Berawal dari beli seekor puter pelung di Pasar Madiun. Setelah itu, dia mencoba membuat persilangan. Hasilnya, dari puluhan koleksinya, banyak yang telah juara di berbagai lomba.
Matahari sedang terik-teriknya. Maklum, jarum jam tepat menunjuk waktu pukul 12.00 tepat. Menyengatnya panas mentari itu membuat sudut perkampungan di Desa Gogorante, Kecamatan Ngasem lengang. Penduduk sepertinya lebih memilih berada di rumah untuk beristirahat.
Namun, kelengangan suasana itu tiba-tiba pecah. Ada suara kicau burung pelur puter dari salah satu rumah. Suaranya, kuuuk geruuukkkk koook. Panjang dan meliuk.
Tak beberapa lama, kicau serupa segera menyusul. Menyahuti yang pertama. Tetap dengan suara kuk geruk kok, khas kicauan burung puter. Terdengar merdu dan enak di telinga.
“Kalau burung sedang manggung (berkicau, Red) pada malam hari, alunan iramanya membuat adem. Menenangkan pikiran,” ucap lelaki pemilik rumah di mana kicau itu berasal.
Lelaki itu bernama Bambang Dwi Cahyo. Pekerjaannya adalah beternak puter pelung. Jangan heran bila suasana rumahnya sangat khas. Selain ocehan burung yang sahut-menyahut, sangkar burung yang bergelantungan jadi pemandangan lumrah. Terutama di pagi hari, ketika dia harus menjemur burung sekalian dengan sangkarnya di gantangan depan rumah.
Hampir semua burung-burung itu adalah hasil penangkarannya selama bertahun-tahun beternak puter. Bila dihitung, di rumahnya ada 37 ekor puter pelung hasil persilangan yang dia lakukan.
Suami dari Partianik ini punya ruang khusus bagi burung-burung piaraannya itu. Berada di lantai dua. Di ruangan ini, kurungan burung ditempel berjajar di dinding. Sebagian lagi digantung di langit-langit rumah.
“Setiap pagi setelah salat Subuh, selain memberi makan saya juga membersihkan kandang dan menjemur burung-burung ini,” sebut Bambang. Siulan kecil keluar dari mulutnya, memancing burung-burung puter itu bersuara.
Rutinitas seperti itu sangat dinikmatinya. Meskipun dilakukan setiap hari. Maklum, hobi memelihara burung sudah dia tekuni sejak kecil. Kebiasaan yang menurun dari ayahnya, Sudarno.
Tapi, saat kecil itu, dia sekadar hobi saja. Ketertarikannya yang lebih dalam muncul sepuluh tahun silam. Saat itu, ayah dua anak ini melakukan perjalanan ke Jogjakarta. Ketika melewati pasar burung di Madiun, dia terpikat oleh kicau puter pelung jantan.
Dia pun langsung merogoh kocek, membeli sang burung. Harganya, tidak terlalu mahal. Hanya Rp 200 ribu untuk puter yang sudah manggung. Padahal, saat itu puter pelung sudah booming.
Satu ekor itulah yang menjadi awal upayanya melakukan penangkaran. Bambang mulai mencoba menernaknya. Selanjutnya, dia membeli enam ekor burung puter yang berusia tiga bulan. Anakan burung itu dia beli di Solo. Harga per ekornya lumayan mahal. Dibelinya dengan harga Rp 300 ribu per ekor.
Sayang, dia ternyata belum bisa membedakan antara jantan dan betina. Karena itu, dua bulan berselang, dia membeli lagi tujuh ekor puter. Tiga betina dan empat pejantan. Langsung dia tandai masing-masing jenis kelamin.
Percobaan pertama tak terlalu memuaskan. “Setelah dewasa, ternyata hanya satu pasang burung yang memiliki irama yang indah,” ceritanya.
Bambang tak putus asa. Dia terus mengembangkan piaraannya itu. Dan, selama enam tahun, burung yang dia ternak berkembang menjadi 160 ekor. Setiap kali menetaskan telur, indukan betina menghasilkan dua ekor anakan.
Selanjutnya, Bambang membeli burung puter trah. jantan dan betina, yang sudah ber-grade bagus. Dari pasangan indukan itulah dia kemudian mengembangkan puter-puter ber-grade bagus.
Harganya puter yang seperti ini sudah selangit. Per ekornya bisa Rp 2 juta hingga Rp 3 juta. Puter yang kelompok ini sudah pernah mengikuti lomba. Semakin sering menang, harga akan terkerek.
Salah satu burung andalan Bambang adalah Dewa Kelud. Burung ini sering mengikuti lomba. Hebatnya, sering menang. Dalam hitungannya, Dewa Kelud sudah 17 kali juara. Di antaranya dari lomba di Jombang, Blitar, dan Nganjuk.
Bambang sangat hati-hati dalam memberikan makanan pada burung-burungnya. Itu semua agar mendapat hasil yang bagus. Setiap hari, puter-puternya dia beri makanan campuran antara milet, beras merah, ketan hitam, dan kacang hijau. Untuk minumnya, air dengan campuran madu. Sedangkan untuk jamu, berupa madu dan sarang walet. Makanan yang diberikan ini sangat mempengaruhi suara dari burung tersebut.
Pasar burung, menurutnya, tergolong stabil. Meskipun pasti ada pasang surutnya. Seperti di masa pandemi ini, permintaan dari penghobi justru meningkat. Tidak hanya dari Kediri dan sekitarnya, permintaan burung puter pelung juga datang Malang, Bondowoso, Sidoarjo, hingga Kota Bandung.
“Apalagi dalam tiga tahun terakhir, lomba burung kembali marak,” kata laki-laki kelahiran tahun 1963.
Harga satu ekor burung puter pelung untuk kualitas paling rendah berkisar antara Rp 750 ribu hingga Rp 1 juta. Sedangkan untuk kualitas burung super mencapai Rp 5 juta. Bahkan ada burung puter pelung milik Bambang yang harganya mencapai Rp 12 juta. Penyebabnya, si burung sering juara dalam perlombaan. Sementara untuk yang burung puter pelung albino harganya Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta.
Seperti diketahui, burung puter pelung ini merupakan burung endemik Indonesia. Burung ini memiliki suara yang unik. Mirip seperti orang yang sedang menangis. Burung ini banyak dicari oleh para penghobi burung yang suka dengan suara unik.(fud)
Editor : adi nugroho