Alia Putri Sasmita baru duduk ddi kelas empat SD. Tetapi, keberaniannya jauh di atas rata-rata anak seusianya. Setidaknya, sejak usia empat tahun dia sudah belajar menaklukkan gunung yang medannya dianggap sulit oleh orang dewasa.
Alia Putri Sasmita jadi pusat perhatian dalam apel kesiapsiagaan penanggulangan bencana yang berlangsung di Lapangan Desa Paron, Ngasem. Menunjukkan sikap sempurna di antara para relawan yang berbaris di sana, dia terlihat paling menonjol. Bukan karena tinggi badannya yang justru paling pendek di antara peserta lain. Melainkan karena dia merupakan peserta yang paling kecil.
Ya, bocah asal Desa Doko, Ngasem itu memang baru berusia delapan tahun. Meski demikian, bukan berarti dia terlihat minder saat bergabung dengan peserta apel yang mayoritas berusia di atas 30 tahun. Tidak sedikit pula yang usianya sudah di atas 50 tahun.
Tak heran, kehadirannya menarik perhatian banyak peserta apel sekitar pukul 10.00 kemarin. Termasuk Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana yang lantas menghampiri Alia. “Semoga sehat selalu, ya,” sapa Dhito mengakhiri dialognya dengan siswa kelas II SD itu.
Beberapa kali bupati mud aitu mengungkapkan kekagumannya akan keberanian Alia. Sebagai wujud perhatiannya, bapak satu anak itu menyerahkan kaus berwarna hitam untuk putri pasangan Desi Novita Sari dan Edi Purnomo itu.
Alia berada di antara ratusan orang dewasa kemarin bukannya tanpa alasan. Meski dia hadir bersama kedua orang tuanya, bukan berarti dia berada di sana karena mengikuti mereka. Melainkan, dia mengikuti apel karena kiprahnya sebagai pendaki gunung cilik.
Meski mengikuti acara dalam cuaca panas, dia terlihat sangat bersemangat. Setelah apel selesai, Alia juga menyempatkan diri berlarian di lapangan dengan ceria. Saat ditemui Jawa Pos Radar Kediri, dia mulai bercerita tentang pengalamannya mendaki gunung sejak usia empat tahun. “Di gunung aku melihat monyet yang ukurannya lebih besar,” kata Alia dengan lugasnya sembari membandingkan monyet yang dilihatnya di Sumber Kembang Paron kemarin.
Sembari terus melihat monyet yang ada di kandang dekat lapangan Paron itu, Alia melanjutkan cerita tentang hobi yang tak banyak digeluti oleh anak seusianya tersebut. Selama empat tahun terakhir, setidaknya sudah ada empat gunung yang didakinya.
Mulai Gunung Butak di Blitar; Gunung Penanggungan di Trawas, Mojokerto. Kemudian, Gunung Wilis di Kediri, dan puncak Jontani. “Paling suka naik ke puncak Jontani,” bebernya tentang pengalamannya mendaki.
Maklum saja, di Gunung Jentani dia bisa melihat pemandangan sunset yang indah. Meski demikian, bukan berarti tiga gunung lainnya tak menarik. Menurutnya, tiap gunung memiliki keindahan yang berbeda-beda.
Bagaimana dia bisa menyukai mendaki gunung? Ditanya demikian, Alia langsung melirik ayah dan ibu yang kemarin menemaninya. Bocah kelahiran tahun 2013 silam memang tertular virus mencintai gunung dari kedua orang tuanya.
Desi yang sejak awal menyimak penjelasan putrinya lantas menyahut,
“Anak saya ini tipe yang aktif, saya nggak menyangka kalau dia bakal suka (mendaki gunung, Red),” kenang Desi.
Kali pertama mendaki gunung, Alia mengikuti kedua orang tuanya menaklukkan Dolo. Meski baru berusia empat tahun, dia tidak meminta gendong kepada orang tuanya. Dia berhasil menyelesaikan misi jalan kaki hingga di puncak gunung.
Melihat anaknya antusias, perempuan berusia 46 tahun itu lantas kembali mengajak anaknya mendaki. Untuk melatih fisiknya, dia mendaki Gunung
Maskumambang. Lagi-lagi dia sangat bersemangat. “Tidak pernah mengeluh. Kalau kelelahan langsung istirahat,” lanjutnya.
Sebelum berangkat mendaki, Desi dan suaminya memang sudah membuat perjanjian tak tertulis dengan putrinya. Yakni, dia dilarang minta gendong jika kelelahan. Hal itu benar-benar ditaati oleh Alia setiap kali mereka mendaki bersama.
Setelah beberapa kali sukses mendaki gunung, Alia bahkan meminta ‘tantangan’ baru. Yakni, mendaki gunung melewati situs. Jalur ini menurut Desi lebih banyak rintangannya. Meski merupakan jalur cepat, tetapi banyak jalan yang menanjak.
Selain beberapa rute yang sulit, Alia menuturkan pengalamannya mendaki ke puncak Jontani di Nganjuk. Meski sudah beberapa kali ke sana, pendakian pada Desember 2021 lalu sangat berkesan.
Bersama rombongannya, Alia yang biasanya sudah mencapai puncak selama empat jam, dia belum bisa mencapai puncak meski sudah melalui rute yang sama selama dua hari. “Waktu itu ada teman ayah yang sedang foto bilang kalau pohonnya menghalangi. Setelah itu, kami tanpa sadar melewati pohon itu berkali-kali di sana,” kenangnya.
Setelah kehabisan akomodasi, barulah rombongan melihat jalan yang benar. Tandanya, akar gantung di pohon yang menjuntai. Dari sana mereka lantas bisa menempuh rute yang seharusnya.
Dua hari mendaki, seluruh rombongan kehabisan bekal. Termasuk air minum. Untuk bisa bertahan, sang ibu mengajari putrinya mencari air dengan daun. Meski berhasil mengatasi rasa haus, Alia mengaku sempat trauma. “Tapi tetap senang mendaki. Saya ingin ke Semeru,” katanya dengan semangat. (ut)
Editor : adi nugroho