Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Setonogedong, Tanah Orang-Orang Besar

adi nugroho • Selasa, 12 April 2022 | 17:24 WIB
setonogedong-tanah-orang-orang-besar
setonogedong-tanah-orang-orang-besar


Sayid Sulaiman Syamsuzein Ali adalah penyebar Islam yang berasal dari Turki. Dikenal sebagai Mbah Wasil. Makamnya di Setonogedong, yang dikenal sebagai tanah bagi orang-orang besar.


Berjarak sekitar 21 kilometer dari makam Gus Miek di Dusun Tambak, Desa Ngadi, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, ada makam wali yang juga sangat dikeramatkan. Makam itu berada di wilayah Kota Kediri. Tepatnya di Kelurahan Setonogedong, Kecamatan Kota. Karena itu disebut makam Setonogedong.


Yang disemayamkan di makam ini adalah ulama besar penyebar Islam di Nusantara, tepatnya di wilayah Kediri. Wali besar tersebut bernama Sayid Sulaiman Syamsuzein Ali. Di Kediri dikenal dengan nama Mbah Wasil. Sang penyebar Islam ini berasal dari Turki.


Konon, Mbah Wasil datang ke Kediri pada abad 11. Atau pada masa Kerajaan Kadiri, di bawah pemerintahan raja Sri Aji Jayabaya.


“Ini ada sejarahnya mengapa beliau disemayamkan di sini (Makam Setonogedong Kediri, Red),” ucap juru kunci Makam Mbah Wasil M. Yusuf Wibisono.


Salah satu alasannya, sejak dulu tanah Setonogedong dipercaya punya kekeramatan tersendiri. Tanah ini dianggap sebagai tanah untuk orang-orang besar, atau orang-orang penting dan berilmu tinggi. Karena itu, seorang tokoh teladan yang juga penyebar Islam dari tanah Eropa tersebut sengaja dikebumikan di tempat ini.


Kisah Setonogedong sebagai tanah orang-orang besar juga berdasarkan bukti. Salah satunya adalah keberadaan Candi Setonogedong yang saat ini tersisa bagian pondasi. Candi ini terletak di barat Masjid Auliya Setonogedong. Dulu dipercaya sebagai tempat bersemayam abu jenasah para raja. Itu berlangsung sejak sebelum Mbah Wasil tiba di Kediri.


Orang zaman dulu juga memercayai Setonogedong sebagai tempat peristirahatan orang-orang terkenal. Bila diartikan, Setonogedong juga bermakna ‘tanah makam orang besar. Tak sedikit keturunan-keturunan darah biru yang dikubur di tempat ini. Ada makam yang disebut seperti Wali Akbar, Pangeran Sumende, Sunan Bagus, Sunan Bakul Kabul, Kembang Sostronegoro, Mbah Fatimah, dan Amangkurat. Mereka tersebar di beberapa titik Setonogedong.


“Karena memang sejak zaman dahulu, tanah ini, di sini, merupakan tanah pilihan. Kemungkinan besar memang dari keluarga dan turunan Mbah Wasil juga sudah mengetahui. Dan akhirnya menyemayamkan beliau di sini,” imbuh lelaki berkumis itu.


Sayang, terkait tanggal, bulan, dan tahun pasti Mbah Wasil dikebumikan, Yusuf mengatakan hal tersebut masih bisa didebat. Karena hingga saat ini belum ada literatur yang menyebutkan kejadian secara pasti. Namun demikian, hal tersebut tidak terlalu dipermasalahkan.


Banyaknya makam para syuhada itu membuat para peziarah yang datang tak hanya ke makam Mbah Wasil. Setelah dari ulama besar tersebut, peziarah akan mendatangi makam-makam wali yang tersebar di lokasi ini.


“Jika sampean lihat, di Setonogedong sendiri juga mungkin malah lebih besar area makamnya daripada permukiman (penduduk),” sebut Yusuf.


Dalam perkembangannya, area makam Setonogedong pun berubah. Setelah dikelola Pemkot Kediri-sekitar 1980-sebagian area makam juga dimanfaatkan untuk mengubur warga setempat. (fud)

Editor : adi nugroho
#radar kediri #kabupaten kediri #berita terkini #kediri #info kediri #info terkini #berita kediri