Mainan mobil mini 4WD yang dipopulerkan merek Tamiya adalah salah satu mainan yang tidak lekang oleh waktu. Dari sejarahnya, mainan rakit ini masuk di pasar Indonesia pada 1980-an.
Sayangnya, saat itu keberadaannya kalah saing dengan permainan gangsing. Memasuki tahun 1990-an, tamiya berubah menjadi barang yang bukan hanya sekadar mainan.
Maraknya kembali tren tersebut tak lepas dari film Let’s and Go yang ditayangkan RCTI setiap Minggu pagi. Film animasi tentang mini 4WD itu telah mendongkrak kepopulerannya.
Semenjak itu, setiap kaki melangkah, lintasan adu mobil ini dengan mudah ditemukan. “Sebenarnya saya sempat vakum selama lima tahun,” jelas Ferri Kristiawan.
Hanya saja dengan adanya pandemi Covid-19, mini 4WD ini kembali ngetren. Setidaknya sekitar 2021, mulai marak pertandingan mainan mobil asal Jepang itu. Bahkan setiap minggunya, ada pertandingan, baik di dalam maupun luar kota.
Dalam pertandingan terdapat dua kategori. Yakni kategori standard tamiya box (STB) dan standard tamiya original (STO). Kalau STB adalah tamiya yang asli dari boks dan tidak dimodifikasi. Adapun yang STO merupakan tamiya modifikasi. “Untuk kategori STB ini harus sesuai dengan boksnya, tidak boleh ada perubahan,” ujar Ferri.
Hal ini sangat berbeda dengan kategori tamiya modifikasi, yang dapat menambahkan berbagai elemen pada mobil. Bagian tambahan ini mulai dari brake stay untuk memasang rem bagian belakang, under guard untuk pemasangan rem bagian depan, rear stay bemper bagian depan, dan front stay yang merupakan bemper bagian depan. Tidak hanya itu saja, namun ada beberapa tambahan lainya.
Dibandingkan STB, untuk STO ini memang lebih banyak mengeluarkan uang. Jika untuk STB biasanya dijual Rp 300 ribu, namun untuk STO bisa mencapai Rp 3 juta. Hal tersebut dikarenakan harga spare part asli dari merek Tamiya memang mahal.
“Sebenarnya ada yang merek di bawahnya, namun kualitasnya sangat berbeda,” kata laki-laki yang pernah menjadi kurir paket ini.
Dalam perlombaan, menurut Ferri, waktu kecepatan dijadikan pematok juara. Tentu saja pemilik mobil ini harus pandai merakit mobilnya. Untuk lintasan yang banyak rintangan, menggunakan baterai yang rendah.
Sedangkan untuk lintasan yang sebaliknya, menggunakan baterai yang tinggi. Tidak bisa menggunakan sembarang baterai. Harus yang di-charger. “Dengan diberi pemberat, mobil nantinya dapat kembali ke jalurnya,” terang Ferri. (ara/ndr)
Editor : adi nugroho