Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Situs Setonogedong Dihancurkan 2 Kali

adi nugroho • Senin, 18 April 2022 | 17:58 WIB
situs-setonogedong-dihancurkan-2-kali
situs-setonogedong-dihancurkan-2-kali


Di sebelah barat Masjid Auliya Setonogedong, ada pendapa yang berdiri kokoh. Sejak kedatangan Mbah Wasil hingga saat ini, pendapa tersebut masih sering jadi tempat kegiatan masyarakat.


Bangunan pendapa ada di antara makam Mbah Wasil dan Masjid Auliya. Pendapa itu sejatinya adalah bangunan yang juga disebut sebagai Masjid Tiban. Masjid pertama yang dibangun warga sekitar sebelum Masjid Auliya yang berada di sebelah timurnya itu dibangun. "Orang-orang menyebutnya dahulu Masjid Tiban karena dekat dengan tiban atau sumur," ujar Juru Kunci Setonogedong M. Yusuf Wibisono.


Seperti masjid lain, Masjid Tiban dahulu jadi tempat untuk beribadah. Jauh sebelum dibangun masjid, bangunan yang mirip dengan pendapa itu juga digunakan para peziarah beristirahat. Serta, jadi tempat berkumpul jamaah saat hendak ke Makam Mbah Wasil.


          Selain Masjid Tiban, bangunan tersebut dahulu juga diyakini sebagai candi peninggalan Kerajaan Kediri. Manfaat bangunan yang serupa dengan candi itu pun sama. Yakni, sebagai tempat berkumpul masyarakat.


Meski sudah ditumpuk dengan bangunan pendapa, hingga saat ini bebatuan atau struktur candi bagian bawah masih terlihat jelas. Menurut Yusuf, bangunan candi di sana rusak setelah terjadi invasi dari Kerajaan Demak.


          Pada saat itu, hal-hal yang terkait dengan agama Hindu maupun Buddha semuanya dihancurkan. Bangunan yang dilengkapi dengan arca di sekitarnya itu dianggap memicu tindakan syirik. Invasi Kerajaan Demak ke ibukota Majapahit di Kediri dilakukan pada 20 tahun pertama abad ke-16.


          Perusakan situs Setonogedong terjadi lagi pada tahun 1815. Hal tersebut seperti yang tertuang di laporan perjalanan Thomas Staford Raffles di nusantara, yang dibukukan tahun1817 berjudul ”History of Java".


Dikutip dari sumber tersebut, Raffles juga menyebut bangunan situs Setonogedong adalah candi. Di sana terdapat bagian yang luas terbuat dari batu bata, terdapat dinding bangunan, fragmen-fragmen relief, arca-arca yang rusak dan dipahatkan pada potongan batu membujur. "Sisa-sisanya yang masih berbentuk juga masih ada," papar Yusuf.


Saat invasi Demak, perusakan situs Setono Gedong tidak begitu parah. Mereka hanya menimbun artefak-artefak masa Hindu-Buddha tersebut ke dalam tanah. Sedangkan perusakan pada tahun 1815 jauh lebih parah. Raffles menyebutkan adanya mobilisasi dana dan tenaga yang besar untuk menghancurkan situs tersebut. "Baru setelah itu, warga sekitar mulai membangun ulang dijadikan gubuk untuk istirahat dan untuk beribadah," tutur lelaki berkumis itu.


Seiring berjalannya waktu, tempat tersebut sekarang dijadikan cagar budaya. Sisa-sisa bangunan yang masih ada berikut bangunan pendapa di atasnya, dibiarkan seperti itu. Hanya boleh untuk dirawat saja. (syi/ut)

Editor : adi nugroho
#radar kediri #berita terkini #kediri #info kediri #info terkini #berita kediri