Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Doni Wicaksono, Vokalis Band Metal yang Lirik Lagunya Berbahasa Jawa Kawi

Anwar Bahar Basalamah • Selasa, 28 Juni 2022 | 17:12 WIB
NGURI-URI BUDAYA: Doni menunjukkan CD album grup band metalnya yang lagu-lagunya bersyair Jawa kuno. (Foto: Habibah A. Muktiara)
NGURI-URI BUDAYA: Doni menunjukkan CD album grup band metalnya yang lagu-lagunya bersyair Jawa kuno. (Foto: Habibah A. Muktiara)
Lirik lagu-lagu ciptaannya mayoritas berbahasa Jawa Kawi. Selaras dengan ketertarikannya pada sejarah dan arkeologi. Padahal, semuanya dia lakukan secara otodidak.

Rumahnya berada di tengah kota. Di Kelurahan Bangsal, Kecamatan Pesantren. Harus melewati gang-gang sempit sebelum mencapai tempat tinggal yang juga kecil itu.

Saking sempitnya gang menuju rumahnya, hanya cukup untuk satu sepeda motor. Bila berpapasan, salah satu harus mengalah mencari tempat yang agak lebar dan berhenti dulu untuk berpapasan.

Rumahnya juga tak berhalaman. Jalanan di gang itu langsung berbatasan dengan teras rumah yang hanya berpagar pendek. Ada kursi rotan di teras itu, meskipun hanya satu. Sedangkan ruang tamunya tak dilengkapi meja dan tempat duduk. Yang ada hanya karpet untuk alas lesehan.

Ada penanda khusus rumah milik Doni Wicaksono ini dibanding dengan rumah-rumah di sekitarnya. Banner sepanjang dua meter terpasang di dinding rumah. Bertuliskan huruf Jawa.

“Ini yang membedakan tulisan Jawa kawi dan Jawa yang saat ini dikembangkan,” tunjuk lelaki yang mengenakan udeng untuk mengikat kepalanya yang berambut gondrong itu.

Gaya Doni terkesan sebagai anak metal. Dan memang, dia adalah personel grup band aliran cadas yang dia bentuk pada 2000. Beraliran metal, band bernama Immortal Rites itu juga resmi tercatat di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2020 lalu. Sebagai band metal dengan berlatar budaya.

“Karena kami juga nguri-nguri budaya Jawa,” terang Doni.

Berpersonel tiga musisi, Immortal Rites sebenarnya sudah melalang buana. Manggungnya tak hanya di berbagai kota besar di Tanah Air. Pernah pula manggung di Johor, Malaysia.

Yang unik dari grup band metal ini, lirik lagunya banyak yang menggunakan bahasa Jawa, bahkan yang Jawa Kawi.

“Album terbaru berjudulkan Batara Api. Saat promo kami sempat diundang ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia,” terangnya.

Band ini sudah merilis album dengan judul Api dari Timur. Yang bermakna Kediri, karena kota ini juga dikenal sebagai Kota Daha yang berarti kota api.

Salah satu lagu yang  sering dinyanyikan adalah Serpihan Api. Menceritakan pengibaran bendera pertama pasukan Kadiri ketika menyerbu Singasari dengan membawa bendera berwarna merah dan putih.

Lagu kedua berjudul Api Hitam. Mengisahkan raja Kadiri sebelum dikalahkan Ken Arok, yang bernama Raja Kertajaya. Kertajaya adalah raja terbesar Kediri setelah Jayabaya. Yang digambarkan memiliki kesaktian dan kaya raya. Saking saktinya digambarkan Raja Kertajaya duduk di atas tombak.

Doni memang intens mengembangkan bahasa Jawa Kawi. Itu dibuktikan dengan berderetnya buku-buku yang yang terkait dengan bahasa itu di lemarinya yang ada di ruang tamu.

“Saya belajar bahasa Kawi, atau aksara kwadrat Kediri, secara otodidak. Hanya dengan anggota komunitas,” akunya.

Laki-laki kelahiran 1979 ini menceritakan, awal mula menyukai sejarah dan arkeologi adalah ketika kecil. Saat dibawa ayahnya mengunjungi Goa Selomangleng. Kebetulan, sang ayah memang seorang kejawen dan sering ke tempat itu untuk bersemedi.

Nah, selama ayahnya bersemedi, anak kelima dari delapan bersaudara ini memilih ‘berkeliaran’. Kala itu, dia tak mengerti makna-makna berbagai hal yang ada di gua tersebut.

Baru ketika lulus SMA, Doni mulai memahami dan tertarik mempelajari arkeologi. Tapi, tidak di jalur formal. Dia belajar dari diskusi dengan teman-temannya sesame penyuka bahasa Jawa Kawi.

Aksara Jawa kuno yang dibacanya adalah Prasasti Pohsarang. Yang berada di Desa Titik, Kecamatan Semen. Ketertarikannya mempelajari aksara Jawa kuno kian meninggi bersama Komunitas Tapak Jejak, yang dia bentuk.

Anak pasangan Rohekan dan Arin Ratnawati ini mengakui kesulitan saat mempelajari aksara kuno. Penyebabnya adalah masih jarang orang yang bisa diajak jadi lawan bicara. Karena itu, agar kian mengasah kemampuan berbahasa Jawa, mereka membuat grup di WhatsApp yang chatting-nya menggunakan bahawa Jawa Kawi.

“Harapannya ke depan Pemerintah Kota Kediri menjembatani agar bahasa Kawi Kuadrat Kediri ini dapat diajarkan ke sekolah-sekolah,” ujarnya mengutarakan keinginan para penggiat bahasa Jawa kuno. Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #budaya #pemerintah kota kediri #kediri #jawa kuno #kebudayaan #budaya jawa #inspiratif #inspirasi #kediri news