Butuh waktu panjang agar bisa memahami kondisi anak autis. Ciri umumnya adalah kesulitan melafalkan kalimat, minder, dan selalu menghindar bila bertemu orang asing.
Mirza adalah bocah tujuh tahun yang beralamat di Ngronggo, Kota Kediri. Sejak masuk sekolah alam Ramadhani pada usia empat tahun, dia kesulitan berbicara. Serapan katanya nyaris nihil. Ketika menyampaikan sesuatu, hanya bisa berteriak.
Dia juga suka menyendiri. Selalu menghindar bila diminta bermain bersama temannya. Ketika namanya dipanggil, tak pernah menoleh.
“Saya sempat curiga dia punya masalah pendengaran,” kenang Siti Emiati, guru pendampingnya.
Perempuan 42 tahun itu kemudian memanfaatan lonceng. Bocah berkulit bersih ini memberi respon. Menandakan bukan masalah pendengaran yang menjadi problem.
Sang guru melanjutkan dengan melakukan observasi. Terutama sikapnya yang minder. Enggan bermain dengan teman-temannya. Dugaan sementara, ada masalah pada pola asuh. Sebab, kedua orang tuanya bekerja di luar kota. Sejak balita Mirza dirawat neneknya. Semua fasilitas disediakan di kamar. Mulai mainan, televisi, hingga gawai. Semua lengkap.
Nah, saat dibawa ke psikolog, akhirnya ketahuan bila sang bocah menyandang autis. Hal itu terjadi di tahun kedua masa sekolahnya di sekolah alam. Yaitu sejak masuk kelas Akar (tahun awal) hingga Batang (tahun kedua). Saat ini Mirza duduk di kelas daun.
“Materi belajarnya kami sesuaikan dengan perkembangannya,” aku Emi yang bersyukur bisa langsung klik saat jumpa pertama dengan Mirza.
Di tahap awal, pendamping memintanya melafalkan kata. Satu kata selalu diulang-ulang. Sekarang perkembangan katanya sudah meningkat. Kondisi yang juga didukung peran orang tua. Karena peran mereka memang sangat penting.
Meski sudah punya banyak kosakata, pekerjaan rumah berikutnya adalah meningkatkan kepercayaan diri. Mirza masih kerap mengisolasi diri.
Beda dengan Nugi, 24, penyandang autis dewasa di sekolah yang sama. Dia sudah bisa diajak berkomunikasi meski kosa katanya terbatas. Setelah kepercayaan dirinya meningkat, kini dia mulai dikenalkan dengan aktivitas jual beli makanan ringan.
“Dilakukan bertahap. Kemandiriannya terus ditingkatkan,” ujar Aplhin, pendamping asal Kertosono, Kabupaten Nganjuk.
Sayangnya, selama pandemi, kegiatan belajar di sekolah ini berlangsung daring. Tentu saja hal ini tidak mudah. Karena mereka memerlukan pendampingan langsung dari orang tua ketika kelas berlangsung.
Siswa autis juga ada di SLB Dharma Wanita Pare. Mereka adalah Arjuna dan Fahri. “Keduanya baru masuk sekitar lima bulan,” terang Kepala SLB Dewi Nurmalasari.
Masing-masing, mendapat guru pendamping sendiri. Tujuannya agar lebih fokus. Sebab, tingkat fokus anak autisme berbeda. Butuh kesabaran ekstra.
Meskipun sama-sama berusia delapan tahun, perilaku keduanya sangat berbeda. Arjuna lebih bisa mengikuti instruksi dibanding Fahri, yang sulit diminta duduk tenang selama pelajaran. Karena itu, kursi bocah ini didesain khusus. Yang membuat dia tak bisa keluar.
Dewi mengatakan, ada beberapa tingkatan autisme. Tingkatan itu menentukan model pembelajaran. Untuk mengetahui tingkatannya, sekolah selalu melakukan asesmen di awal masuk. Mulai dari kemampuan mengenali perintah, memfokuskan, dan mengendalikan diri. “Keduanya ini masih pada level pertama,” imbuhnya.
Anak autisme level pertama adalah yang paling ringan. Mereka bisa mengucapkan kalimat tapi tak bisa berkomunikasi dua arah. Karena itu metode belajarnya adalah applied behavior analysis (ABA).
“Jika di sekolah pengajaran tersebut dilakukan oleh guru, namun selama daring dibantu oleh orang tua murid,” terang perempuan asal Malang ini.
Orang tua anak penyandang autis mendapatkan sebuah buku untuk melihat perkembangan anak selama di rumah. Tak hanya kondisi mood anak, namun juga orang tua yang mendampingi.
Ketika sekolah daring, melalui video call guru memberikan instruksi. Sedangkan orang tua yang mendampingi ini yang melakukan perintah, mulai dari mempersiapkan bahan pengajaran dan melakukan tugas.
Sebenarnya, pembelajaran daring ini tidak cocok untuk anak dengan autisme. Karena tidak seperti anak normal lainya yang dapat menatap layar. Anak seperti mereka untuk fokus pada suatu hal memang tidak bisa lama. (rekian/habibah muktiara/fud)
Editor : adi nugroho