Kasus Covid-19 di Kediri Raya yang April ini kian terkendali, tak lepas dari peran Kartini-Kartini di bidang kesehatan. Selama dua tahun terakhir, mereka mencurahkan tenaga dan pikiran untuk mencegah penularan meluas dan menelan korban jiwa.
Testing, tracing, dan vaksinasi menjadi beberapa langkah penanganan pandemi Covid-19. Secara teori, ketiganya mudah dilaksanakan. Praktiknya, untuk bisa melaksanakan hal tersebut dibutuhkan kekompakan, ketelatenan, dan kerja keras berbagai pihak. Kartini-Kartini bidang kesehatan pun harus rela mencurahkan waktu yang tak terbatas untuk mencegah meluasnya penularan virus yang kali pertama ditemukan di Tiongkok itu.
Subkoordinator Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kediri Melani Rosa Puspita mengaku sempat merasakan tekanan batin yang berat saat penanganan varian Delta. Di satu sisi, dia harus mengoordinasi testing dan tracing penanganan korona. Tetapi, di saat yang sama dia juga harus berjuang melawan Covid-19 sendiri setelah terpapar. “Saya meneteskan air mata. Sedih. Apalagi, saat itu harus say say hello dengan anak-anak dari jarak jauh,” kenang perempuan berusia 35 tahun asal Kelurahan Campurejo, Mojoroto itu.
Penularan Covid-19 varian Delta yang sangat cepat memang sempat membuat Kartini-Kartini kesehatan kelimpungan. Melani pernah mencatat, dalam sehari ada 23 pasien korona yang meninggal. Melihat kondisi itu, sebagai pasien positif korona tanpa gejala, dia tetap harus bekerja selama 24 jam.
Sebagai operator Public Safety Center (PSC) 119, dia memang harus mengoordinasikan secara detail penanganan korona. Termasuk saat ada pasien yang meninggal. Melani harus berkoordinasi dengan dinas perumahan dan kawasan permukiman (DPKP). Sebab, mereka yang bertugas memakamkan pasien Covid-19.
Saat kasus Covid-19 sudah melandai seperti sekarang, dia juga tetap menjadi tumpuan pelaksanaan vaksinasi, testing, dan tracing yang masih terus berlanjut. “Sekarang weekend juga harus bekerja karena vaksinasi juga dilakukan akhir pekan. Syukurnya keluarga bisa memahami tugas,” katanya sambil tersenyum.
Seperti halnya Melani, Kalaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kediri Indun Munawaroh juga harus “berjuang” ekstra saat varian Delta mewabah. Kondisi RS yang penuh pasien korona membuat ruang isolasi terpadu (isoter) difungsikan. Saat itulah puncak kesibukan perempuan yang sehari-harinya berkantor di Jl Brigjend Pol Imam Bahri itu.
Bersama pasukan oranye, Indun berkantor di isoter Balai Latihan Kerja (BLK) Jalan Himalaya, Kelurahan Sukorame, Mojoroto. “Penanganan di gelombang kedua varian delta sangat berat,” tuturnya.
Saat itu petugas kerap mendapat penolakan saat hendak melakukan tindakan pencegahan hingga penanggulangan. Termasuk saat tim mendatangi pasien terkonfirmasi positif yang hendak dibawa ke ruang isoter. Jika sudah demikian, Indun memilih mendengarkan lebih dulu. Selebihnya, dia melakukan pendekatan agar mereka mau dibawa ke isoter untuk dikarantina.
Tak sekadar mengurusi isoter, dia juga harus pendekatan kepada keluarga tenaga kerja Indonesia (TKI) yang pulang kampung jelang lebaran. Demikian juga saat meminta pemudik lokal untuk dikarantina di kelurahan masing-masing.
Tugas Indun bertambah. Perempuan yang hobi naik gunung itu harus menjemput TKI yang pulang kampung ke Asrama Haji Sukolilo, Surabaya. “Selesai salat ied, saya harus tinggalkan keluarga untuk menjemput PMI di Surabaya,” beber ibu tiga anak itu sembari menyebut dirinya sempat diprotes oleh anak-anaknya.
Selebihnya, dia juga harus sering mengecek pasien di isoter untuk memastikan mereka terlayani dengan baik. Di saat yang sama, dia juga harus menyemangati anggota-anggotanya yang selama puluhan hari berjaga di sana.
Peluh yang keluar dan penatnya pikiran selama penanganan Covid-19 tentu tak bisa dinilai dengan apapun. Tetapi, para Kartini-Kartini ini mengaku senang setelah melihat kerja mereka tak sia-sia. Rasa lelah kini berubah menjadi gembira setelah melihat kasus Covid-19 terkendali dan terus membaik. (rq/ut)
Editor : adi nugroho