Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kisah Pembuat Opak Gambir di Bujel yang Bertahan sejak 1970 

adi nugroho • Minggu, 20 Februari 2022 | 17:43 WIB
kisah-pembuat-opak-gambir-di-bujel-yang-bertahan-sejak-1970
kisah-pembuat-opak-gambir-di-bujel-yang-bertahan-sejak-1970

Jelang Ramadan, biasanya rumah warga di Lingkungan Kedungsentul, Kelurahan Bujel mulai mengebul dari pagi hingga sore. Kepulan asap dari balik genting itu muncul di beberapa rumah yang sedang menandon opak gambir. Persiapan untuk puasa nanti.


 


REKIAN, Kota, JP Radar Kediri


 


Umi Mistaziah merupakan salah satu perajin opak gambir di Kelurahan Bujel, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Berusia 65 tahun, perempuan ini masih lincah membuat makanan tradisional berbahan dasar tepung tapioka, telur, kelapa, dan gula tersebut.


Empat cetakan berjejer di depan matanya dipanggang menggunakan arang. Hanya beberapa menit, cetakan itu harus diangkat dan kuenya digulung hingga menjadi opak gambir. Nama lain yang juga populer adalah opak gulung. “Masaknya tanpa minyak,” ucap nenek tiga cucu itu.


Sabtu kemarin (18/2), ketika Jawa Pos Radar Kediri bertandang di kediamannya sekitar pukul 14.30, bahan untuk memasak yang dimasukan ke ember mulai menipis. Itu artinya, arang segera dimatikan dan beralih ke opak gambir yang siap di-packing.


Setiap hari, perempuan yang kerap disapa Umi ini bisa menghabiskan 2,5 kilogram (kg) tepung. Dia mengerjakan semua aktivitas itu sendiri sebagai kegiatan di hari tua.


Opak gambir ini dia kerjakan sejak pukul 08.00. Biasanya selesai pukul 15.00. “Setiap rumah yang bikin opak gambir ini beda-beda,” katanya. Ada yang selesainya cepat, ada pula yang lama.


Umi yang mengerjakan semua sendiri harus merelakan waktu lebih lama bila dibanding tetangganya. Apalagi dia hanya menggunakan cetakan manual tanpa dan tidak ada yang membantunya.


Tenaga perempuan lanjut usia (lansia) yang terus menurun menyebabkan waktu produksi semakin meningkat. Rencananya, Umi mulai menandon untuk persiapan Ramadan. Karena itu, kapasitas produksi nanti akan ditambah lagi di atas 3 kilogram.


“Kalau puasa kerjanya bisa dari pagi sampai malam,” ucapnya. Seperti sekarang, perajin opak gambir di tempatnya semakin banyak. Jika biasanya ada sepuluh orang, kini jumlahnya meningkat menjadi belasan orang. Perajin yang sudah punya pelanggan di toko mulai menandon untuk kebutuhan puasa sampai Lebaran.


Umi sendiri memilih untuk memproduksi opak gambir khusus oleh-oleh. Meski tidak punya langganan toko, tapi langganannya sudah banyak. Mereka yang biasanya mencari produk opak gambir milik Umi ini khususnya untuk oleh-oleh sampai ke luar daerah. Lokasinya dari Malang, Pasuruan, Surabaya, hingga Probolinggo.


“Nanti puasa dan Lebaran lebih banyak lagi,” ungkapnya. Karena produknya dibuat untuk oleh-oleh maka dia mempertahankan kualitas dan harga. Umi mengaku, satu bungkus opak gambir miliknya kini dijual dengan harga Rp 15 ribu.


Opak gambir yang sudah dikemas dan siap dijual isinya rata-rata seperempat kilogram. Jika ada yang ingin memesan dan meminta bungkusan dalam ukuran kilogram tetap diayani. Umi mengaku, tidak pernah sepi pembeli.


Berdiri sejak 1970-an, Umi mengatakan, bisa bertahan hingga kini produknya sudah mulai dikembangkan ke banyak rasa. “Orisinalnya rasa jahe, di tempat saya sekarang ada rasa durian dan pisang,” urainya. Dua varian rasa itu yang kemudian membuat produknya berbeda dengan lainnya.


Sayangnya, keinginan Umi untuk terus menjadi produsen opak gambir bakal tersandung regenerasi. Sekarang, anak-anaknya sudah ogah meneruskan usaha yang dirintis dari orang tuanya dulu.


Bahkan anak-anaknya pernah meminta Umi untuk berhenti membuat opak gambir karena sudah lanjut usia. “Saya tidak bisa kalau tidak kerja (bikin opak gambir, Red),” papar Umi.


Dia menganggap usaha penjualan opaknya itu sebagai aktivitas olahraga yang menyehatkan tubuhnya. Diakui Umi, satu generasi yang membuat opak gambir dengan kini sudah banyak menghadap sang Khalik.(ndr)


 

Editor : adi nugroho
#kediri #mojoroto #bujel