Ritual Mendem Golekan dimulai sekitar pukul 09.00. Ratusan warga yang semula berkumpul di kantor desa langsung mengarak boneka mengikuti rute yang ditentukan. Memakai baju adat Jawa, di barisan paling depan tokoh desa menggendong kotak berisi boneka. Menempuh jarak sekitar dua kilometer.
Kepala Desa Kandangan Hendro Misdiono mengungkapkan, ritual Mendem Golekan kembali digelar meriah setelah sempat dirayakan secara terbatas selama pandemi. “(Ritual, Red) Mendem Golekan ini sebagai pengganti tumbal,” kata Hendro tentang tradisi yang selalu digelar saat bersih desa itu.
Pria berusia 60 tahun itu menjelaskan, boneka yang diarak dan dipendam kemarin bukan boneka biasa. Melainkan, boneka yang terbuat dari hasil alam. Total ada dua boneka yang diarak. Satu boneka berjenis kelamin laki-laki dan satu perempuan.
Diletakkan di kotak sepanjang sekitar 60 sentimeter, dua boneka dibuat dari ketan, beras, kedelai, dan kacang hijau. “Bahan-bahannya tidak boleh asal-asalan. Kualitas ketan hingga kacang ijo itu harus yang paling bagus,” paparnya.
Tradisi Mendem Golekan menurut Hendro sebagai pengganti ritual tumbal. Setelah diarak, bonekanya ditanam atau dikubur di perempatan dan di tengah jalan. Sebelum ditanam, boneka tersebut akan ‘disembelih’ lebih dulu.
Dengan ritual tersebut, diharapkan Desa Kandangan bisa terhindar dari wabah penyakit. “Harapannya hasil pertanian melimpah dan kondisi sosialnya tetap kondusif. Terjaga keamanan dan kenyamanannya,” urai Hendro.
Sementara itu, usai memendam boneka, warga langsung beremut gunungan berisi hasil bumi yang ikut diarak. “Kami senang karena acara Mendem Golekan bisa kembali dilaksanakan,” terang Imam, 53, salah satu warga yang mengikuti ritual. Editor : Anwar Bahar Basalamah