Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ulama Besar dan Bangsawan ‘Berkumpul’ di Setonogedong  

adi nugroho • Senin, 25 April 2022 | 17:21 WIB
ulama-besar-dan-bangsawan-berkumpul-di-setonogedong-nbsp
ulama-besar-dan-bangsawan-berkumpul-di-setonogedong-nbsp



Ada ‘bonus’ bagi para peziarah yang datang ke makam Mbah Wasil. Karena selain ulama besar asal Turki tersebut, di kompleks makam ini juga bersemayam ulama dan auliya besar lainnya. Salah satunya adalah Pangeran Jalu atau yang biasa disebut Pangeran Demang I.


 


IQBAL SYAHRONI, Kota, JP Radar Kediri


 


Makam itu berada di bawah atap berbentuk limas yang ditopang empat pilar di tiap sudutnya. Juga dikelilingi tembok sederhana. Tersusun dari bata merah. Yang bagian bawah, bata merah penyusun dinding itu masih tertata rapi. Ada ornamennya di bagian tengah. Namun, di bagian atasnya, bata merah-bata merah itu seperti sekadar ditumpuk. Tanpa perekat dari semen.


Itulah gambaran makam wali besar lainnya di kompleks Makam setonogedong. Yang dikubur di sini adalah Pangeran Demang I atau juga dipanggil Pangeran Jalu. Tempatnya berada di sebelah tenggara makam Mbah Wasil.


Pangeran Jalu bukan orang sembarangan. Dari garis keturunannya juga lahir ulama-ulama besar. Anaknya, Pangeran Demang II, juga penyebar agama Islam di masanya. Dia dimakamkan beberapa kilometer ke arah selatan dari Setonogedong. Tepatnya di Desa Badal, Kecamatan Ngadiluwih.


Satu lagi garis keturunannya adalah Syekh Abdullah Mursyad atau biasa disebut Mbah Mursyad. Dia adalah anak Pangeran Demang II atau cucu dari Pangeran Jalu. Makam Mbah Mursyad beberapa kilometer kea rah barat Setonogedong. Persisnya di Dusun Setonolandean, Desa Bakalan, Kecamatan Grogol, Kabupaten Kediri. Makam ini juga jadi tujuan favorit para peziarah.


“Benar, beliau (Pangeran Jalu, Red) juga termasuk orang besar yang dimakamkan di Setonogedong,” jelas juru kunci makam M. Yusuf Wibisono.


Era antara Pangeran Demang I dan Mbah Wasil jauh berbeda. Bila Mbah Wasil diperkirakan sudah berdiam di Kediri sejak era kerajaan Kadhiri yang dipimpin Sri Aji Jayabaya, Pangeran Jalu datang usai era Brawijaya V memimpin Majapahit. Hanya, persamaannya, kedua sosok ini sama-sama wali besar yang berjalan di jalan kebaikan, jalan Islam.


“Jadi hubungannya, kedua tokoh Islam besar ini sama-sama dimakamkan di Setonogedong, tanah kuburan atau pemakaman yang sejak dulu diyakini menjadi tempat peristirahatan orang-orang besar atau darah biru,” imbuh Yusuf.


Dari hasil riset buku dan sejarah, Pangeran Demang I masih memiliki garis keturunan dengan Prabu Brawijaya V. Ia merupakan keturunan ke-5 dari Prabu Brawijaya V. Sehingga ia juga masih memiliki hubungan darah dengan Raden Fatah, yang merupakan anak dari Brawijaya V.


Perjuangan Pangeran Demang I, yang meneruskan usaha penyebaran agama Islam di Kediri saat itu dilakukan bersama dengan ayahnya, Panembahan Wiraswara. Keduanya juga dimakamkan di Setonogedong.


Perjuangan Pangeran Demang I, dilanjutkan oleh anaknya Pangeran Demang II. Ilmu-ilmu agama Islam yang disyiarkan terus berjalan dan mengalir.


Antara Mbah Wasil dan Pangeran Demang memang tak ada hubungan darah. Namun, dari sisi spiritual, semangat menyebarkan agama Islam di Kediri menjadi tali pengikat. Mbah Wasil, Pangeran Demang I, Demang II, dan Mbah Mursyad bisa dibilang saling berhubungan. Mbah Wasil yang meletakkan pondasi penyebaran Islam sejak abad 11. Yang diteruskan oleh ulama-ulama besar lainnya.(fud)

Editor : adi nugroho
#radar kediri #berita terkini #kediri #info kediri #info terkini #berita kediri #ziarah