haji Jakarta Timur 14 Oktober lalu dia terserang flu. Flu semakin parah ketika memasuki uji tes praktikum. Dhiya’ sendiri mendapat tugas merangkai potongan dua jenis tulang belulang dari unggas. Merangkai potongan tulang sayap dan kaki yang telah disterilkan. “Jujur sempat pesimis, saya kerjakan sebisanya. Waktunya tiga jam. Tapi saya selesai dua jam sisanya saya ngedrop dan memutuskan istirahat di kamar,” tutur remaja penyuka film ini.

Namun, di luar dugaan, Dhiya’ ternyata berhasil menjadi yang terbaik dan mendapat medali emas.

KSM-I adalah olimpiade yang baru dia ikuti. Mekanisme lomba hampir sama dengan OSN. KSM-I diikuti ribuan sekolah dan madrasah seluruh Indonesia. Digelar hybrid, offline dan online. Meliputi enam bidang lomba yaitu biologi, matematika, kimia, fisika, ekonomi dan geografi. Dhiya’ mengikuti bidang biologi. Meliputi analisis data indeks keanekaragaman hayati di taman nasional. Hingga menganalisis efektivitas pakan burung puyuh. Dhiya’ berharap ke depan bisa melangkah ke ajang International Biology Olympiad (IBO). “Minta doanya semoga saya lolos tahun depan,” harap siswa yang bercita-cita dokter itu.

Di Olimpiade Sains Nasional, Dhiya’ juga sukses mendapatkan emas. Ini sekaligus memperbaiki capaiannya tahun lalu yang meraih perunggu. Karena itu, Dhiya berkesempatan mendapat pembinaan olimpiade khusus dari panitia. Pembinaan dilatih oleh pelatih berpengalaman di bidang biologi. OSN tahun ini digelar online. Pemberkasan diikuti ratusan ribu peserta dan Dhiya’ berhasil mewakili provinsi setelah mengalahkan peserta lainnya. Final digelar tanggal 4-5 Oktober kemarin. Di babak final tugasnya mengisi 400 pertanyaan. Serta sesi praktikum yang meliputi pembahasan empat objek yaitu hewan, tumbuhan, mikrobiologi dan biokimia. “Saya disuruh menjelaskan metode paktikum, analisis data, hingga klasifikasi objek,” jelas remaja kelahiran 2004 itu.

Selama berpartisipasi lomba, Dhiya’ sudah memenagkan 6 kali juara secara keseluruhan. Lomba yang dia ikuti beragam. Mulai olimpiade biologi, lomba kedokteran gigi hingga olimpiade farmasi.

Konsisten belajar adalah kunci penting yang membawanya menjadi double winner di tahun ini. Mengerjakan soal-soal, membaca buku pelajaran dan jurnal penelitian rutin dia lakukan siswa kelas XII MIPA 3 itu usai pulang sekolah.

Selain doa dari orang tua, Dhiya’ mengaku sukses yang diraih tak lepas dari dukungan dari guru-gurunya, utamanya Endah, guru pembimbingnya. Termasuk Kamad Nursalim yang rela berangkat dari Batu usai pelatihan menuju Jakarta demi mendampinginya tampil di final. “Rasanya capek Batu-Jakarta tidak terasa ketika siswa kami bisa juara,” kata Nursalim yang kemarin mendampingi Dhiya’ wawancara. Setiap siswa mendapat peluang dan layanan yang sama dari madrasah, mulai pembinaan, pendampingan, dan pembekalan serta pembiayaan saat mengikuti lomba. Nursalim berharap Dhiya’ bisa menjadi teladan bagi siswa lain agar selalu berusaha meraih prestasi. “Terus semangat Dhiya’ kami bangga atas prestasi yang diraih,” pungkas Nursalim. Editor : Anwar Bahar Basalamah
#berita terkini #seputar kediri #kediri #kabar kediri terkini #pendidikan #info terbaru kediri #info kediri #viral kediri #berita terbaru #berita kediri terbaru #berita kediri terkini #Raih Emas di OSN dan KSM Integrasi #man 2 kota kediri #osn #kediri lagi #sekolah #pelajar #KSM Integrasi #berita viral kediri #kabar kediri #kediri news