“Yang tidak ada inovasi harus gulung tikar,” ucap Muhammad Baidlowi, owner Seventeen English Pare menggambarkan situasi yang terjadi di Kampung Inggris selama pandemi. Begitu banyaknya lembaga kursus yang harus gulung tikar karena tak memiliki siswa.
Baidlowi pun berinovasi dengan mengalihkan pembelajaran dari offline menjadi online. Meskipun hasilnya tetap tak cukup untuk membiayai 14 teacher dan tutor. Pria yang disapa Mr Bay ini terpaksa menjual inventaris kantornya. Mulai kamera hingga kasur. Termasuk pula menjual properti pribadi agar survive.
“Siswa yang belajar online tidak seperti ketika offline,” kenang pria yang kini tinggal di Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare tersebut. Siswanya hanya dalam hitungan jari. Kalaupun ada 100 yang bertanya, yang nyantol hanya lima orang saja!
Di akhir 2021, angin segar mulai terembus, meskipun sangat tipis. Siswa mulai berdatangan karena ada kebijakan pembelajaran tatap muka meski terbatas. Kemudian, tahun ini, jumlahnya kian bertambah. Meskipun tak sebanding seperti 2018, di masa sebelum pandemi yang jumlahnya bisa belasan ribu. Tahun ini ada sekitar enam ribu siswa yang belajar di Kampung Inggris Pare.
Seperti pepatah patah tumbuh hilang berganti, kursusan yang tutup kini mulai berganti dengan yang baru. Bulan ini saja ada tiga lembaga baru yang mengajukan masuk ke Forum Kampung Bahasa (FKB). “Semua kursusan jadi baru semua. Yang lama-lama harus rebranding,” ucap pria 35 tahun yang juga sekretaris II FKB.
Belajar dari pengalaman, kehadiran lembaga baru mulai diperketat. Harus sudah mengantongi izin operasional dari Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Kediri. Juga melapor ke desa tempat memulai aktivitas belajar mengajar. Hal ini karena FKB tak ingin eksistensi Kampung Inggris tercoreng karena munculnya kursusan abal-abal. Karena itu, lembaga kursus yang baru harus terdata agar mudah pengawasannya. “Data terakhir kami, jumlah kursusan di Kampung Inggris Pare ada 165 lembaga,” tegasnya.
Sikap FKB Pare mendapat support dari Plt Kadisdik) Mokhamat Muhsin. Selain melakukan pengawasan secara offline, dia juga mengapresiasi forum bahasa Pare yang aktif memantau website.
“Kadang muncul promosi lembaga kursus di medsos tapi tidak sesuai dengan kenyataannya. Masyarakat tidak boleh lagi tertipu hal-hal semacam itu,” ujar Muhsin. Karena itu, butuh peran semua lapisan masyarakat untuk mencegahnya. Sedangkan Disdik hanya akan memberi izin operasional bagi kursusan yang sudah melengkapi semua persyaratan termasuk akta pendirian lembaga. Editor : Anwar Bahar Basalamah