Ada 20 batu nisan di kompleks makam Ponpes Lirboyo. Menandakan ada 20 ulama besar yang dimakamkan di tempat ini. Salah satunya adalah KH Abdul Karim, sang founding father.
Seperti halnya Pondok Pesantren Lirboyo, yang merupakan salah satu pesantren dengan jumlah santri sangat besar, kompleks makam yang ada di dalamnya juga sangat terkenal. Menjadi tujuan utama para peziarah dari seluruh negeri.
Tur-tur ziarah wali seringkali menyertakan kompleks makam ini sebagai salah satu tujuan. Dalam sepekan, belasan bus yang datang. Membawa rombongan dari berbagai daerah di tanah air.
Banyaknya peziarah yang datang tak bisa dilepaskan dari sosok besar yang dimakamkan di tempat ini. Di antara 20 makam yang ada, tiga di antaranya adalah ulama besar. Yaitu KH Abdul Karim, KH Marzuki Dahlan, dan KH Machrus Ali.
Nama yang disebut pertama, KH Abdul Karim, juga sangat istimewa. Karena sosok ini adalah founding father Ponpes Lirboyo. Sosok yang merintis berdirinya ponpes yang berada di Kelurahan Lirboyo, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.
Kiai yang juga karib disapa Mbah Manab ini sebenarnya bukan asli Kediri. Dia lahir di Magelang. Anak ketiga dari empat bersaudara. Sewaktu kecil sudah yatim. Kemudian berkelana mencari ilmu mulai 1870.
“Mbah Manab putra dari pasangan Abdurrahim dan Salamah,” ucap HM. Ibrohim Hafidz, anggota badan pengasuh sekaligus penasihat Ponpes Lirboyo.
“Beliau putra ketiga. Kakaknya bernama Aliman, yang kedua Mu’min, dan adiknya bernama Armiyah,” lanjutnya.
Sang ayah adalah seorang petani dengan sepetak sawah. Namun sayang, saat Manab berusia 7 tahun ayahnya meninggal.
Sebelum meninggal, sang ayah punya keinginan besar memasukkan anak-anaknya ke pesantren. Sayangnya, keinginan itu belum sempat terwujud. Pun, ketika sang ibu menikah lagi, Manab dan saudara-saudaranya juga belum keturutan mengenyam Pendidikan pesantren. Mereka justru disibukkan dengan urusan sehari-hari.
“Mereka disuruh kerja di sawah. Kalau gak kerja, atau kerjanya nggak beres, dipukuli oleh bapak tirinya,” Ibrohim berkisah.
Lama-lama, Manab kecil tak betah di rumah. Dia pun berkelana, mencari ilmu dengan belajar ke pesantren. Pesantren pertamanya berada di Babadan, Gurah, Kabupaten Kediri. Namun, dia juga nyantri pada kiai kharismatik asal Bangkalan, Madura, Syaikhona Kholil. Tepatnya pada 1896.
Jodoh Mbah Karim dengan Kediri ternyata ditandai dengan menjadi menantu seorang kiai saudagar dari daerah ini, Kiai Sholeh Banjarmlati. Yang menjodohkan adlaah Kiai Hasyim Ashari, pendiri Ponpes Tebu Ireng. Jadilah Kiai Manab menikah dengan Nyai Khodijah atau Nyai Dlomroh. Pernikahan itu berlangsung 8 Shofar 1328 H atau 1908 M.
Usai menikah, Kiai Manab diberi tanah yang berada di Kelurahan Lirboyo. Tanah itu dikenal angker. Bahkan ada yang menyebut sebagai Kampung Maling. Penyebabnya, di daerah itu sering terjadi kejahatan.
Toh, KH Abdul Karim bertekad mendirikan pondok pesantren di tanah itu. Kini, ponpes yang dikenal dengan Ponpes Lirboyo ini berkembang sangat pesat. Menjadi salah satu pondok besar tanah air. Santrinya pun mencapai 30 ribuan orang saat ini. (fud/bersambung)
Editor : adi nugroho