Datang ke Kediri ketika masih di bawah kekuasaan kerajaan Hindu, Sayid Sulaiman Syamsuzein Ali tak langsung melakukan syiar. Sebaliknya, sosok yang karib disebut Mbah Wasil ini memilih membuka jalan bagi para wali penyebar Islam.
Banyak yang mengartikan, kedatangannya Mbah Wasil di Kediri sebagai upaya penyebaran agama Islam. Memang, pada kenyataannya bisa demikian. Namun, penyebaran itu tidak massif. Sosok asal Turki ini disebut-sebut mempersiapkan generas berikutnya yang akan melakukan syiar Islam lebih terbuka.
“Kedatangan beliau di sini saat itu malah belum (melakukan) syiar secara terang-terangan,” kata Juru Kunci Makam Setonogedong M. Yusuf Wibisono.
Teori kedua bahwa Mbah Wasil tengah mempersiakan jalan bagi penyebar Islam yang datang setelah dirinya juga berdasar pada fakta. Bahwa dia masih menjelaskan tentang Islam. Meski belum secara terang-terangan.
“Mbah Wasil hanya melakukan pendekatan kepada masyarakat dalam jumlah sedikit,” lanjut sang juru kunci.
Sikap berhati-hati dan menahan diri itu wajar dilakukan sosok yang dikenal sebaga wali ini. Pada masa itu, agama kerajaan Kediri adalah Hindu. Karena itulah Mbah Wasil tak ingin syiar dengan cara konfrontatif.
Keputusannya berhati-hati bukan karena takut. Mbah Wasil lebih mengutamakan dulu untuk melakukan observasi. Yaitu terkait kondisi dan sisi spiritual masyarakat Kediri kala itu.
Berdasarkan cerita dari mulut ke mulut, menurut Yusuf, sang raja saat itu, Sri Aji Jayabaya, sangat terbuka terhadap Mbah Wasil. Apalagi, Jayabaya juga punya prinsip ‘rahasia’ dalam menerima kedatangan orang asing. Kerajaan seperti Kadiri terbuka dengan pendatang seperti itu karena hasrat bertukar ilmu. Tak heran bila beberapa kali sang ulama melakukan komunikasi dengan Sri Aji Jayabaya.
Yusuf mengatakan bahwa selama tinggal di Kediri, Mbah Wasil juga terus mencatat apa saja yang ia temukan. Kemudian dijadikan literatur. Catatan-catatan itulah yang memperkuat dugaan bahwa Mbah Wasil mempelajari dinamika masyarakat terlebih dulu. Sebelum benar-benar menyebarkan Islam. “Catatan tersebut dikirimkan ke tanah kelahirannya. Lalu diajarkan ke murid dan keturunannya di sini. Semua untuk perkembangan agama Islam,” ujar Yusuf.
Mbah Wasil memang menyebarkan Islam secara tidak langsung. Namun apa yang ia lakukan dalam mengembangkan Agama Islam di Kediri, adalah pembuka jalan syiar agama Islam. Jauh sebelum syiar yang dilakukan oleh para Walisanga yang mulai tahun 1400-an.
Peran Mbah Wasil dalam syiar Islam di Kediri juga dianggap yang paling awal. Banyak tokoh yang mengagumi. Kemudian mengamalkan ilmu dan cara pendekatan syiar agama pada zaman itu.(fud)
Editor : adi nugroho