Pengobatan tradisional bermacam-macam. Di Kota Angin, ada pengobatan tradisional atau terapi saraf dengan menggunakan cara sentil koran. Dengan menggunakan media koran Jawa Pos Radar Nganjuk, terapi yang dilakukan Supriyono ini diyakini mujarab. Sehingga, banyak pasien berdatangan ke rumah yang dijadikan tempat pengobatan tradisional.
“Aduuuh.. aduhh... aduhhhhhhh,” teriak pasien sentil koran di rumah sederhana, Jalan Semeru, Desa Tanjungrejo, Kecamatan Loceret kemarin. Dengan media koran, Supriyono menyentil kaki pasiennya. Kertas koran dilipat berbentuk segitiga. Kemudian, disentilkan di jari kaki pasien. Ini dilakukan untuk mendeteksi penyakit pasiennya.
Jika dilihat hanya sederhana. Namun, pasien ternyata menjerit kesakitan. Hal tersebut dilakukan di seluruh sela jari kaki pasien. Jika nantinya sang pasien merasa sakit di salah satu sela jari kaki, Supriyono bisa menduga penyakit apa yang sedang diderita oleh sang pasien. “Kalau sakit semua ya banyak penyakitnya,” candanya.
Berbekal kertas koran itu, terapi sentil koran dianggap masyarakat mujarab. Karena itu, pengobatan alternatif ini ramai pengunjung. Tak hanya warga Kota Angin saja yang datang. Warga dari luar daerah juga datang untuk berobat. Persoalan sakit lutut, kaki gak bisa ditekuk, pengapuran tulang, dan lain-lain bisa disembuhkan dengan terapi ini.
Usaha terapi sentil koran ini adalah warisan dari kakeknya. Dia mulai menekuni usaha tersebut pada 1990-an. Namun demikian, bapak dua anak ini tidak langsung buka praktik di Kota Angin. Dia harus berkelana ke beberapa kota besar, seperti Jakarta dan Surabaya. “Pada tahun 2010, saya baru menetap di Kabupaten Nganjuk dan buka praktik di sini,” ujarnya.
Saat awal tahun 2010, Supriyono mengaku sempat booming. Pasien yang datang mencapai puluhan orang. “Sehari bisa 50 pasien,” ujarnya.
Sayang, pandemi Covid-19 yang menyerang Indonesia membuat terapi sentil koran juga mengalami dampaknya. Pasien yang datang setiap hari hanya bisa dihitung dengan jari. Kekhawatiran akan tertular Covid-19 jika keluar rumah membuat praktik Supriyono jadi sepi. “Sekarang pasiennya hanya wilayah Jawa Timur saja,” ujarnya.
Editor : adi nugroho