Syiar yang dilakukan Mbah Mursyad dan ayahnya, Pangeran Demang II, diyakini di sekitar daerah Mrican, Kota Kediri. Namun makamnya berada di Desa Bakalan, Kecamatan Grogol. Ada campur tangan kiai dalam pemindahan ini.
IQBAL SYAHRONI, Kabupaten, JP Radar Kediri
Makam di Setonolandean, yang sudah ramai sejak puluhan tahun lalu, sebenarnya bukan lokasi awal di mana Mbah Mursyad disemayamkan. Awalnya, ulama penyebar Islam ini dimakamkan di sekitar tempat yang kini menjadi lokasi Pabrik Gula Meritjan. Pemakaman itu terjadi pada abad ke-17.
Hal tersebut dibenarkan oleh pengurus makam Mbah Mursyad Edi Prasetyo. Ia mengatakan bahwa dari cerita yang tersebar dan diyakini masyarakat, Mbah Mursyad lebih lama bersyiar di sekitar Kelurahan Mrican, Kecamatan Mojoroto.
“Karena di sanalah,beliau (Mbah Mursyad, Red), bersama dengan ayah beliau menyiarkan Islam,” terangnya.
Daerah Mrican, yang digunakan untuk pemakaman dinamakan Setonogajah. Di sanalah Mbah Mursyad awalnya dimakamkan. Edi mengatakan, pada 1918, makam tersebut dipindah. Karena ada pembangunan kanal untuk Pabrik PG Mrican.
Bagaimana warga tidak tahu jika di sana ada makam Mbah Mursyad? Sesuai cerita almarhum Kakek Edi-yang bernama Karyosono, yang dulunya adalah Kepala Desa Bakalan, Grogol-daerah di sekitar Mrican hampir hilang karena ada serangan dari Belanda.
“Di Mrican dulu banyak pondok. Dan salah satunya menjadi tempat syiar Islam dan pengembangan Islam oleh beliau (Mbah Mursyad, Red),” terang Edi.
Lelaki 59 tahun itu menambahkan, hilangnya dokumen atau tempat seperti pondok di sekitar Mrican karena dilakukan “pemindahan” saat serangan Belanda ke Kediri. Kemudian, tempat yang dahulunya makam tertimbun pembangunan pabrik gula.
Sekitar 1918, saat akan dibangun kanal di PG Mrican, warga yang menggali menemukan beberapa makam. Salah satunya adalah makam Mbah Mursyad. “Saat itu, kakek (Karyosono, Red), kebetulan yang menjadi mandor pembangunan kanal itu. Dan meminta dihentikan sementara pembangunannya,” terang Edi.
Makam yang masih utuh itu kemudian dipindahkan. Karena pembangunan kanal tersebut harus di tempat itu. Namun warga masih belum berani mengambil sikap. Mengingat dari nisan, dan tempat tersebut, menunjukkan bahwa itu adalah makam salah satu wali dari Kediri.
Edi mengatakan bahwa dalam 24 jam, para kiai dari berbagai pondok pun berkumpul. Memberikan masukan dan doa untuk pemindahan makam. “Ada kiai dari Lirboyo dan Kedunglo juga. Namun untuk detailnya ada berapa kiai yang datang dan dari mana saya lupa. Yang jelas pemindahan tersebut, ada wasil dan doa dari para kiai di Kediri,” ujarnya.
Hingga kini, makam Mbah Mursyad masih terlihat kokoh berada di Desa Bakalan, Grogol. Pemilihan tanah tersebut, juga sebagai bentuk tanggung jawab karena saat itu kakek Edi, Karyosono, bertindak sebagai kepala desa.(fud/bersambung)
Editor : adi nugroho