Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Briptu Fina Luffi Dayanti dan Hobi Ngetrail Menikmati Keindahan Alam

adi nugroho • Rabu, 2 Februari 2022 | 16:14 WIB
briptu-fina-luffi-dayanti-dan-hobi-ngetrail-menikmati-keindahan-alam
briptu-fina-luffi-dayanti-dan-hobi-ngetrail-menikmati-keindahan-alam


Briptu Fina Luffi Dayanti memiliki cara yang tidak biasa untuk menikmati keindahan alam. Bukan berswafoto seperti yang banyak dilakukan oleh kebanyakan perempuan. Anggota Polsek Ringinrejo ini memilih menjelajahi alam dengan ngetrail.


Jarum jam menunjukkan pukul 14.45, pada Selasa (11/1) silam. Seorang perempuan yang tak lain adalah Briptu Fina Luffi Dayanti baru saja masuk ke dalam rumahnya di Desa Susuhbango, Ringinrejo. Memakai seragam dinas lengkap, perempuan yang bertugas di Polsek Ringinrejo itu langsung memperlihatkan beberapa dokumen foto saat dirinya ngetrail atau mengendarai motor trail di beberapa tempat.


          “Sebenarnya ini merupakan hobi baru. Saya mulai senang ngetrail setelah menikah 2019 lalu,” ujar perempuan yang akrab disapa Fina ini mengawali ceritanya kepada Jawa Pos Radar Kediri.


          Bagaimana dia bisa suka naik motor trail yang mayoritas digemari pria? Perempuan berusia 24 tahun itu mengaku tidak ingat pasti apa yang membuatnya tertarik ngetrail. Hanya saja, dia langsung ketagihan untuk ngetrail karena merasa tertantang.


          Selain bodi motor yang berbeda, mengendarai motor trail juga membutuhkan skill khusus. Tidak hanya itu, baginya ngetrail adalah cara yang berbeda untuk menikmati keindahan alam.


          Bersama teman-temannya, dia biasa ngetrail pada akhir pekan atau saat sedang tidak dinas. Misalnya pada Sabtu dan Minggu. “Biasanya (ngetrail, Red)  di Tulungagung dan Malang. Kalau wilayah Kediri di Gunung Klotok” beber perempuan yang bertugas di bidang administrasi Unit Reskrim ini.


          Keluar-masuk hutan pun menjadi hal biasa bagi Fina. Demikian juga berkendara di jalan sempit area pegunungan. Jatuh bangun sudah sering dirasakannya. Meski demikian, dia tidak pernah kapok. “Justru merasa semakin tertantang,” lanjutnya sambil tersenyum.


          Melakoni hobinya dengan teman laki-laki, Fina juga tidak minder. Dia justru merasa semakin terpacu untuk bisa ngetrail sebaik teman-temannya. Agar tidak terjatuh saat terabas alas, dia harus tetap berkonsentrasi. Terutama saat melewati track yang menanjak.


          “Untungnya belum pernah sampai kecelakaan. Kalau jatuh ringan sudah biasa,” kenang putri kedua pasangan Imam Muhsin dan Siti Qomariah itu. Dengan kepuasan batin yang didapat, dia pun bertekad untuk terus ngetrail dan mengeksplorasi berbagai lokasi baru di sekitar Kediri.


          Meski asyik ngetrail tiap akhir pekan, Fina selalu menomorsatukan tugasnya sebagai polisi atau abdi negara. Selain menyadari konsekuensinya sebagai aparat keamanan, perempuan yang semasa muda sempat bercita-cita sebagai bidan ini juga belum melupakan jalan panjang yang harus ditempuhnya untuk bisa bergabung dengan korps baju cokelat.


          Adalah sosialisasi dari Polsek Kandat saat dirinya duduk di bangku kelas 3 SMA yang membuatnya tertarik menjadi polisi wanita (polwan). Fina yang melihat polisi memiliki banyak pengalaman langsung tertarik. Saat keinginan itu disampaikan kepada kedua orang tuanya, dia sempat ciut karena mendengar banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk jadi polisi.


          Orang tuanya yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani mengaku tidak memiliki biaya. Untungnya, mereka tidak menyerah. Melihat keinginan anaknya, orang tua Fina lantas berkunjung ke rumah tetangganya yang merupakan anggota polisi.


Di sana, Fina dan keluarganya diberitahu jika untuk menjadi anggota polisi tidak harus mengeluarkan banyak uang. Melainkan, hanya biaya untuk transportasi. Melihat keinginan kuat Fina, anggota polisi itu langsung melakukan pembinaan.


Mulai jasmani, psikologi, hingga nilai akademik untuk persiapan mengikuti tes. “Selama empat bulan saya sibuk latihan terus agar tes nanti bisa meraih hasil terbaik. Bahkan, beliau juga mengirim saya untuk ikut latihan di SPN Mojokerto,” bebernya.


Pada April 2015 silam, Fina mulai mendaftar di Polres Kediri dan mengikuti tes di Polda Jatim. Dia langsung meminta doa dan restu kepada orang tuanya yang tidak dapat mendampingi keberangkatannya. Sebagai uang saku, sang ayah menjual 50 kotak jangkrik miliknya.


Selama mengikuti tes, anak kedua dari empat bersaudara ini hampir tidak lolos karena nilai akademik berada di bawah. Dia berada di urutan 187 dari total 189 orang. Hal tersebut sempat membuat Fina kebingungan dan memilih pasrah.


Tak ingin terus mendapat hasil jelek, dia bertekad untuk berusaha lebih baik di tes jasmani. Usahanya tidak sia-sia, pada hari raya Idul Fitri dia mendapat kabar lulus tes menjadi anggota polisi. “Nggak menyangka waktu itu,” urai perempuan yang pernah bertugas di Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Kediri ini. (ut)

Editor : adi nugroho
#radar kediri #berita terkini #kediri #info kediri #info terkini #berita kediri