Barongsai dan Liang Liong sangat identik dengan perayaan Imlek. Namun, karena pandemi Covid-19 yang belum berakhir membuat kelompok Barongsai dan Liang Liong Naga Emas Kertosono harus gigit jari. Selama dua tahun terakhir ini mereka sepi job.
Kiprah kelompok kesenian Barongsai dan Liang Liong Naga Emas asal Desa Kudu, Kecamatan Kertosono tidak bisa dipandang sebelah mata. Kelompok kesenian yang didirikan oleh Purnawan tersebut sering tampil di acara-acara. Jobnya, tidak hanya lokal Kertosono tetapi hingga luar kota.
Biasanya saat perayaan Imlek dan semacamnya di kota-kota besar di Jawa Timur kelompok kesenian ini banjir order. Bahkan, kelompok ini juga rutin dipanggil ke Jakarta dan Tangerang untuk beraksi. Padahal, secara umur kelompok kesenian itu baru terbentuk pada 2016 silam.
“Kami bersyukur banyak pihak luar yang mendukung. Itu menjadi dorongan semangat untuk kami semua,” ujar Purnawan saat ditemui oleh Jawa Pos Radar Nganjuk di rumahnya di Jalan Letnan Jenderal Suprapto Desa Kudu, Kecamatan Kertosono.
Sebelum pandemi Covid-19, job tampilnya sangat padat. Dalam sebulan, dia dan teman-temannya bisa pentas sebanyak 4-8 kali. Belum lagi saat ada acara Agustusan. Dalam sehari, dia bisa mendatangi 2-3 tempat sekaligus. “Tapi itu dulu. Sekarang berbeda,” keluhnya.
Dua tahun pandemi ini, jobnya sangat sepi. Ia mencatat hanya pernah tampil dua kali dalam dua tahun terakhir. Praktis, koleksi delapan set barongsai dan satu set liang liong tidak pernah keluar dari rumahnya. Termasuk dengan perlengkapan pendukungnya. Mulai dari alat musik hingga kursi untuk atraksi. “Ya gini ini. Hanya disimpan saja. Paling cuma dibersihkan saja,” ujar bapak dua anak tersebut.
Kondisi tersebut diakuinya sangat berat. Namun bukan dari sisi finansialnya. Melainkan dia dan anggota kelompoknya sudah sangat rindu berkesenian. Ia sendiri sangat menyadari bahwa tidak bisa mengharapkan uang dari kesenian tersebut. “Kalau urusan pendapatan utama ya saya tetap mengandalkan dari jualan soto ayam,” tandas Purnaman.
Editor : adi nugroho