Juki Santoso nyaris tak pernah melewatkan ketika ada pertunjukan wayang. Lelaki asal Desa Jati, Kecamatan Tarokan ini tak pernah absen menyaksikan. Dia selalu menonton hingga fajar hampir menjelang.
“Saya memang suka (pertunjukan) wayang sejak kecil,” ucap pria 43 tahun ini.
Rasa suka Juki pada wayang membuatnya seperti tergila-gila. Tak hanya menonton pertunjukan saja, dia kemudian mencoba membuat anak wayang. Meskipun, bahannya bukan dari kulit seperti anak wayang yang digunakan dalam pementasan.
“Bahannya dari barang-barang sisa, dari limbah,” sebutnya sambil menunjuk sederet karyanya yang kini telah mendatangkan cuan bagi dia dan keluarganya itu.
Telunjuk Juki mengarah pada sederet anak wayang yang bergelantungan di dinding tempat kerjanya. Mulai Kresna, Semar, hingga wayang berbentuk hewan. Wayang-wayang itu ditata berjajar menjadi lima kelompok. Sebagian masih belum sempurna.
Meskipun berada di ruang kerja, jejeran wayang itu sudah terlihat dari luar rumah. Jarak antara tempat produksi dengan jalan, yang berupa gang kecil, tak terlalu jauh. Tak sampai lima meter. Yang disulap menjadi studio itu adalah ruang tamu berukuran 3x5 meter.
“Ya tempatnya memang seperti ini,” senyum bapak dua anak yang saat ditemui berbaju warna biru tosca ini.
Tak hanya karya-karyanya saja yang ada di ruang itu. Pahat, palu, pensil, dan penggaris juga tergeletak di meja yang terbuat dari balok kayu bundar. Di meja bundar, yang kakinya juga balok kayu tapi berukuran lebih kecil itu, lahir ribuan anak wayang dari tangan Juki. Keterampilan yang dia peroleh secara otodidak.
Empat meter dari meja itu, ada satu set meja dan kursi. Disiapkan bila ada tamu yang bertandang ke workshop-nya.
Juki hanyalah tamatan SD. Karena itu, dia tak menyangka karyanya bisa sampai ke Amerika Serikat dan Thailand. Ada beberapa karyanya yang diminati oleh pelukis Jakarta. Pelukis itu kemudian me-resale ke Amerika Serikat.
“Tepatnya di Texas,” sebutnya.
Sedangkan karyanya yang ke Thailand melalui salah satu kegiatan di Museum Gubug Wayang Mojokerto. Ada yang pesan wayang Hanoman.
“Sampai sekarang saya masih memproduksi wayang di sana (Museum Gubug Wayang Mojokerto, Red) dan jadi anggotanya,” ungkap Juki.
Agar kerajinannya tetap diminati, Juki selalu berinovasi. Dulu, dia membuat wayang dari bekas kertas bungkus rokok dan obat nyamuk. Kemudian dia mulai beralih menggunakan kertas karton. Alasannya, bentuknya bisa lebih stabil.
Sayang, ada kelemahan. Kertas karton mudah patah. Dia pun menggantikan bahan bakunya.
“Sejak 2018 saya menggunakan bekas sak semen. (Ternyata) hasilnya lumayan,” katanya. Kualitas wayang dari sak semen lebih bagus. Lebih awet karena tidak mudah patah.
Untuk wayang ukuran raksasa, Juki membutuhkan 12 lapis kertas sak semen. Sedangkan bila membuat ukuran sedang hanya butuh delapan lapis saja. Setiap lapisnya dilem dengan menggunakan lem kayu.
Bukan saja bahan pembuatan yang berubah, metode penjualannya pun berganti. Dulu, dia harus menjajakan keliling. “Setiap ada wayangan,” katanya.
Model berjualan keliling itu memang masih dijalani. Tapi tidak seintensif dulu. Karena dia mulai merambah internet. Juki memasarkan karyanya melalui Facebook.
Peminatnya pun mengalami peningkatan. Bahkan, sampai ke luar Jawa. Saking tingginya peminat, mereka yang hendak memesan harus mengantre. Karena waktu pembuatan juga tak bisa cepat. Satu anak wayang bisa dia selesaikan paling cepat satu minggu.
Harganya? Beragam. Tergantung besar kecil ukuran wayang dan tingkat kesulitan. Semakin banyak pahatan maka harganya semakin mahal. Satu wayang bisa dibanderol Rp 250 ribu sampai Rp 1 juta.
Tingginya orderan membuatnya butuh tenaga kerja. Dia pun membuka peluang kerja bagi para tetangga. Membagi-bagi pembuatan wayang per bagian. Misal, yang ngecat ada sendiri. Begitu juga yang bagian mengelem kertas.
“Bahannya dibawa dan dikerjakan di rumah masing-masing. Ada delapan orang yang tetap aktif bantu saya,” lanjutnya.
Para tetangga itu menjadikan pekerjaan mengecat dan memasang kayu penjepit pada wayang sebagai sampingan. Rata-rata mereka adalah petani.
Tingginya peminat wayang karyanya membuatnya kewalahan mencari bahan baku. Juga, kesulitan modal. Karena itu, dia pun tengah mengajukan utang ke salah satu bank.
Meskipun sibuk melayani pesanan, Juki tetap tak melupakan bagian idealisnya. Yaitu meluangkan waktu untuk mengajari anak-anak di sekitar rumah belajar mewarnai atau membuat anak wayang. Beberapa anak didiknya bahkan sudah mampu memproduksi sendiri dan menjualnya.
“Wayang tetap harus lestari. Saya juga menyukai anak-anak karena itu tetap harus ada generasi penerus,” ujarnya. Editor : Anwar Bahar Basalamah