Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kiat Sukses Faiqotul Rosidah Bisnis Katering

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 13 Juni 2022 | 20:54 WIB
RESEP DARI IBU: Faiqotul Rosidah membawa hidangan olahannya yang dimasak di rumah, Desa Kwadungan, Kecamatan Ngasem. (Foto: Habibah A Muktiara)
RESEP DARI IBU: Faiqotul Rosidah membawa hidangan olahannya yang dimasak di rumah, Desa Kwadungan, Kecamatan Ngasem. (Foto: Habibah A Muktiara)
Berawal dari kotak bento ulang tahun anak, usaha kuliner Faiqotul Rosidah berkembang jadi bisnis katering. Pemesannya hingga luar kota.

Siang itu suasana sebuah rumah di Perumahan Greenland, Desa Kwadungan, Kecamatan Ngasem terlihat begitu tenang. Hanya terdengar suara desis dari panci presto untuk merebus daging di dapur. Dari lantai dua, terlihat perempuan berambut pirang menuruni tangga.

“Sebentar Mbak saya lihat rebusan dulu,” ujarnya pada Jawa Pos Radar Kediri, Jumat lalu. Dia adalah Faiqotul Rosidah, pemilik Kirana Catering. Kala itu dirinya sedang mengerjakan pesanan nasi kotak dan hampers. Meski punya karyawan, ia yang harus memasak.

Setelah mengecek kondisi daging sapi, perempuan yang kerap dipanggil Fay ini menemui di ruang tamu. “Maaf saya sambi mempresto daging,” tuturnya.

Usaha katering Fay mulai pada 2014. Usaha ini dilakukan spontan setelah banyak yang tertarik dengan nasi bentonya. Tepatnya ketika syukuran anak pertama. Fay membagikan nasi kuning yang dibentuk jadi bento. Yang beda dari nasi kuning umumnya, perempuan 34 tahun ini memberikan kreasi.

Sehari setelah syukuran, Fay langsung mendapat pesanan. Awalnya hanya satu kotak. Saat itu harga satu bento Rp 10 ribu. Dari pesanan tersebut, istri Irawan Budi Dharmawan ini memutuskan, buka katering. Namanya Kirana. Itu nama anak pertamanya. “Saya pakai nama ini karena anak yang membukakan jalan memulai usaha,” ungkapnya.

Di awal merintis, ibu dari dua anak ini memasak dibantu orang rumah. Keterampilan memasak Fay dari ibunya. Selain belajar dari sang ibu, Fay juga kursus saat di Bandung. Setelah lulus dari fakultas ekonomi di Uniska, ia pernah bekerja di rumah makan di sana. Dia juga kursus membuat garnish. “Resep masakan ini dari ibu, namun sedikit dimodifikasi,” jelasnya.

Cita rasanya cenderung ke makanan jawa. Mulai opor, sambel goreng kentang, sayur manisan kikil, dendeng ragi, ayam bakar kecap, nasi kuning, dan masih banyak lainnya. Terkadang Fay studi banding di luar Kediri untuk memperbarui menu makanannya. “Selain masakan Jawa, ada sup merah, capcay, galatin dan lainnya,” paparnya.

Kini usaha katering Fay berkembang jadi partai besar. Ia pun menambah karyawan. Mereka membantu penyiapan bahan. Yang memasak tetap Fay sendiri. “Soalnya kalau beda tangan, bisa beda rasa,” imbuhnya.

Dari banyaknya pesanan, Fay banyak belajar tentang ketepatan waktu. Mulai dari jam memasak, packaging, dan pengiriman. Selain wilayah Kediri, kateringnya kirim ke Jombang, Tulungagung, Blitar, hingga Mojokerto.

Fay juga bekerja sama dengan penjual sayur dan UMKM dekat rumahnya. Ini membuatnya tak sulit mendapatkan bahan makanan segar. Sedangkan UMKM yang diajak kerja sama adalah perajin bambu. “Bambu ini diubah jadi kotak untuk kemasan makanan,” terangnya. Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #berita terkini #kediri #umkm #semangat #inspiratif #kateringngasem #katering #kreatif #inspirasi