Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ornamen Mirip, Ada Kedekatan Mbah Wasil dan Sunan Drajat

adi nugroho • Selasa, 4 Januari 2022 | 21:04 WIB
ornamen-mirip-ada-kedekatan-mbah-wasil-dan-sunan-drajat
ornamen-mirip-ada-kedekatan-mbah-wasil-dan-sunan-drajat




 



Makam Syekh Al Wasil Syamsudin tak hanya lekat dengan Jalan Dhoho. Penyebar Islam di Kediri itu juga punya keterkaitan dengan Sunan Drajat di Lamongan. Tengaranya, arsitektur dan



 



Dari arsitektur bangunannya, makam yang berada di Kelurahan Setonogedong, Kecamatan Kota itu punya kesamaan dengan makan Sunan Drajat di Lamongan.



 



Kisah tentang penyebar Islam di Kediri, Syekh Al Wasil Syamsudin, berkembang kuat di masyarakat. Namun, tidak hanya satu versi saja, banyak ragam kisah dari ulama yang juga dikenal sebagai waliyullah itu. Namun, semua kisah itu memiliki benang merah kuat. Bahwa Mbah Wasil, demikian kiai ternama ini biasa disebut, adalah tokoh utama dalam penyebaran agama Islam di wilayah Kediri.



Bahkan, banyak hal yang juga mengaitkan antara Mbah Wasil dengan penyebar Islam lain. Terutama dengan kumpulan ulama-ulama Walisanga. Keberadaan Mbah Wasil punya hubungan dengan Sunan Drajat yang makamnya berada di Lamongan.



Rektor Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri Zainal Afandi yang setuju dengan teori ini. Dia berargumen, kedekatan itu tergambar dari bentuk bangunan makam Mbah Wasil dengan Sunan Drajat di Lamongan yang punya kesamaan.



“Terutama seni hiasnya,” kata Zainal.



Menurutnya, kesamaan lahir bukan tanpa ada jejak sejarah. Ia meyakini, keterikatan itu muncul karena Sunan Drajat saat melakukan penyebaran agama Islam di Lamongan menikahi putri Adipati Kediri bernama Renayu (Retno Ayu) Candra Sekar. Dasar itulah yang membuat zainal yakin mengapa ada kesamaan ornamen dan arsitektur pada bangunan makam Mbah Wasil dan Sunan Drajat.



Narasi seperti itulah yang diperlukan Pemkot Kediri untuk menunjang wawasan pengunjung. Jika semua tempat bersejarah sudah dinarasikan maka orang dari luar daerah akan mudah memahami peristiwa masa lampau, khususnya di Jalan Dhoho. 



“Jalan Dhoho bisa dikembangkan sebagai pusat budaya Kediri bermutu tinggi,” tandasnya.



Apalagi secara kesejarahannya Jalan Dhoho sudah melintasi berbagai zaman. Mulai dari zaman Hindu-Budha, Islam, Kolonial Belanda, hingga sekarang, era modern.



Untuk menghidupkan peradaban berbudaya tinggi, jejak sejarah yang ada di kawasan Jalan Dhoho perlu pula direkonstruksi. Baginya, rekonstruksi itu perlu kerja keras. Apalagi sekarang sudah tertanam dengan kedalaman hingga enam meter. Karena itu, kegiatan itu nantinya akan melibatkan banyak pihak termasuk sejarawan serta arkeolog. Bagi Zainal, paling penting saat ini adalah komitmen bersama.



Ia melihat, semua orang sepakat Jalan Dhoho selama ini sudah menjadi pusat ekonomi di Kota Kediri. Banyak warga Kota Kediri yang bersandar dari keramaian Jalan Dhoho. Mulai dari penjual jamu keliling hingga kuliner saat malam hari. 



Selain ekonomi, jejak sejarah hingga peradaban budaya masa lalu juga diyakini bersama masih sangat lengkap. Karena sudah ada kesepahaman bersama maka yang perlu dilakukan sekarang adalah pengembangannya. Dia pun sepakat untuk menumbuhkan peradaban Kota Kediri bermutu tinggi di Jalan Dhoho.(rq/fud/bersambung)



Editor : adi nugroho
#kediri