Dinobatkan Galuh Kota Kediri 2018 Ima Fita Nanda tak henti berkiprah. Ia kini merintis bisnis sendiri. Sebelumnya, Ima sempat terkendala ketika melamar kerja di perusahaan. Sebab banyak usaha terdampak pandemi Covid-19.
Lulus dari Universitas Brawijaya (UB) Malang pada 2019, Ima Fita Nanda berupaya mandiri. Gadis asal Kelurahan Setonopande, Kecamatan Kota Kediri ini lantas membuka usaha clothing line setahun kemudian. Ketika itu masa pandemi Covid-19 tengah melanda.
Ima memang tak ingin berpangku tangan. Kendati peluangnya bekerja di perusahaan tertutup lantaran pagebluk itu. Sebagai lulusan jurusan bisnis internasional, ia tidak mau menyerah begitu saja dengan situasi pandemi.
“Mau bagaimana lagi, tidak ada rekrutmen. Perusahaan juga banyak yang tutup dan PHK (pemutusan hubungan kerja, Red),” kenangnya.
Dari situasi itu, Ima lalu membuka beberapa bisnis yang menurutnya dekat dengan kegiatannya sejak kecil. Agaknya, bungsu dua bersaudara ini mengikuti jejak orang tua (ortu)-nya yang sudah lama menjadi pedagang dan punya usaha fotokopi.
Sejak kecil Ima sering membantu berjualan buku tulis milik ortunya, bakat itu terasah hingga ia beranjak dewasa. “Dulu dapat untung Rp 500 dari jualan buku sudah senang,” ucapnya.
Tidak jauh dari dunia bisnis orang tuanya, Ima lantas mengembangkan usaha digital printing yang lebih modern. Kegiatan itu sudah ditekuni sejak 2019 lalu.
Tidak hanya mandek di satu bisnis, perempuan rambut panjang ini lalu mencoba usaha lain tanpa harus meninggalkan usaha lamanya. Dia lantas mencari kegiatan yang bisa dijadikan cuan (uang) tapi harus lekat dengan dirinya.
Idenya muncul ketika kuliah banyak teman-temannya bertanya tentang baju yang dikenakannya. “Kalau teman-teman itu biasa beli baju monokrom, hitam, putih atau abu-abu. Sedangkan saya suka full color,” ungkapnya.
Ima memesan dan menjahit sendiri pakaiannya. Sehingga bisa disesuaikan dengan postur tubuh. Dari situlah, ia lalu berupaya memasarkan produknya yang full color ke pasar.
Ima memanfaatkan akun media sosial pribadinya untuk memasarkan produk clothing-nya. Tak dinyana, banyak yang tertarik. Mungkin karena produk yang dia keluarkan tidak perlu mengeluarkan budget tinggi.
Satu produk dibanderol di bawah Rp 100 ribu. “Semuanya pakaian perempuan,” aku Galuh 2018 yang sebentar lagi akan menyerahkan predikat Galuh Kota Kediri ke generasi penerus 2022 ini.
Produknya pun diminati teman-temannya yang kini berada di Jerman yang membuka factory outltet (FO). “Ongkos kirimnya lebih mahal sampai Rp 4 juta, tapi itu mereka sanggupi karena suka dengan produknya,” ujarnya.
Hingga saat ini, dia terus mengembangkan produknya termasuk mengembangkan usaha suvenir. Bagi Ima, pengalamannya menjadi Galuh 2018 sangat membantu mengembangkan binis.
Selain meningkatkan kepercayaan diri, melatih public speaking, predikat Galuh juga bisa memberi warna setiap langkahnya. Usaha apapun yang dia lakukan pada akhirnya untuk mengembangkan Kota Kediri. Selama ini, dia selalu mempopulerkan produk seperti kuliner hingga wisata ke banyak daerah.(rq/ndr)
Editor : adi nugroho