Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Bukan Dhoho atau Dhaha, Seharusnya Daha

adi nugroho • Jumat, 21 Januari 2022 | 17:19 WIB
bukan-dhoho-atau-dhaha-seharusnya-daha
bukan-dhoho-atau-dhaha-seharusnya-daha


Ada satu pertanyaan dari penonton Radar Kediri TV saat menghadirkan diskusi budaya tentang Jalan Dhoho. Warga itu ingin tahu, yang benar penulisannya apakah Dhoho, Dhaha, ataukah Daha?


 


Menulis dengan berdasar pada pengucapan. Itulah sumber masalah yang ditanyakan oleh warga Kediri dalam pengantar tulisan ini di atas. Kata Dhoho merujuk pada pengucapan dalam bahasa Jawa yang punya kecenderungan pada pelafalan huruf O. Namun, sejatinya karena dasarnya adalah huruf Jawa, sebenarnya simbol hurufnya adalah A jejek (tegak).


Problem penulisan dari pelafalan Jawa ke bahasa Indonesia itu juga terjadi di kata yang lain. Seperti penulisan pendapa menjadi pendopo atau Joyoboyo yang seharusnya Jayabaya.


“Jadi, (penulisan) yang tepat itu adalah Daha. Bukan Dhoho, apalagi Dhaha,” kata anggota Perkumpulan Ahli Epigrafi Indonesia Komda Jawa Timur Novi Bahrul Munib.


Novi mendasarkan hal itu pada pakem transkripsi aksara Kawi ke latin. Penulisan yang tepat pada nama-nama di atas harusnya merujuk pada prasasti yang sudah ada.


Meskipun sepele, sebenarnya kekeliruan penulisan berdampak pada perubahan makna kata. Menurutnya, bila yang ditulis adalah kata Dhaha, maka tidak punya makna. Sementara, dalam prasasti dan kakawin yang sezaman dengan masyarakat masa itu tertulis Daha. Maknanya, Daha adalah nama ibu kota kerajaan.


Dalam kakawin Kertagama, pupuh 68 bait satu, menceritakan tentang pembelahan kerajaan Airlangga menjadi dua. Satu menjadi kerajaan Panjalu dan satu lagi Jenggala. Pemisahan itu tercatat terjadi pada 974 tahun saka atau 1054 masehi.


Tergambar jelas, bahwa Raja Jenggala diletakan berada di Kota Jiwana atau Kahuripan. Sedangkan Panjalu berada di Kota Daha yakni Bumi Kadiri. Selain itu, Daha juga muncul pada kakawin Bubuksah Gagang Aking yang bertahan hingga masa Majapahit. Dari pertapaannya, Bubuksah Gagang Aking itu bisa melihat lalu-lalang perahu di Kota Daha. Keramaian di pasar Kota Daha.


Selain Kakawin, nama Daha juga muncul di prasati Mula Malurung yang ditemukan di Kota Kediri yang di tulis oleh Sri Maharaja Nararrya Seminingrat dari Kerajaan Tumapel. Putra Mahkota Tumapel Nararrya Murdhaja atau dikenal dengan abhisekanya Sri Krtanegara menjadi Raja di Kota Daha dan memerintah di wilayah Bumi Kadiri.


Belum lagi di Kakawin Bharatayudha yang diubah pada masa Sri Jayabhaya di pupuh 52 yang menyebutkan bahwa Bhatara Haji Jayabaya bertahta di Daha yang kemudian mengeluarkan prasasti Hantang. Yang memaparkan tentang Ibu Kota Daha. Atas dasar itulah dia juga meluruskan tentang penulisan transkiripsi dalam prasasti mengenai Jayabhaya. “Penulisannya bukan Joyoboyo,” koreksinya.


Dan yang paling urgen adalah pengubahan nama Kadiri menjadi Kediri. Satu huruf bisa berbeda makna. Kadiri bermakna tanah subur atau mandiri atau menyamai makna Panjalu. Sedangkan Kediri bisa dimaknai orang-orang yang mandul atau wandu alias banci. “Bedanya satu huruf tapi maknanya bisa berubah 180 derajat,” papar pria yang juga Ketua PASAK Kediri sekaligus penggiat budaya Kemendikbud Ristek di Wilayah Kediri.(rq/fud/bersambung)   


 

Editor : adi nugroho
#radar kediri #berita terkini #budaya #jalan dhoho #kediri #info kediri #kebudayaan #info terkini #berita kediri