Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Wahyudi Romadoni dan Ketekunannya Membuat Jaran Kepang

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 11 Juli 2022 | 20:49 WIB
SEPENUH HATI: Wahyudi Romadoni menjahit kuda lumping di rumahnya. Karyanya dijual hingga ke berbagai daerah di luar Jawa. (Foto: Iqbal Syahroni)
SEPENUH HATI: Wahyudi Romadoni menjahit kuda lumping di rumahnya. Karyanya dijual hingga ke berbagai daerah di luar Jawa. (Foto: Iqbal Syahroni)
Bagi Wahyudi Romadoni, kesenian jaranan atau kuda lumping sudah mendarah daging. Mulai menjadi pemain atau njaran, menjadi penabuh gendang, hingga sekarang dia membuat kuda lumping yang sudah dijual ke berbagai daerah di Indonesia.

Suara gendang terdengar sayup-sayup dari gang kecil di sebelah barat jembatan Simpang Lima Gumul (SLG), Selasa (5/7) siang. Suara yang bersumber dari rumah Wahyudi Romadoni di Desa Paron, Ngasem itu rupanya berasal dari pukulan pemuda berusia 24 tahun tersebut. “Ini sedang main-main saja,” kata pria yang akrab disapa Doni ini sambil tersenyum.

Menjalani pekerjaan sebagai pembuat jaran kepang dan celengan, dia memang tidak melulu disibukkan dengan aktivitas itu. Hari-harinya juga diisi dengan kegiatan seni. Salah satunya, menabuh gendang yang sudah digeluti sejak bertahun-tahun silam.

Setelah puas bermain gendang, Doni kembali fokus mengerjakan pesanan jaranan. Dia menali irisan bambu di badan jaran kepang yang diletakkan di depan rumahnya.  “Ini pesenan dari Trenggalek, akhir bulan (Juli, Red) harus selesai,” lanjutnya sambil terus melanjutkan pembuatan jaranan.

Membuat jaranan memang tidak bisa dilakukan dalam waktu cepat. Satu unit jaran kepang bisa dikerjakan lebih dari sebulan. Jaran kepang yang ada di tangan Doni waktu itu sudah digarap sejak tiga minggu sebelumnya.

Total ada satu paket berisi enam jaran kepang yang diminta. Dia pun harus menyelesaikan satu per satu kerajinan tersebut. “Sesekali dibantu sama adik saya dan juga ponakan,” paparnya.

Anak pertama dari pasangan Abdul Munif dan Kurniasih itu mengaku sering mendapat bantuan saudaranya saat mendapat pesanan besar. Hal ini untuk menjaga orisinalitas buatan khas Doni.

Suatu kali, dia juga pernah membuat celengan dengan dibantu anak-anak kecil yang sering melihatnya bekerja di depan rumah. “Mereka hanya membantu menjemur saja. Tetapi itu sudah lumayan,” kenangnya.

Dari mana Doni mendapat keterampilan membuat jaran kepang? Kemampuan itu didapat dari pengamatan dan pengalamannya di bidang seni. Pemuda yang sering melihat pembuat jaran saat pentas jaranan itu mengaku tertarik untuk belajar.

Pemuda yang besar di keluarga seniman ini memang sudah akrab dengan seni jaranan sejak di bangku SD. “Apalagi di sini (Paron, Red), yang suka jaranan itu banyak, Mas. Kampung jaranan,” bebernya.

Anak-anak yang gemar menari jaranan itu lantas mencoba membuat  peralatan sendiri. Mulai kepang, barongan, celeng, dan gamelan Jawa semuanya dipelajari. Bertahun-tahun mengakrabinya, dia lantas piawai membuat jaranan dan celengan.

Tak sekadar membuat jaranan dan celengan saja, Doni juga aktif melatih anak-anak menari jaranan. “Saya juga menjadi penabuh gendang. Memang suka dengan jaranan,” urai pemuda yang melatih tari jaranan anak-anak hingga ke Tulungagung, Trenggalek, dan Jombang itu.

Tak hanya belajar tari jaranan dari Doni, anak-anak itu juga langsung memesan jaranan dan celengan darinya. Doni bersyukur, para pembeli tidak hanya datang dari area Kediri Raya. Melainkan, kini sudah menyebar hingga ke Sulawesi, Jawa Tengah, hingga ke Kalimantan. “Samarinda, Balikpapan, Bontang, semua sudah pernah membeli,” terangnya.

Bahkan, pada Mei lalu, ia sempat mengirimkan jaran kepang permintaan anggota DPRD Bontang, Kalimantan Timur. Pesanan dari wakil rakyat itu sangat berkesan bagi Doni. Dia masih ingat betul saat utusan DPRD tiba-tiba menghubungi Facebook-nya dan meminta satu paket jaran kepang.

Dia menduga, orang-orang dari luar Kediri itu mengetahui jaran kepang dari kerabat atau kenalan mereka yang dari orang Jawa. Makanya, begitu mendapat pesanan dari luar Jawa dia mengaku senang. Bukan sekadar mendapat cuan. Melainkan dia juga ikut mengenalkan seni jaranan ke luar Jawa.

“Sekadar dipajang atau untuk bermain tidak masalah. Yang penting mereka bisa mengenal jaranan. Saya sudah senang,” akunya.

Selain lewat pembuatan jaranan, Doni mengaku akan terus berusaha mengenalkan jaranan kepada masyarakat. Menularkan “virus” cinta kesenian daerah lebih luas lagi. Tujuannya, agar budaya peninggalan leluhur ini tidak tergerus zaman. “Kalau bukan kita yang melestarikan, siapa lagi?” tandasnya dengan nada tanya. Editor : Anwar Bahar Basalamah
#desa paron #radar kediri #berita terkini #budaya #seputar kediri #kuda lumping #harmoni kediri #gendang #info kediri raya #info kediri #berita terbaru #berita hari ini #info terbaru #budaya jaranan #njaran #ngasem #info terkini #jaran kepang #jaranan #info hari ini #kediri lagi #seni #budaya jaran kepang #berita kediri #kabar kediri #kediri news