Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Suyadi, Guru Seni yang Juga Pelukis Senior di Kediri

Anwar Bahar Basalamah • Kamis, 30 Juni 2022 | 18:50 WIB
DEDIKASI: Suyadi berada di dekat karya lukisnya yang dipamerkan di salah satu pusat pertokoan di Kediri kemarin. (Foto: Ilmidza Amalia Nadzira)
DEDIKASI: Suyadi berada di dekat karya lukisnya yang dipamerkan di salah satu pusat pertokoan di Kediri kemarin. (Foto: Ilmidza Amalia Nadzira)
Suyadi bercita-cita jadi seniman peran. Seperti ayahnya dulu yang pemain ketoprak. Tapi nasib membawanya menjadi seorang pelukis.

Ratusan lukisan dipajang berderet di lantai tiga salah satu pusat perbelanjaan di Jalan Hayam Wuruk. Milik para pelukis di Kediri, yang meramaikan pameran berlabel Obor 4. Dua di antaranya adalah milik Suyadi. Lukisan yang menggambarkan sungai di tengah hutan serta lukisan air terjun.

Berdiri di samping karyanya, sang pelukis terlihat berbincang dengan seorang pengunjung yang berseragam SMA. Sesekali tangannya menunjuk ke lukisan yang berada di standing kayu. Terdengar suaranya memberi penjelasan mengenai lukisan.

“Ini namanya lukisan realis. Artinya, lukisan yang menggambarkan objek yang sebenarnya. Ataupun berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Mulai dari suasana, karakter, dan objek,” tutur Suyadi. Sang pengunjung terlihat menyimak penjelasan itu dengan serius.

Bagi dunia lukis di Kediri dan sekitarnya, nama Suyadi sudah tak asing. Dia tergolong pelukis senior. Kiprahnya sudah tak diragukan lagi. Karyanya sudah ratusan. Berpuluh-puluh kali pula mengikuti pameran. Hingga ke berbagai kota di tanah air.

Aktivitas menggambar di kanvas itu dia tekuni sejak 1982. Ketika masih duduk di bangku SMP. Langsung terpikat dengan aliran realis. Kemudian, karena hasratnya menjadi seorang seniman dia pun berkuliah di jurusan seni rupa Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Negeri Malang, yang sekarang menjadi Universitas Negeri Malang itu.

“Cita-cita saya sebenarnya jadi bintang film,” ucap lelaki yang saat itu mengenakan topi pelukis ini.

Hasrat sebagai bintang film bukan tanpa sebab. Karena saat kecil dia sudah berkeinginan terjun di seni peran. Hal itu tak lepas dari sosok sang ayah. Yang merupakan seorang seniman peran. Ya, ayah Suyadi adalah pemain ludruk dan ketoprak.

“Makanya dulu saya bercita-cita terjun di bidang seni pertunjukan. Tapi, nasib membawa saya menerjuni seni rupa,” lanjut pria dengan tiga anak ini.

Suyadi meyakini, darah seni mengalir dari sang ayah. Meskipun di bidang seni yang berbeda. Karena itu dia merasa bahwa menggambar adalah bagian dari hidupnya yang tak terpisahkan.

Ratusan lukisannya sering menjelajah berbagai daerah. Tak hanya di Jawa Timur, juga di luar Jawa. Salah satunya pernah dibeli oleh Gubernur Jatim saat itu, Pakde Karwo.

“Agustus nanti ikut pameran di Kalimantan Tengah. September di Jimbaran. Kalau bulan lalu di Solo, ikut pameran yang dibuka oleh Gubernur Jawa Tengah,” beber guru seni SMAN 1 Kota Kediri ini.

Saking seringnya pameran di luar kota, dia pun harus berlama-lama meninggalkan keluarga. Untungnya, anak dan istri tak pernah protes. Karena ikut pameran juga tak sekadar hobi, sekaligus sebagai lahan mencari nafkah. “Yang penting dapur tetap mengepul, istri tidak pernah protes,” tutur pria asli Pare, Kabupaten Kediri, yang awal jadi PNS bertugas di Bondowoso ini.

Ketika ikut pameran di luar kota, Suyadi kerap harus tidur di emperan. Beralas kardus. Ramai-ramai dengan pelukis lain. Baginya, hal itu tak jadi persoalan. Karena seorang seniman harus bersikap sederhana, down to earth.

Pemikiran itu juga menular ke soal lukisan. Dia tak pernah membanderol karyanya dengan harga selangit. Yang penting, lukisannya bisa dinikmati.

“Kalau laku mahal itu jadi bonus bagi seniman,” akunya sambil menyebut lukisannya terjual paling mahal dengan harga puluhan juta rupiah.

Suyadi juga tak pernah berhenti belajar. Dia terus mengasah kemampuan. Bergabung dengan komunitas-komunitas pelukis.

“Bergaul dengan seniman lukis lain membuat saya belajar mengeksekusi objek. Menjadikan karya yang layak ikut pameran,” urai lelaki tamatan S-2 dari Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta yang karyanya juga banyak menghiasi berbagai galeri seni di Bali ini.

Bagi warga Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto ini, menjadi guru seni tak boleh stuck. Dia harus produktif menggambar serta meng-explore kemampuan. Tak selalu melukis sesuai pesanan tapi juga yang selaras dengan suasana hati dan momentum. Ketika ada di waktu dan tempat serta suasana yang mendukung, Suyadi akan langsung mengambil alat lukis.

“Misalnya ketika mendengar obrolan larung saji dari teman, di saat itu juga saya mencoba menggambar rupa Ratu Pantai Selatan Nyi Roro Kidul. Jika berhasil, itu kepuasan tersendiri bagi saya,” ucapnya. Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #berita terkini #kediri #pelukis kediri #berita terbaru #pelukis #seniman #seniman kediri #kediri news