Tujuh perempuan melenggok-lenggokkan tubuhnya. Berseragam warna jingga, para wanita ini mencoba memeragakan tari Jejer Dawuk. Tarian asal ujung timur Jawa Timur, Banyuwangi.
Gerakannya memang tak begitu lincah. Terkesan kaku. Dan ini sangat wajar karena mereka bukanlah seorang seniman tari. Melainkan warga binaan pemasyarakatan (WBP)-istilah untuk narapidana-Lapas Kediri. Dan, tidak seorang pun dari mereka punya latar belakang penari ketika masih bebas dulu.
Pun, ketujuhnya tetap menari. Lenggak-lenggok tubuh mereka lama-lama terlihat luwes. Kenes dalam menggerakkan kain dan kokoh ketika berjinjit.
Mereka tak belajar sendirian. Ada pelatih yang memandu. Salah seorang di antaranya adalah Kepala Bimbingan Narapidana dan Anak Didik (Binadik) Lapas Kediri Harry Suryadi Poespo Hardjono.
“Sekitar lima bulan berlatih. Sejak Mei 2022, kalau tidak salah,” ucapnya mencoba menjawab pertanyaan kapan aktivitas berkesenian ini mulai berlangsung.
Latihan itu tergolong baru. Karena dua tahun lamanya mereka harus vakum kegiatan tatap muka. Penyebabnya apa lagi kalau bukan masa pandemic.
Seorang WBP yang menari itu adalah Eva. Yang mengaku antusias belajar seni tari karena bosan setiap hari hanya bersih-bersih Lorong.
“Awalnya ada pengumuman akan diadakan seni tari, lha kami ingin ikut kegiatan yang bermanfaat saja, sudah bosan di sel terus,” ujar perempuan 30 tahun asal Kediri itu, diselingi canda.
Wanita yang terseret kasus narkoba ini mengaku diajak oleh Farida, rekannya sesama narapidana tapi yang ‘tertua’. Bukan karena usia, melainkan dari masa pidananya. “Mbak Farida itu selalu mendukung kami, seperti ngoyak-ngoyak untuk ikut latihan,” terangnya.
Latihannya secara mandiri. Ditemani pengeras suara, laptop, dan pakaian yang mereka jahit sendiri. Karena masa pandemic, mereka memutuskan tak memasukkan orang luar ke lingkungan lapas.
Bagi Eva dan Farida, menari menjadi sarana refreshing dari rutinitas di sel masing-masing. Membuat pikiran mereka segar. Sekaligus bisa menjadi modal keahlian setelah bebas nanti.
“Setelah keluar dari sini insya Allah nanti kalau diizinkan juga bisa buat bekal menjadi guru tari,” katanya sedikit tersipu.
Para penari ini pernah menunjukkan kebisaannya di hadapan orang banyak. Yaitu Agustus lalu. Saat pelepasan remisi umum. Hasil dari berlatih selama dua bulan.
Lelah dan letih juga mereka dapatkan. Bahkan, ada pula yang tumbang. Kaki keseleo atau badan sudah tak kuat. Tapi, tidak bagi tujuh perempuan tangguh ini. Meski lelah dan sakit, mereka tak menyerah. Dari tidak paham sama sekal menjadi bisa menari.
Hebatnya, mereka seperti menjadi multitalenta. Karena sering dilibatkan dalam kegiatan lain, beberapa keahlian mereka miliki. Seperti Farida misalnya, pernah ikut lomba menjahit. “Ini seragam juga kami yang desain sendiri, lho, Mas,” kata para wanita itu, kompak.
Lapas memang memberi kebebasan untuk mengekspresikan diri bagi para wanita itu. Baik itu pilihan kain atau gerakan tarian. Semuanya ide para WBP.
Impian mereka saat ini sederhana saja. Ingin mengajarkan kebaikan. Setelah mendapatkan banyak pelajaran dari dalam Lapas. Mereka ingin berubah dan terus berbenah. Bekalnya adalah kegiatan yang selama ini mereka dapatkan. “Pokoknya keluar dari sini, kalau ada yang mau tanggapan dan berlatih, saya siap,” kata Wulan, napi yang lain, bersemangat. Editor : Anwar Bahar Basalamah